Tak ada sesuatu yang bisa diraih dalam satu malam. Pun demikian halnya ketika PT (Persero) Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) berhasil membalikan kondisi keuangannya dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Lima tahun ke belakang tidak ada orang yang menyangka bahwa perusahaan yang fokus dalam penjaminan kredit ini bisa mencetak laba yang menembus Rp1 triliun. Namun faktanya sepanjang 2015, PT Askrindo mencatat laba setelah pajak sebesar Rp1 triliun atau meningkat 50,16 persen dibanding laba yang dibukukan sepanjang tahun 2014 yang hanya mencapai Rp667,56 miliar.
Hasil kinerja yang sangat baik di sepanjang tahun 2015 ini juga ditopang oleh meningkatnya pendapatan underwriting. Ini menandakan bisnis inti Askrindo juga tumbuh dengan baik. Kontribusi meningkatnya pendapatan underwriting perseroan berasal dari premi dan jasa penjaminan bruto yang naik 16,11 persen, premi asuransi umum naik 2,49 persen dan dari premi reasuransi masuk naik 94,26 persen.
BERITA TERKAIT
Sementara itu, di sepanjang 2015 perseroan juga mencatat adanya peningkatan pada hasil investasi sebesar 28,63 persen dari sebelumnya Rp504,80 miliar di 2014 menjadi Rp649,32 miliar di 2015. Sampai dengan akhir Desember 2015 total aset perseroan juga ikut meningkat, yakni menjadi Rp9,98 triliun dari total aset yang dibukukan hingga akhir 2014 sebesar Rp8,33 triliun.
Turn around sempurna itu tidak dicapai oleh manajemen dalam waktu sekejap karena Askrindo harus bekerja keras dan cerdas untuk membalikkan keadaan dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2011 perusahaan sempat diguncang kasus keuangan yang membuat Kementerian BUMN kala itu langsung merombak direksi Askrindo dan menggantinya dari kalangan profesional.
Saat itu pemerintah menunjuk Antonius Chandra Satya Napitupulu menakhodai Askrindo sejak tahun 2011, bersama tiga direksi baru lainnya. Keputusan itu adalah salah satu faktor penting berjalannya proses perbaikan di perusahaan negara Asuransi Kredit ini.
Manajemen baru mulai membenahi sumber daya manusia (SDM) dan me-recovery aset. Selain itu, pembenahan juga dilakukan terhadap organisasi, operasional, administrasi dan penyempurnaan serta manajemen resiko berbasis teknologi informasi.
Sepanjang tahun 2012-2014, Askrindo berupaya merestrukturisasi aset. Berturut-turut, Askrindo menargetkan perolehan recovery asset sebesar Rp50 miliar, Rp75 miliar, dan Rp100 miliar.
Alhasil, selama periode itu pertumbuhan bisnis perusahaan ini menggembirakan. Laba Askrindo tumbuh rata-rata di atas 20 persen. Bahkan pada tahun 2014, laba Askrindo melonjak 89,43 persen menjadi Rp663 miliar dari sebelumnya Rp350 miliar. Sedangkan aset tumbuh 26,15 persen menjadi Rp8,2 triliun dari Rp6,5 triliun.
Tidak hanya itu, manajemen juga menerapkan strategi transformasi yang terbilang jitu. “Transformasi nilai-nilai budaya dan Tata Kelola Perusahaan telah kami lakukan sejak tahun 2011 Perubahan itu kami lakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan terhadap pola pikir, pola pandang dan pola tindak perusahaan, strategi bisnis, budaya perusahaan maupun perilaku dan kemampuan organisasi agar memicu kinerja Askrindo semakin baik ke depannya,” kata Antonius Chandra.
Sejak beroperasi 6 April 1971, PT Askrindo telah mengecap masa-masa sulit. Perusahaan yang berperan sebagai penanggung atas risiko yang disalurkan perbankan bagi sektor usaha menengah kecil mikro (UMKM) tak urung juga pernah membukukan kerugian.
Tepatnya sekitar periode 1983-1987, Askrindo sempat mengecap kerugian sebesar Rp201,97 juta. Berlanjut pada tahun 1992-1993 perusahaan juga menelan rugi Rp303,90 juta Kerugian perusahaan pelat merah ini terjadi karena banyak kredit usaha kecil mikro yang gagal bayar.
Perluas Bisnis
Akan tetapi ketika perubahan kinerja terjadi, pengalaman masa lalu seperti tidak terasa karena perusahaan kini bisa berdiri tegak dan berlari lebih kencang. Bahkan makin banyak mitra bisnis yang ingin bekerja sama dengan perseroan. Kini, Askrindo telah bekerjasama dengan hampir seluruh bank nasional di seluruh Indonesia. “BPD (Bank Pembangunan Daerah) juga telah bekerjasama dan sebagian BPR (Bank Perkreditan Rakyat). Hanya Bank asing yang masih kami kaji untuk bisa menjaminkan kredit mereka,” kata Anton.
