CIMB Niaga meluaskan konservasi bambu di Lombok Tengah, merajut mitigasi bencana dengan ekonomi warga. Konsistensi filantropi lingkungan yang melintasi satu dekade.
—
Di Dusun Gelogor, Desa Pemepek, Lombok Tengah, sebidang tanah kini tak lagi sekadar hamparan lahan kering Nusa Tenggara Barat. Di bawah terik matahari akhir Juni lalu, cangkul-cangkul digali, dan bibit-bibit bambu ditancapkan ke bumi. Ini bukan sekadar seremonial korporasi yang jamak berakhir setelah kilatan kamera jurnalis meredup. Di desa ini, sebuah proyek jangka panjang sedang dipertaruhkan: menyulap kawasan berbasis konservasi menjadi motor baru ekonomi warga melalui konsep Eko-Eduwisata.
Langkah ini digawangi oleh PT Bank CIMB Niaga Tbk. Menggandeng Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) dan Koperasi Syariah Wana Makmur Lestari, bank swasta nasional ini mencoba membuktikan bahwa sektor finansial memiliki tanggung jawab moral yang melampaui angka-angka di neraca laba-rugi.
BERITA TERKAIT
Bagi CIMB Niaga, bambu dipilih bukan tanpa alasan teoretis yang kuat. Tanaman ini adalah sang penyelamat lingkungan yang sunyi. Memiliki sistem perakaran serabut yang rapat dan luas, bambu bertindak layaknya jaring raksasa di dalam tanah—mengikat air, mencegah erosi, dan memitigasi risiko bencana alam yang kerap mengintai wilayah kepulauan seperti NTB.
Konsistensi di Luar Lembar Saham
“Hijau” kerap kali hanya menjadi jargon pemanis dalam laporan Corporate Social Responsibility (CSR) tahunan banyak perusahaan. Namun, apa yang terjadi di Lombok Tengah adalah kelanjutan dari napas panjang yang sudah ditiupkan sejak tahun 2012. Program Konservasi Bambu Berkelanjutan ini telah berjalan selama 14 tahun, sebuah durasi yang membuktikan adanya komitmen yang ajek, bukan sekadar respons terhadap tren pasar green economy.
Hingga pertengahan 2026 ini, catatan di atas kertas menunjukkan angka yang masif: 115.400 batang bambu telah tertanam dan mengakar di berbagai penjuru nusantara. Dari tanah pasundan di Jawa Barat, melintasi Jawa Tengah, menyeberang ke Bali, hingga menancap kokoh di NTT dan NTB.
Direktur Compliance, Corporate Affairs & Legal CIMB Niaga, Fransiska Oei, yang turun langsung ke parit penanaman di Dusun Gelogor, menegaskan bahwa perluasan area tanam ini didesain secara integratif. Korporasi tidak hanya ingin meninggalkan pohon yang tumbuh, tetapi juga sistem sosial-ekonomi yang hidup di sekitarnya.
Dari Konservasi Menuju Eduwisata
Tantangan terbesar dari program lingkungan adalah keberlanjutan pasca-proyek. Sadar akan hal itu, CIMB Niaga dan KEHATI tidak berjalan sendiri. Mereka menempatkan masyarakat lokal—melalui Koperasi Syariah Wana Makmur Lestari yang dipimpin oleh Hardi—sebagai aktor utama, bukan sekadar penonton.
Desa Pemepek kini sedang disiapkan menjadi kawasan Eko-Eduwisata berbasis masyarakat. Di sini, rumpun-rumpun bambu yang ditanam tidak hanya berfungsi secara ekologis sebagai penyerap karbon dan penjaga mata air, tetapi juga menjadi laboratorium alam. Wisatawan dan peneliti nantinya dapat belajar tentang keanekaragaman hayati, sekaligus melihat bagaimana bambu diolah menjadi produk bernilai ekonomi oleh warga desa.
Pola pemberdayaan ini mengaburkan batas antara filantropi dan investasi sosial. Ketika masyarakat merasakan langsung dampak ekonomi dari kelestarian bambu, mereka dengan sendirinya akan menjadi benteng pertama yang menjaga ekosistem tersebut dari kerusakan.
Di tengah riuhnya kampanye global mengenai Environmental, Social, and Governance (ESG), langkah CIMB Niaga di Pemepek memberikan sebuah preseden: bahwa investasi lingkungan yang dilakukan secara konsisten dan berbasis pada kekuatan komunitas, pada akhirnya akan membuahkan proteksi alam sekaligus kesejahteraan yang mandiri. Akar bambu di Lombok Tengah kini telah ditanam, tugas berikutnya adalah memastikan ia terus dirawat hingga merimbun bagi masa depan.***

















