• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Rabu, Mei 20, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Finance

Kebijakan Moneter Menunggu Sinyal

oleh Sandy Romualdus
8 Desember 2014 - 00:00
6
Dilihat
Kebijakan Moneter Menunggu Sinyal
0
Bagikan
6
Dilihat

Sejak memasuki awal abad ke-21, Amerika adalah momok bagi perekonomian dunia. Ketika negara perekonomian terbesar di dunia itu berjalan ke arah pertumbuhan maka sebagian besar negara di dunia akan terkena imbasnya. Seperti yang terjadi kini.
Setelah ekonomi AS terjerembab dalam krisis akibat turbulensi dari sektor perumahan, setiap perkembangan di negara itu selalu menjadi isu global. September lalu, pada rapat Komite Pasar Terbuka AS (FOMC), bank sentral AS mulai menyinggung soal exit strategy dari kebijakan yang selama enam tahun terakhir dijalankan.
The Federal Reserve berencana melepas kepemilikan surat-surat berharga yang dibelinya sebagai upaya mengguyur pasar dengan dana miliaran dollar AS. The Fed juga memberikan sinyal akan memperketat kebijakan moneternya dengan cara menaikan suku bunga acuan yang sudah bertahan selama enam tahun di level 0-0,25 persen. Semuanya, besar kemungkinan akan dijalankan paling telat awal tahun depan.
Pertumbuhan ekonomi AS memang sedang bergerak ke arah normal, dan sudah terjadi dalam beberapa bulan belakangan. Dalam sebuah laporan The Fed, yang dikutip dari kantor berita internasional, dari 12 distrik, enam di antaranya mencatat kinerja perekonomian moderat, lima daerah tumbuh dengan kecepatan sedang, dan di Distrik Boston, pertumbuhannya masih bervariasi.
Tingkat pengangguran, indikator utama ekonomi AS, turun ke level terendah dalam enam tahun, yakni 5,9 persen, dan pertumbuhan pekerjaan bergerak solid tahun ini dengan rata-rata penyerapan lapangan kerja mencapai 227 ribu setiap bulan. Namun, masih ada 9,3 juta orang yang secara resmi tercatat sebagai pengangguran.
Dinamika kebijakan moneter di AS hampir selalu berdampak pada sejumlah mata uang utama di dunia. Di Indonesia, kondisi tersebut, tak pelak membuat aliran dana-dana investor mancanegara mulai berubah arah, alias berbalik kembali ke AS. Bulan lalu saja, hengkangnya dana-dana dari hedge fund dan investor follower membuat nilai tukar rupiah menembus level psikologis Rp12.000 per dollar AS, dan bursa saham selalu fluktuatif.
“Rupiah melemah itu banyak faktor. Dari kondisi perkembangan di luar negeri yang masih masih risk on risk off. Kita melihat AS mempunyai perkembangan yang langsung berdampak pada negara-negara dunia termasuk negara berkembang, seperti Indonesia,” kata Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo.
Agus tak memungkiri rencana The Fed menaikkan tingkat suku bunga acuan akan memberi sentimen negatif kepada pasar di Indonesia. Pelaku pasar global khawatir, ekonomi dunia yang melambat dan kinerja perusahaan internasional yang kurang baik akan memicu arus dana asing keluar dari Indonesia.
Selain faktor eksternal, hal lain yang membuat pelaku pasar banyak melarikan dananya ke luar adalah panasnya suhu politik Indonesia yang belum sepenuhnya mereda. Sementara itu, faktor ekonomi dalam negeri seperti inflasi dan neraca transaksi berjalan juga memberikan pengaruh yang cukup signifikan.
Empat bulan belakangan, suhu politik nasional memang hampir mendidih karena kontestasi pemilihan presiden yang hanya menghadirkan dua calon. Proses yang cukup panjang dan berliku telah membuat investor kebat-kebit mengenai prospek ekonomi Indonesia ke depan. Di tambah lagi, indikator-indikator perekonomian mengalami fluktuasi dengan kecenderungan melemah seperti indeks saham dan nilai tukar. Sementara yang lainnya, seperti inflasi dan juga neraca transaksi berjalan relatif masih berada di tingkat yang kurang menyenangkan.
Namun demikian, pengamat ekonomi dan keuangan Yanuar Rizki tidak sepakat jika pelemahan beberapa indikator ekonomi dan pasar disebabkan oleh faktor politik. Menurut dia, hal itu mutlak disebabkan oleh ekspektasi terhadap kebijakan ekonomi global khususnya bank sentral AS. “Dulu waktu gaduh soal Century (2008), kenapa rupiah malah menguat. Ada yang bilang market sudah dewasa. Jika sekarang karena panasnya pilpres apakah market kembali jadi anak-anak,” kata Yanuar. Menurut dia, penguatan dan pelemahan rupiah lebih dipengaruhi kebijakan global mengenai uang beredar. Jadi, jika saat ini rupiah kembali melemah, memang rupiah tengah dalam proses rebalancing karena terpengaruh perubahan kebijakan yang terjadi di negara-negara maju, khususnya AS. “Faktor politik memang ada pengaruhnya, tetapi bukan itu pemicunya,” kata Yanuar.

