“Bekerja keras adalah hal yang baik. Namun, ketika keinginan untuk terus produktif membuat kita mengabaikan kesehatan, waktu istirahat, hingga hubungan dengan orang-orang terdekat, saat itulah produktivitas berubah menjadi sesuatu yang berbahaya.”
Oleh : Aulianita Nurwidya, Team Leader LPPI
DI era digital saat ini, produktivitas sering kali menjadi tolok ukur keberhasilan seseorang. Semakin sibuk, semakin banyak pekerjaan yang diselesaikan, dan semakin tinggi pencapaian yang diraih, sering kali dianggap sebagai indikator bahwa seseorang berhasil. Tidak heran jika banyak orang berlomba-lomba untuk terus produktif tanpa menyadari bahwa di balik semangat tersebut tersimpan risiko yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan fisik maupun mental.
Pernahkah kalian merasa bersalah ketika sedang beristirahat? Atau tanpa sadar membuka media sosial, melihat pencapaian dan aktivitas orang lain, lalu mulai membandingkan diri sendiri hingga muncul perasaan insecure? Akibatnya, kalian terdorong untuk bekerja lebih keras, mengambil lebih banyak pekerjaan, bahkan memaksakan diri melampaui batas kemampuan hanya agar merasa tidak tertinggal.
Di sisi lain, mungkin kalian juga pernah mengalami kondisi ketika tubuh terasa lelah sejak pagi hari, padahal waktu tidur dan istirahat sudah cukup. Jika kondisi seperti ini sering terjadi, bisa jadi kalian sedang mengalami toxic productivity.
Fenomena ini semakin sering dijumpai, terutama di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi. Kesadaran untuk menjadi pribadi yang produktif memang merupakan sesuatu yang positif. Ketika semakin banyak orang memiliki semangat untuk berkembang, berkarya, dan memberikan kontribusi terbaik, tentu hal tersebut akan melahirkan lebih banyak individu yang mampu menghasilkan karya serta prestasi yang membanggakan, baik di tingkat organisasi, nasional, maupun internasional.
Namun, produktivitas juga memiliki sisi lain yang perlu diwaspadai. Ibarat sebuah mata pisau yang memiliki dua sisi, produktivitas dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat, tetapi juga dapat berubah menjadi tekanan apabila dilakukan secara berlebihan.
Keinginan untuk terus bekerja tanpa mengenal batas sering kali membuat seseorang kehilangan keseimbangan hidup. Waktu untuk diri sendiri mulai terabaikan, kesehatan fisik dan mental tidak lagi menjadi prioritas, bahkan hubungan dengan keluarga maupun orang-orang terdekat perlahan mulai terganggu. Ketika kondisi tersebut terjadi, produktivitas tidak lagi menjadi sesuatu yang menyehatkan, melainkan berubah menjadi beban yang justru menguras energi. Kondisi inilah yang dikenal sebagai toxic productivity.
Selanjutnya, kita akan membahas tiga hal penting mengenai toxic productivity. Pertama, memahami apa yang dimaksud dengan toxic productivity. Kedua, mengenali berbagai dampak yang ditimbulkannya terhadap kehidupan maupun pekerjaan. Ketiga, mengetahui langkah-langkah yang dapat dilakukan agar tetap produktif tanpa harus mengorbankan kesehatan dan keseimbangan hidup.
Apa Itu Toxic Productivity?
Secara sederhana, istilah toxic productivity berasal dari dua kata dalam bahasa Inggris, yaitu toxic yang berarti racun atau sesuatu yang berbahaya, dan productivity yang berarti aktivitas yang produktif. Dengan demikian, toxic productivity dapat diartikan sebagai kondisi ketika seseorang terus berusaha untuk produktif dan mencapai target tertentu, tetapi dilakukan secara berlebihan hingga memberikan dampak negatif bagi dirinya sendiri.
Pada dasarnya, memiliki target dan tujuan dalam bekerja bukanlah sesuatu yang salah. Justru hal tersebut diperlukan agar seseorang memiliki arah yang jelas dalam mencapai keberhasilan. Namun, ketika dorongan untuk terus menghasilkan sesuatu dilakukan tanpa memperhatikan kondisi fisik maupun mental, produktivitas yang semula menjadi kekuatan dapat berubah menjadi tekanan. Akibatnya, tubuh dipaksa terus bekerja meskipun sudah kelelahan dan pikiran tidak pernah benar-benar beristirahat. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut bukan hanya mempengaruhi kesehatan diri sendiri, tetapi juga berdampak pada lingkungan sekitar, baik keluarga, rekan kerja, maupun orang-orang yang berinteraksi setiap hari.
Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh para ahli. Salah satunya adalah Edi Covers, seorang psikolog dari London yang mendefinisikan bahwa toxic productivity adalah tindakan yang memiliki tujuan untuk mendapatkan rasa puas atas pencapaian pribadi, yang bahkan dilakukan saat sebenarnya kita sudah tidak mampu.
Dari definisi tersebut, terdapat dua kata kunci yang menjadi ciri utama toxic productivity. Pertama adalah unsur paksaan, dimana seseorang tetap memaksakan diri untuk terus bekerja meskipun kondisi tubuh maupun pikirannya sudah tidak lagi mendukung. Kedua adalah kepuasan pribadi yang tidak memiliki batas yang jelas. Berapa pun pencapaian yang telah diraih, seseorang tetap merasa kurang. Target yang berhasil dicapai justru segera digantikan oleh target berikutnya tanpa pernah memberikan ruang untuk menghargai proses maupun hasil yang telah diperoleh.
Inilah yang membedakan produktivitas yang sehat dengan toxic productivity. Produktivitas yang sehat mendorong seseorang untuk berkembang sambil tetap menjaga keseimbangan hidup. Sebaliknya, toxic productivity membuat seseorang terus mengejar pencapaian tanpa pernah merasa cukup, hingga akhirnya mengorbankan kesehatan, hubungan sosial, dan kualitas hidupnya sendiri.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dan informasi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong munculnya toxic productivity. Kemudahan mengakses media sosial membuat kita dapat melihat pencapaian orang lain kapan saja dan di mana saja. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut memicu kecenderungan untuk terus membandingkan diri dengan orang lain. Di sisi lain, budaya kompetitif yang semakin kuat turut memperparah kondisi tersebut. Banyak orang menetapkan standar keberhasilan yang sangat tinggi bagi dirinya sendiri. Mereka merasa harus selalu lebih cepat, lebih baik, dan lebih produktif dibandingkan orang lain. Akibatnya, keberhasilan tidak lagi menjadi sumber rasa syukur, tetapi justru menjadi tekanan untuk terus melakukan lebih banyak lagi.
Ketika dorongan untuk terus berprestasi dipadukan dengan kebiasaan membandingkan diri dan serta ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri, seseorang akan semakin rentan terjebak dalam lingkaran toxic productivity. Dalam kondisi ini, produktivitas tidak lagi menjadi sarana untuk berkembang, melainkan berubah menjadi tekanan yang sulit dikendalikan.
Toxic productivity bukan sekedar kebiasaan bekerja terlalu keras. Lebih dari itu, kondisi ini membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk mengenali batas dirinya sendiri. Dorongan untuk terus menghasilkan sesuatu, mengejar target, dan memenuhi ekspektasi sering kali membuat seseorang lupa bahwa tubuh dan pikiran memiliki kapasitas yang terbatas.
Dampak Toxic Productivity
Ketika kondisi tersebut terus dibiarkan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu yang mengalaminya, tetapi juga memengaruhi kualitas pekerjaan, hubungan sosial, hingga kesehatan secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting untuk memahami berbagai konsekuensi yang dapat muncul akibat toxic productivity.
Dampak pertama yang paling nyata dari toxic productivity adalah terganggunya kesehatan fisik dan mental. Tubuh dan pikiran pada dasarnya memiliki batas kemampuan yang perlu dihargai. Keduanya membutuhkan waktu untuk beristirahat, memulihkan energi, serta memperoleh asupan yang baik, bisa berupa nutrisi bagi tubuh maupun lingkungan dan pola pikir yang positif bagi kesehatan mental.
Sayangnya, seseorang yang terjebak dalam toxic productivity cenderung mengabaikan kebutuhan tersebut. Demi menyelesaikan pekerjaan atau mengejar target, waktu istirahat sering kali dikorbankan. Akibatnya, tubuh dipaksa bekerja melebihi kapasitasnya, sementara pikiran terus dibebani tanpa kesempatan untuk benar-benar beristirahat.
