BERITA TERKAIT
Selain perayaan gegap gempita dengan kembang api yang ditingkahi letusan mercon dan suara tiupan terompet, akhir tahun biasanya diisi dengan ritual evaluasi. Momentum jelang pergantian tahun mungkin dianggap sebagai waktu yang pas untuk sejenak melakukan napak tilas, melihat jejak-jejak langkah yang kita tinggalkan, apakah sudah sejalan dengan arah dan tujuan, atau justru bertolak belakang.
Tak heran, evaluasi pun kemudian kondang sebagai aktivitas rutin akhir tahun di segala aspek kehidupan manusia. Pelakunya, bisa individu, institusi, maupun industri. Ruang lingkup yang menjadi materi evaluasi juga beragam, tergantung tujuan evaluasinya. Namun, apapun jenis evaluasinya, spirit yang dibangun relatif sama, yaitu untuk menjadi lebih baik di tahun depan.
Motivasi untuk jadi lebih baik inilah yang melahirkan evaluasi. Tanpa bahan bakar ‘to be better’, bisa dikatakan kegiatan evaluasi adalah sebuah kesia-siaan. Untunglah secara kodrati, semua makhluk normal ciptaan Tuhan yang bernama manusia, telah dianugerahi keinginan untuk jadi lebih baik. Keinginan tersebut kemudian menemukan sarananya lewat evaluasi.
Sayangnya, sering kali wadah yang tujuannya mulia ini tidak berhasil memberikan manfaat optimal. Dalam bahasa yang lebih taktis, evaluasi gagal membuat kita jadi lebih baik. Bahkan, tak jarang pasca evaluasi, kita malah bertambah buruk.
Mengapa evaluasi kerap tidak efektif? Boleh jadi, ini karena kita terperangkap jebakan evaluasi. Paling tidak ada empat jenis jebakan evaluasi yang sering jadi bahaya laten proses upaya perbaikan diri ini, yaitu: evaluasi basa-basi, evaluasi setengah hati, evaluasi untuk menghakimi, dan evaluasi pembenaran diri.
Evaluasi Basa-Basi
Istilah basa-basi dalam khazanah komunikasi sering dikonotasikan sebagai percakapan kurang penting, dilakukan sambil lalu, dan sekadar menjaga sopan-santun. Topik yang dibicarakan juga tidak fokus, bisa apa saja, mulai dari isu yang lagi hangat sampai cuaca bisa jadi bahan. Karenanya, basa-basi tidak butuh persiapan, riset, atau data yang akurat. Toh, tujuan basa-basi memang bukan sesuatu yang serius atau menghasilkan solusi, tetapi sebatas beramah-tamah menyenangkan lawan bicara.
Oleh karena itu, tujuan basa-basi jelas berseberangan dengan evaluasi. Normatifnya, evaluasi bertujuan memberi penilaian objektif terhadap sesuatu hal yang sudah dilaksanakan, dan kemudian menjadikan hasil penilaian tersebut sebagai masukan atau bahan menyusun rencana ke depan, untuk mencapai cita-cita yang diidam-idamkan. Jadi, evaluasi jelas serius dan penting.
Tetapi ketika evaluasi yang dilakukan tanpa persiapan matang, serta tidak didukung data akurat, pada dasarnya sama dengan sebuah basa-basi. Sukar dibayangkan, evaluasi model demikian akan menghasilkan sesuatu yang serius dan solutif. Yang terjadi hanya pemaparan opini minim bukti. Diskusi yang berlangsung juga tidak konstruktif dan solutif, tetapi sebatas debat kusir.
Boleh jadi hal ini karena kita memang sudah kehilangan kepercayaan terhadap efektivitas evaluasi. Alhasil Kita menjalani evaluasi sebatas ‘bersopan santun’ untuk menghormati suatu kegiatan yang mungkin sudah jadi rutinitas atau agenda tahunan kita. Dengan kata lain, kita terpaksa menjalani evaluasi untuk menggugurkan kewajiban saja, meski kita sadar, sebenarnya nyaris tidak ada nilai tambah (value added) yang kita dapat dari proses evaluasi tersebut.
Evaluasi Setengah Hati
Ibarat organ dalam tubuh manusia, hati tidak bisa berdiri sendiri. Meski memiliki fungsi nan penting, hati tetap membutuhkan organ lain untuk mendukung fungsinya. Begitupun evaluasi. Dalam sebuah proses manajemen, evaluasi adalah ‘organ’ penting. Tetapi, sama seperti hati, evaluasi juga butuh ‘organ’ lain agar bisa berfungsi.