Pertumbuhan Tertekan

Atas risiko yang mengintai akibat rencana otoritas Negeri Paman Sam, Bank Dunia kemudian memangkas proyeksi laju pertumbuhan ekonomi global. Bahkan lembaga donor yang kental dengan dominasi kepentingan AS itu juga memprediksi bahwa Indonesia akan menjadi salah satu negara dengan perekonomian paling rentan terhadap penarikan dana asing saat The Fed menaikkan suku bunganya.
Indonesia, hingga saat ini memang masih terbelenggu dengan persoalan defisit transaksi berjalan dan juga utang jangka pendek yang jumlah keduanya mencapai 10 persen dari produk domestik bruto (PDB). Gabungan dari kedua faktor tersebut menjadi 77 persen dari total cadangan devisa negara. Peningkatan level utang perusahaan menyebabkan kenaikan suku bunga dalam waktu cepat menghasilkan likuiditas dan solusi bagi beberapa kreditor di industri yang kapasitas berlebih.
Malahan, pertumbuhan ekonomi nasional bisa jadi makin tertekan ketika pemerintah baru berencana mengabulkan kenaikkan harga bahan bakar minyak. Meski baru wacana, rencana itu diperkirakan hanya tinggal menunggu ketukan palu dari Presiden Joko Widodo yang tengah menghadapi ruang anggaran yang cukup ketat. “Room untuk meningkatkan anggaran nasional cuma tinggal sedikit,” kata Hartadi Agus Sarwono, mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Defisit anggaran pemerintah pusat berada di level 2,21 persen dan defisit anggaran daerah diperkirakan berada di angka 0,3 persen sehingga jika dijumlah angka defisit total adalah sekitar 2,5 persen. Karena total batas defisit yang dibolehkan menurut undang-undang keuangan negara adalah 3 pesen, maka pemerintah baru hanya bisa menarik dana menutup defisit hanya sebesar kurang 0,5 persen, yaitu hanya kurang dari Rp25 triliun.
“Anggaran yang ada sekarang juga belum memperlihatkan program prioritas pemerintahan baru (Jokowi-Jusuf Kalla),” kata Hartadi yang juga menjabat sebagai Advisory Regional IMF Group.
Untuk mengamankan anggaran, pemerintah baru, dinilainya, akan mengincar sumber pembiayaan dalam negeri melalui penerbitan obligasi. Terbukti, Kementerian Keuangan tengah gencar menawarkan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) Seri 11. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri buat perbankan. “Semakin besar sumber pembiayaan dalam negeri maka negara dan bank akan berebutan dana nasabah,” kata Hartadi, yang kini menjadi Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI).
Kondisi demikian tentu akan semakin mempertajam persaingan perburuan dana pihak ketiga dan akan memicu pengetatan likuiditas yang lebih intensif lagi di sektor keuangan nasional. Saat ini saja bank-bank sudah berani menawarkan suku bunga deposito di atas 10 persen. Perang suku bunga pun pecah dan risiko likuiditas bagi perbankan kembali meningkat.
Berbeda dengan Indonesia, yang terjadi di India justru sebaliknya. Dengan dinamika perekonomian global saat ini. Negara berpopulasi terbesar kedua di dunia itu malah berpeluang menjadi negara dengan perekonomian unggul di Asia. Pertumbuhan ekonomi India tercatat berada pada kisaran 5,6 persen tahun ini dan berpotensi terus meningkat hingga 6,4 persen pada tahun depan. Bahkan Bank Dunia mempredikasi, pada tahun berikutnya pertumbuhan ekonomi India akan menyentuh hingga level 7 persen.