Kondisi ini dapat memicu stres, burnout, menurunnya konsentrasi, hingga berkurangnya kreativitas dalam bekerja. Ironisnya, semakin keras seseorang memaksakan diri untuk tetap produktif, kualitas pekerjaan yang dihasilkan justru cenderung menurun. Dengan kata lain, bekerja lebih lama tidak berarti bekerja lebih baik. Produktivitas yang sesungguhnya tidak hanya diukur dari banyaknya pekerjaan yang diselesaikan, tetapi dari kualitas yang dihasilkan.
Selain berdampak pada kesehatan, toxic productivity juga membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dr. Rela, seorang psikoterapis sekaligus peneliti di University College London Hospital, menjelaskan bahwa toxic productivity membuat seseorang tidak pernah merasa puas terhadap apa yang telah dicapai. Berapa pun target yang berhasil diselesaikan, selalu muncul target berikutnya yang harus segera dikejar.
Misalnya, seseorang memiliki target menyelesaikan empat tahapan pekerjaan. Ketika tiga tahapan pertama telah berhasil diselesaikan, seharusnya ia dapat mengapresiasi proses dan kemajuan yang telah dicapai. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Ia merasa semua itu belum cukup, sehingga terus memaksakan diri untuk menyelesaikan tahap berikutnya tanpa mempertimbangkan kondisi fisik maupun mentalnya. Lama-kelamaan, seseorang tidak lagi bekerja karena ingin menghasilkan karya terbaik, tetapi karena merasa takut tertinggal, takut dianggap kurang produktif, atau merasa bersalah ketika tidak melakukan apa pun. Akibatnya, standar keberhasilan menjadi tidak jelas dan semakin sulit dicapai.
Kondisi ini juga membuat seseorang lebih rentan kehilangan rasa percaya diri. Ketika mengalami kegagalan, melakukan kesalahan, atau sekadar mengambil waktu untuk beristirahat, muncul perasaan bersalah yang berlebihan. Padahal, beristirahat merupakan kebutuhan alami setiap manusia agar dapat kembali bekerja dengan optimal. Jika terus dibiarkan, siklus ini akan berulang dan semakin memperkuat toxic productivity dalam kehidupan sehari-hari.
Bagaimana Cara Keluar dari Toxic Productivity?
Setelah memahami penyebab dan berbagai dampak yang ditimbulkan, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana cara keluar dari siklus toxic productivity. Dengan mengubah cara pandang terhadap produktivitas dan menerapkan kebiasaan yang lebih sehat, kita tetap dapat mencapai target tanpa harus mengorbankan kesehatan maupun keseimbangan hidup.
Berikut beberapa langkah sederhana yang dapat mulai diterapkan.
- Living in the Moment
Langkah pertama yang dapat dilakukan untuk keluar dari siklus toxic productivity adalah belajar untuk living in the moment, yaitu menikmati setiap proses dan menghargai apa yang sedang terjadi saat ini. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, “The future is important, but it is more important to live now, not later.” Artinya, masa depan memang penting untuk dipersiapkan, tetapi menjalani dan memaksimalkan kehidupan saat ini jauh lebih penting. Kita perlu menghargai setiap proses yang sedang dijalani, menikmati setiap pencapaian, serta meluangkan waktu bersama orang-orang yang ada di sekitar kita. Penting untuk menyadari bahwa produktivitas tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras kita bekerja, tetapi juga oleh kondisi fisik dan mental yang kita miliki. Oleh karena itu, memberikan waktu untuk beristirahat, memulihkan energi, dan menikmati setiap proses bukanlah bentuk kemalasan. Sebaliknya, hal tersebut merupakan bagian penting dalam menjaga produktivitas agar tetap sehat, berkualitas, dan berkelanjutan.
- Menentukan Skala Prioritas
Kemampuan otak manusia untuk berpindah fokus dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya sebenarnya memiliki keterbatasan. Di sisi lain, setiap orang hanya memiliki waktu yang sama, yaitu 24 jam dalam sehari. Waktu tersebut tidak hanya digunakan untuk bekerja, tetapi juga untuk beristirahat, makan, memenuhi kebutuhan pribadi, bersosialisasi, serta menjalankan berbagai aktivitas lainnya. Artinya, waktu yang benar-benar dapat digunakan untuk fokus pada pekerjaan sebenarnya tidak sebanyak yang kita bayangkan.
