JAKARTA, Stabilitas.id – Ekonomi yang mampu tumbuh impresif hingga 5,44% pada triwulan II 2022 serta inflasi yang terjaga pada level moderat 4,94% per Juli 2022, menjadi landasan perancangan APBN 2023 ke depan.
Di sisi lain, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi global melambat signifikan dari 6,1% di tahun 2021 menjadi 3,2% di tahun 2022 dan 2,9% di tahun 2023.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers Nota Keuangan tanggal 16 Agustus 2022 lalu mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi global saat ini akan melemahkan pemulihan ekonomi yang sedang berjalan sehingga berpotensi terjadinya stagflasi.
BERITA TERKAIT
Untuk itu APBN masih akan mengoptimalkan perannya sebagai shock absorber dalam merespon berbagai tantangan ke depan, yakni kenaikan harga komoditas, menjaga daya beli masyarakat, serta momentum pemulihan ekonomi.
“RAPBN 2023 dengan demikian masih akan memegang peran, pertama menjadi tools untuk mengabsorbsi syok yang mungkin terjadi,” ungkap Menkeu.
RAPBN 2023 didesain senantiasa waspada, antisipatif, dan responsif terhadap berbagai kemungkinan skenario yang bergerak sangat dinamis dan berpotensi menimbulkan gejolak.
Oleh karenanya, kebijakan fiskal 2023 akan berfokus pada lima hal yaitu penguatan kualitas SDM unggul, akselerasi pembangunan infrastruktur pendukung transformasi ekonomi, reformasi birokrasi dan penyederhanaan regulasi, pelaksanaan revitalisasi industri, dan pembangunan dan pengembangan ekonomi hijau.***





.jpg)