Ancaman Krisis

Bank memang lebih concern terhadap risiko likuiditas ketimbang hal lainnya semisal risko kredit atau ancaman merosotnya laba. Karena memang berdasarkan pengalaman selama ini, belum pernah ada peristiwa penyebab bank gulung tikar dipicu risiko kredit atau penurunan laba. Pengalaman sering membuktikan, banyak bank yang tutup karena persoalan likuiditas. Maka dari itu, likuiditas yang mengetat dianggap ancaman serius bagi perekonomian nasional. Beberapa pihak bahkan mendesak untuk segera disahkan Undang-Undang Jaring Pengaman Sektor Keuangan (JPSK) yang sudah dua tahun jalan di tempat.
Tak kurang dari Menteri Keuangan M Chatib Basri (saat ini sudah mantan), yang meminta aturan tersebut diterbitkan segera. Chatib menekankan urgensi kehadiran UU JPSK, terutama mengingat adanya normalisasi kebijakan moneter AS. “Kalau ada guncangan kita bisa mencegah supaya krisis enggak terjadi. Salah satu yang kita butuhkan ya UU JPSK,” kata dia bulan lalu.
Menurutnya, bank sentral AS telah memastikan Fed Fund Rate berada pada 1,375 persen hingga akhir tahun depan dari posisi saat ini yang bertengger di 0,25 persen. Ia memprediksi, kondisi tersebut akan memicu pembalikan dana asing dari emerging market, termasuk Indonesia, kembali ke negara maju seiring dengan perbaikan prospek ekonomi AS.
Padahal, saat ini komposisi investasi asing di Indonesia masih cukup besar. Bahkan, di pasar surat utang komposisi investor asing sempat melampaui 37 persen, tertinggi sepanjang sejarah.
Untuk mengantisipasi krisis, saat ini pemerintah masih berpegangan pada Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) 2008, meski empat tahun setelah itu pemerintah merancang UU JPSK. Aturan JPSK merupakan acuan mekanisme pengamanan sistem keuangan dari kondisi krisis yang mencakup pencegahan dan penanganan krisis. Aturan itu sekaligus menjadi dasar pembentukan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yang beranggotakan Menteri Keuangan sebagai ketua merangkap anggota dan Gubernur Bank Indonesia sebagai anggota. KKSK itulah yang melaksanakan fungsi kebijakan pencegahan dan penanganan krisis.

BERITA TERKAIT

Genjot Inklusi Keuangan Pelajar, Bank Jakarta Kelola Dana Simpanan Rp1,81 Triliun

Pasar Properti On The Track, Penjualan Rumah Second Jadi Penopang Utama

Bank Mandiri Kukuhkan Peran di Ekonomi Kerakyatan, Realisasi KUR Tembus Rp14,54 Triliun hingga April 2026