Oleh karena itu, penting untuk menentukan skala prioritas. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah The Power of Three, yaitu menetapkan tiga prioritas utama yang ingin diselesaikan setiap hari. Dengan membatasi fokus pada beberapa pekerjaan yang benar-benar penting dan mendesak, kita dapat bekerja lebih efektif tanpa merasa kewalahan.
Sebagai contoh, dalam lingkungan kerja, kita dapat menetapkan tiga target utama dalam satu hari, seperti menyelesaikan proposal pelatihan yang akan dikirim kepada klien, melakukan pertemuan dengan klien untuk membahas kebutuhan program, serta menindaklanjuti (follow up) proposal yang masih dalam proses negosiasi. Pada hari berikutnya, prioritas dapat bergeser, misalnya menyusun materi presentasi, melakukan koordinasi dengan tim terkait pelaksanaan program, serta menyusun laporan perkembangan pekerjaan. Dengan cara ini, energi dan perhatian tidak terbagi ke terlalu banyak hal dalam satu waktu sehingga setiap pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih fokus dan berkualitas.
Selain menentukan prioritas, kita juga perlu menetapkan batas yang jelas (boundaries) antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Ketika pekerjaan terus dibawa ke dalam waktu bersama keluarga, pasangan, atau teman, keseimbangan hidup akan terganggu. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut justru dapat membawa seseorang kembali terjebak dalam siklus toxic productivity.
- Mendelegasikan Pekerjaan
Tidak sedikit orang yang merasa semua pekerjaan harus diselesaikan sendiri. Ada pula yang enggan meminta bantuan karena khawatir dianggap kurang mampu atau tidak kompeten. Akibatnya, mereka berusaha mengerjakan semuanya sendiri hingga menjadi one man show.
Kondisi seperti ini memang cukup sering dialami, terutama oleh para karyawan muda yang sedang membangun karier. Semangat yang tinggi untuk berprestasi merupakan modal yang baik dalam mencapai keberhasilan. Namun, semangat tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan mengenali batas diri dan memahami bahwa tidak semua pekerjaan harus diselesaikan seorang diri. Ada kalanya kita perlu meminta bantuan kepada orang lain, terutama kepada mereka yang memiliki keahlian atau pengalaman yang lebih sesuai. Demikian pula ketika suatu pekerjaan berada di luar kapasitas atau kompetensi yang kita miliki, mendelegasikannya kepada orang yang tepat justru menjadi keputusan yang lebih bijaksana.
Mendelegasikan pekerjaan bukan berarti melepaskan tanggung jawab, melainkan memastikan bahwa setiap tugas ditangani oleh orang yang paling kompeten sehingga hasil yang diperoleh menjadi lebih optimal. Sebaliknya, memaksakan diri mengerjakan semuanya sendiri justru berpotensi menimbulkan kelelahan, menurunkan kualitas pekerjaan, dan membawa kita kembali terjebak dalam toxic productivity.
Pada akhirnya, produktivitas bukanlah tentang seberapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu hari, melainkan tentang seberapa bijaksana kita mengelola energi, waktu, dan perhatian untuk hal-hal yang benar-benar penting. Menetapkan skala prioritas, menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta tidak ragu meminta bantuan ketika diperlukan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan dalam bekerja.
Menjadi produktif tidak berarti harus selalu sibuk. Pekerjaan yang diselesaikan dengan pikiran yang jernih, tubuh yang sehat, dan mental yang terjaga akan menghasilkan kualitas yang jauh lebih baik dibandingkan sekedar mengejar kuantitas. Produktivitas yang berkelanjutan lahir dari keseimbangan, bukan dari paksaan. Karena sesungguhnya, produktivitas terbaik bukanlah ketika kita mampu bekerja tanpa henti, melainkan ketika kita mampu mencapai tujuan tanpa kehilangan kesehatan, kebahagiaan, dan orang-orang yang berharga di sepanjang perjalanan. ***