Salah satu ‘organ’ terpenting dalam mendukung hidup mati evaluasi adalah eksekusi. Sebagus apapun hasil evaluasi tanpa kita pernah menindaklanjutinya, ia hanya jadi slogan indah tanpa pernah mengubah apa-apa. Segala solusi dari hasil diskusi panjang yang memeras otak dan mungkin juga otot kita, hanya akan berbuah kesia-siaan. Padahal kita sadar, solusi bukan solusi tanpa sebuah eksekusi.
Namun faktanya hasil evaluasi sering terjatuh hanya sebagai rencana di atas kertas tanpa pernah terlaksana. Kita mungkin sudah melakukan evaluasi dengan teramat baik, menguraikan masalah, mendapat umpan balik, menemukan solusi, menetapkan target, menyusun strategi, untuk kemudian, sengaja atau tidak, kita lupakan begitu saja.
Mungkin kita beralasan sulit mengaplikasikannya, terlalu banyak hambatan di lapangan, kurang dukungan atasan, atau beragam argumen lain sebagai pembenaran tindakan kita. Tetapi apapun alasan kita, realitanya evaluasi yang kita lakukan barulah ‘separo hati’ karena kita butuh eksekusi sebagai penyempurnanya. Inilah jebakan evaluasi setengah hati, evaluasi minus eksekusi.
Evaluasi Menghakimi
Jebakan berikutnya yang potensial membuat proses evaluasi tidak efektif adalah terciptanya situasi dua kutub yang berseberangan, yaitu ada pihak yang mengambil peran sebagai pelaku evaluasi dan ada pihak yang terpaksa menjadi objek yang dievaluasi.
Pemosisian bipolar tersebut potensial membawa evaluasi menjadi ajang penghakiman. Pihak yang mengevaluasi bertindak sebagai hakim, sementara pihak dievaluasi jadi terdakwanya. Dalam hirarki hakim – terdakwa ini, posisi pengevaluasi akan selalu berada di atas. Apapun yang disampaikan ‘hakim’ evaluasi terpaksa dianggap benar oleh ‘terdakwa’.
Pola evaluasi menghakimi ini paling rentan terjadi jika pemimpin evaluasi terlalu dominan, memiliki karakter otoriter, serta menonjolkan hirarki jabatan atasan bawahan. Akibatnya, proses evaluasi cenderung berlangsung satu arah.
Padahal, minimnya dialektika dalam sebuah proses evaluasi berisiko menghilangkan unsur-unsur penting yang sebenarnya merupakan pokok suatu evaluasi, seperti adanya umpan balik, munculnya ide-ide kreatif, dan komitmen tulus peserta untuk melaksanakan hasil evaluasi. Ketiadaan unsur-unsur kunci inilah yang mengakibatkan evaluasi penghakiman tidak efektif.
Evaluasi Pembenaran Diri
Evaluasi pada hakikatnya adalah sarana untuk kontemplasi. Evaluasi bukan tempat untuk saling salah-menyalahkan. Tetapi evaluasi juga bukan panggung untuk saling unjuk gigi, siapa yang paling berprestasi. Sayangnya, kita kerap menggunakan wadah evaluasi ini sebatas untuk menunjukkan berbagai keberhasilan yang sudah kita raih, daripada sarana untuk bercermin diri.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan memaparkan keberhasilan jika hal tersebut dimaksudkan sebagai bentuk apresiasi dan motivasi untuk bekerja lebih baik lagi. Namun, yang perlu kita waspadai adalah jika pemaparan tersebut jadi kontraproduktif karena memberi kesan menyombongkan diri atau merendahkan pihak lain.
Menyombongkan diri tidak akan membuat orang lain terkesan, demikian juga dengan merendahkan orang lain hanya akan mengakibatkan orang lain marah. Oleh karenanya, kita perlu memilih kata-kata yang tepat saat mengungkapkan pencapaian agar tidak menimbulkan ketidaksukaan bahkan sampai melukai perasaan orang lain.
Selain itu, berpotensi jatuh dalam terjatuh kampanye tentang deretan prestasi yang sudah ditorehkan sepanjang tahun, evaluasi juga kerap dijadikan ajang pembelaan diri. Ketika target yang telah ditetapkan pada tahun lalu gagal tercapai, kita menggunakan berbagai alasan sebagai pembenaran diri, alih-alih legowo mengakuinya, termasuk mencari kambing hitam dengan cara menyalahkan orang lain, faktor eksternal, dan sebagainya.
Tentu saja masih ada pola jebakan-jebakan evaluasi lain. Namun kalau kita sukses menghindari beberapa jebakan evaluasi yang diuraikan di atas, maka evaluasi yang kita lakukan akan jauh lebih efektif. Tidak lagi ada anggapan evaluasi hanya kegiatan menggugurkan rutinitas tahunan, menghukum pihak yang salah, membesar-besarkan apa yang sudah dicapai, atau merendahkan orang lain. Selamat menjalani evaluasi.
