SBN Internasional Laris, ULN Pemerintah Kuartal I/2026 Tumbuh Melambat 3,8%

Antisipasi Bank Sentral

Banyak pengamat memprediksi bahwa kenaikan bunga acuan AS akan terjadi pada kuartal kedua atau ketiga tahun depan, malah pihak otoritas AS mengatakan, masih terbuka kemungkinan akan lebih cepat dinaikkan. Gubernur, The Federal Reserve Janet Yellen pernah mengatakan di depan kongres, seperti dikutip AFP, The Fed bisa menaikan suku bunga acuan lebih cepat dari perkirakan sebelumnya jika pasar terus mencatatkan perbaikan yang solid. Saat ini angka pengangguran di Amerika Serikat sudah turun 1,5 persen dibandingkan tahun lalu dan berada pada posisi 6,1 persen.
Angka pertumbuhan lapangan kerja pada semester pertama tahun ini, memperlihatkan langkah kuat dibandingkan tahun lalu. Namun demikian, Yellen mengaku masih prihatin dengan bursa tenaga kerja yang menurutnya masih melemah secara signifikan. Saat ini suku bunga acuan (Fed rate) masih berada di level 0,25 persen sejak ditetapkan pada Desember 2008, sebagai upaya untuk mendorong pemulihan ekonomi.
“Jika pasar tenaga kerja terus membaik lebih cepat daripada perkiraan komite sehingga konvergensi lebih cepat menuju tujuan ganda kami, kenaikan suku bunga acuan kemungkinan akan terjadi lebih awal dan lebih cepat dari perkiraan,” kata Yellen.
Sementara itu di Indonesia, Bank Sentral sudah mulai pasang kuda-kuda untuk mengantisipasi dampak terburuk dari kebijakan The Fed menormalisasi perekonomiannya yang dimulai dengan tapering off lalu mengerek bunga acuannya. Gubernur BI, Agus DW Martowardojo mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan tantangan dalam satu tahun ke depan terkait potensi kenaikan Fed Fund Rate. “Sekarang ini suku bunga Fed ada di 0-0,25 persen. Namun, dengan adanya tapering off nanti di 2015, mulai ada bunga meningkat dan akan berdampak juga pada tingkat bunga dunia yang meningkat,” kata dia.
Salah satu persiapan menghadapi perubahan itu adalah dengan semakin meningkatkan koordinasi dengan pemerintah dalam banyak hal. “Jadi BI mempersiapkan diri, bahkan dalam pertemuan koordinasi dengan pemerintah, kami sudah mendiskusikan ini. Secara umum kami sudah mempersiapkan diri dengan baik,” kata Agus.
BI akan melakukan bauran kebijakan moneter, tak hanya mengandalkan kebijakan BI Rate. Bank sentral juga telah mengeluarkan kebijakan selain suku bunga yaitu loan to value, mengetatkan loan to deposit ratio dan menoleransi depresiasi nilai tukar untuk mendorong ekspor dan menekan impor. Selain itu, BI juga memperbaiki transaksi berjalan hingga fundamental ekonomi Indonesia kuat. “BI tetap akan melakukan bauran kebijakan tidak harus suku bunga, namun tidak perlu khawatir, karena BI ketika membuat kebijakan tentu memperhatikan dampak ke semua sektor,” kata Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara.

 
 
 
 
Sebelumnya

Krisis Likuiditas Jadi Concern Banyak Pihak

Selanjutnya

No Debt, No Doubt

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Genjot Inklusi Keuangan Pelajar, Bank Jakarta Kelola Dana Simpanan Rp1,81 Triliun

Genjot Inklusi Keuangan Pelajar, Bank Jakarta Kelola Dana Simpanan Rp1,81 Triliun

oleh Sandy Romualdus
19 Mei 2026 - 19:49

Stabilitas.id — Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) DKI Jakarta 2026 yang diorkestrasi oleh Bank Jakarta bersama Otoritas Jasa Keuangan...

Bank Mandiri Kukuhkan Peran di Ekonomi Kerakyatan, Realisasi KUR Tembus Rp14,54 Triliun hingga April 2026

Bank Mandiri Kukuhkan Peran di Ekonomi Kerakyatan, Realisasi KUR Tembus Rp14,54 Triliun hingga April 2026

oleh Sandy Romualdus
19 Mei 2026 - 16:34

Stabilitas.id - Bank Mandiri memperkuat komitmennya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat...