Secara keseluruhan, saat ini terdapat 13 produk Askrindo, meliputi Penjaminan KUR, Asuransi Kredit, Surety Bond, Kontra Bank Garansi, Customs Bond, Asuransi Kredit Perdagangan, Asuransi Kecelakaan Diri, Asuransi Kebakaran, Asuransi Kontraktor, Asuransi Tanggung Gugat, Asuransi pengangkutan, Asuransi Uang dan Asuransi Properti.
Askrindo kini juga tercatat sebagai entitas utama dari konglomerasi keuangan yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebagai entitas utama Askrindo juga memoles kinerja anak usaha yakni PT Reasuransi Nasional Indonesia (Nasional Re), PT Jaminan Pembiayaan Askrindo Syariah (Askrindo Syariah) dan PT Usayasa Utama dengan tambahan modal mencapai Rp225 miliar.
Tak hanya itu, Askrindo juga tengah mengkaji kembali rencana untuk mengakuisisi Asuransi Jiwa. Perusahaan asuransi jiwa yang dincar Askrindo adalah yang masih berskala kecil. Baik itu asuransi jiwa konvensional maupun yang bermain di pasar syariah.
Untuk rencana akuisisi ini sendiri, Antonius mengatakan pihaknya memiliki dana sekitar Rp 200 miliar untuk ekspansi di tahun 2016. Dari dana tersebut akan diprioritaskan untuk rencana membeli asuransi jiwa ini.
Dan di tahun-tahun berikutnya dana untuk ekspansi bisa terus ada. Sehingga sejalan dengan upaya memperbesar anak usaha baru tersebut nantinya. Dengan rencana ini, maka perseroan bisa makin banyak menikmati setoran dari anak usaha. Selama ini kontribusi laba dari PT Reasuransi Nasional Indonesia dan PT Jaminan Pembiayaan Askrindo Syariah disebutnya cukup besar bagi hasil investasi Askrindo.
Setelah mencatatkan prestasi fantastis tahun lalu, tahun 2016 ini Askrindo menargetkan laba sebelum pajak sebesar Rp1,5 triliun, meningkat dari tahun 2015 yang mencapai Rp1,002 triliun. Sedangkan untuk pendapatan premi 2016 ditargetkan mencapai sekitar Rp3,6 triliun atau meningkat 56,52 persen dibandingkan realisasi pendapatan premi tahun 2015 yang mencapai Rp2,3 triliun.
Peningkatan premi 2016 sejalan dengan perkiraan melonjaknya Asuransi Mikro dan pengembangan penjaminan pembiayaan infrastruktur. Menurut Antonius, daya serap usaha mikro dalam beberapa tahun ini terus berjalan baik karena konsumsi domestik yang terus meningkat, serta potensi pengembangan proyek infrastruktur pemerintah. Ia menjelaskan, pendapatan premi sebesar Rp3,6 triliun tersebut, sebanyak Rp2 triliun di antaranya atau sekitar 55 persen berasal dari KUR, sedangkan selebihnya atau sekitar Rp1,6 triliun dari non-KUR.
Pengakuan dan Penghargaan
Di luar target laba dan premi, manajemen Askrindo juga terus melakukan perbaikan dalam Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik. Hasilnya, pada Agustus 2015 Majalah Economics Review dan IPMI International Business School memberikan dua penghargaan kepada PT Askrindo sebagai salah satu perusahaan dengan GCG terbaik.
Dua penghargaan dimaksud, yakni Peringkat I pada kategori Jasa Keuangan (Asuransi) dan menjadi salah satu nominasi dengan kategori Sangat Baik dari total 55 perusahaan yang ikut serta pada acara Indonesia Good Corporate Governance Award 2015. Penghargaan tersebut diberikan setelah melalui penilaian tim Juri dengan mempertimbangkan sejumlah kriteria. Askrindo, sebagai perusahaan penanggung risiko yang memiliki tujuan untuk terus-menerus tumbuh dan berkembang bersama mitra kerja dan UMKM, maka penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance/GCG) menjadi unsur penting, mengingat risiko dan tantangan yang dihadapinya juga semakin meningkat.
Bagi manajemen Askrindo penghargaan tersebut merupakan wujud apresiasi kepada perubahan PT Askrindo. “Transformasi nilai-nilai budaya dan Tata Kelola Perusahaan telah kami lakukan sejak tahun 2011 dan penghargaan ini akan memicu kinerja Askrindo agar menjadi semakin baik ke depannya” tandas Anton.

