Survei BI: Kenaikan Harga Bahan Baku Bakal Dongkrak Inflasi Ritel Per Juni 2026

Kredit Mobil Listrik Melejit 70%, BI Siapkan Insentif GWM 1% untuk Bank Pelopor Hijau

oleh Stella Gracia
19 Mei 2026 - 10:58

Stabilitas.id — Otoritas moneter dan fiskal memperkuat fondasi arsitektur keuangan berkelanjutan (sustainable finance) tanah air demi memitigasi dampak risiko perubahan...

Siasat Garap Financial Goals 2026 Lewat Diversifikasi Lintas Negara dan Mata Uang

Siasat Garap Financial Goals 2026 Lewat Diversifikasi Lintas Negara dan Mata Uang

oleh Stella Gracia
19 Mei 2026 - 10:29

Stabilitas.id — Menghadapi volatilitas pasar modal global pertengahan tahun ini, para pelaku pasar diimbau untuk beralih ke strategi investasi yang...

Waspada Modus Penipuan! BRI Tegaskan Pengajuan KUR Tidak Ditawarkan Secara Online

Waspada Modus Penipuan! BRI Tegaskan Pengajuan KUR Tidak Ditawarkan Secara Online

oleh Sandy Romualdus
18 Mei 2026 - 17:50

Stabilitas.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menegaskan bahwa seluruh proses pengajuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI tidak pernah...

Keamanan Siber Kini Jadi Strategi Pertumbuhan Bank, Bukan Opsi

Keamanan Siber Kini Jadi Strategi Pertumbuhan Bank, Bukan Opsi

oleh Stella Gracia
18 Mei 2026 - 10:03

Stabilitas.id – Lintasarta bersama Perhimpunan Bank Nasional (PERBANAS) menyerukan pentingnya transformasi keamanan siber dari sekadar fungsi pendukung menjadi strategi inti...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Romy Wijayanto Resmi Terpilih Jadi Direktur Utama Bankaltimtara 2026-2030

    Romy Wijayanto Resmi Terpilih Jadi Direktur Utama Bankaltimtara 2026-2030

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • RUPS Lippo Karawaci: Indra Yuwana Jabat Presiden Direktur, Bamsoet Masuk Jajaran Komisaris

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Manajemen Kinerja Kualitatif vs Kuantitatif

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • RUPST Bank Jateng Angkat Bambang Widiyatmoko Jadi Dirut, Adnas Jabat Komut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasar Properti On The Track, Penjualan Rumah Second Jadi Penopang Utama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari AO Jadi Dirut, Kindaris Resmi Pimpin PNM Gantikan Arief Mulyadi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Resmi Berlaku! PMK 23/2026: Aturan Baru Penagihan hingga Pelunasan Piutang Negara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Genjot Inklusi Keuangan Pelajar, Bank Jakarta Kelola Dana Simpanan Rp1,81 Triliun

Pasar Properti On The Track, Penjualan Rumah Second Jadi Penopang Utama

Bank Mandiri Kukuhkan Peran di Ekonomi Kerakyatan, Realisasi KUR Tembus Rp14,54 Triliun hingga April 2026

SBN Internasional Laris, ULN Pemerintah Kuartal I/2026 Tumbuh Melambat 3,8%

Kredit Mobil Listrik Melejit 70%, BI Siapkan Insentif GWM 1% untuk Bank Pelopor Hijau

Rasio Uang Palsu Turun Jadi 4 Lembar per Sejuta, BI Musnahkan 466.535 Lembar Rupiah Tiruan

Inflasi April Terkendali 2,42%, BI Beberkan Strategi 4K Lewat Peluncuran GPIPS 2026

Survei BI: Kenaikan Harga Bahan Baku Bakal Dongkrak Inflasi Ritel Per Juni 2026

Siasat Garap Financial Goals 2026 Lewat Diversifikasi Lintas Negara dan Mata Uang

STABILITAS CHANNEL

Selanjutnya
Perkuat Bisnis, Mandiri Tambah Jaringan Prioritas

Perkuat Bisnis, Mandiri Tambah Jaringan Prioritas

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance