• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Senin, Agustus 10, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Laporan Utama

Berjuang Menaikkan Level Kualitas

oleh Sandy Romualdus
4 Februari 2020 - 17:39
50
Dilihat
Berjuang Menaikkan Level Kualitas
0
Bagikan
50
Dilihat

Oleh Romualdus San Udika

Industri perbankan memang telah banyak berbenah setelah ditimpa krisis ekonomi di dekade akhir 90-an lalu. Salah satu yang paling menjadi perhatian adalah soal penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik.

Kini setelah nyaris dua dekade berlalu, praktik good corporate governance (GCG) di sektor perbankan sudah jauh lebih baik. Bank swasta nasional, sebagai bank dengan jumlah terbanyak tentu menjadi kelompok bank yang selalu menjadi perhatian.

BERITA TERKAIT

Berdasarkan kajian dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) yang meneliti praktik GCG dari 108 bank di Indonesia selama 2007-2018, ditemukan bahwa dalam tiga tahun kondisinya membaik. Meskipun demikian jika ditarik sejak awal penerapan maka tren yang didapatkan adalah memburuk.

Gambaran praktik dari bank-bank swasta nasional dan asing tidak berbeda jauh dari gambaran industri tersebut. Kondisi penerapan GCG yang belum dibanggakan itu bertemu dengan fakta bahwa dibandingkan dengan negara-negara tetangga, penerapan GCG bank nasional masih tertinggal jauh.

“Saat ini yang bisa jadi panutan dalam hal praktik GCG adalah Australia dan Jepang. Namun dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, harus diakui GCG kita masih kalah,” kata Ketua Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), Mas Achmad Daniri.

Menurut dia, kekurangan praktik GCG di Tanah Air adalah komitmen penegakannya di lingkungan terkecil dalam perusahaan. Prinsip-prinsip GCG, lanjut Daniri, harus didetilkan dalam bentuk code of ethics dan code of conduct.

Pengalamannya di Panasonic, ketika kantor pusatnya di Jepang mengirimkan sejumlah aturan mengenai Tata Kelola Perusahaan, dia meminta para bawahannya untuk mengusulkan apa saja yang harus dilakukan berkenaan dengan hal itu. Kemudian dilakukan forum group discussion, sebelum akhirnya diimplementasikan dalam perusahaan.

“Itu semua untuk mendapatkan ownership dari karyawan terhadap peraturan baru, kalau mereka merasa memilik aturan itu maka mereka akan mematuhinya tanpa terlalu ada paksaan,” jelas Daniri.

Di Indonesia sambung dia, yang perlu ditekankan pada perusahaan agar penerapan GCG menjadi efektif adalah ethics, governance dan law enforcement.

Praktik GCG industri perbankan nasional yang masih lemah juga diakui oleh Sigit Pramono. Bankir senior yang kini menjadi Ketua Indonesia Institute for Corporate Directorship, mengatakan Indonesia hanya memiliki lima perusahaan yang sudah masuk dalam kategori baik dalam penerapan GCG. Adapun, tiga di antaranya adalah bank papan atas.

Sementara itu, bank lainnya masih dalam tahap implementasi menengah. Bahkan, banyak juga di antara pelaku industri perbankan tersebut yang mengaku masih belum patuh dalam penerapan prinsip GCG. “GCG perbankan Tanah Air memang masih sangat perlu ditingkatkan. Kita masih tertinggal sangat jauh dari negara-negara lain, bahkan dari negara tetangga,” kata dia.

Adapun, Sigit memaparkan, dari 50 perusahaan terbuka yang GCG bagus di ASEAN 2017, Malaysia menempatkan 14 perusahaan, Singapura menempatkan 12 perusahaan, Thailand menempatkan 11 perusahaan, Filipina menempatkan 9, sedangkan Indonesia hanya 4 perusahaan.

Hasil Kajian

Berdasarkan kajian LPPI mengenai penerapan GCG di industri perbankan 2007-2018, terlihat pada kelompok bank swasta nasional hasilnya cukup menyebar. Dari 70 bank yang diteliti nilai komposit menyebar dari 1 hingga 2,67.

Skor 1 adalah nilai tertinggi di industri yang berarti SANGAT BAIK yang dipegang oleh Bank BCA. Sementara skor 2,67 yang berarti dalam kisaran CUKUP didapat oleh Bank Ganesha. (selengkapnya lihat: Praktik GCG: Masih dalam Tren Pemburukan).

Jika dibedah lebih lanjut lagi maka ada enam bank yang berpredikat SANGAT BAIK, 59 bank berpredikat BAIK, dan lima bank berpredikat CUKUP. “Dibandingkan rata-rata seluruh bank swasta terdapat 30 bank berada di bawah rata-rata dan 42 bank berada di atas rata-rata. Sementara dibandingkan rata-rata industri terdapat 46 bank berada di bawah rata-rata industri dan 26 bank berada atas rata-rata,” kata riset itu.

Bank-bank swasta jika dilhat secara size, tersebar di BUKU 1 hingga BUKU 4. Menurut riset yang sama dari indikator pembentuk nilai GCG, pada kelompok BUKU 1 faktor rencana strategis (no.11) dan juga faktor benturan kepentingan (no.4) menjadi hal yang paling berpengaruh dalam penerapan GCG di bank.

Pada bank BUKU 2, yang paling signifikan mempengaruh penerapan GCG di bank adalah faktor audit eksternal (7) dan faktor pelaksanaan tugas komite (3). Sementara di bank BUKU 3 yang paling bepengaruh adalah faktor manajemen risiko (8) dan faktor pelaksanaan tugas komite (3). Dan pada bank BUKU 4 yang paling dominan mempengaruhi penerapan GCG-nya adalah faktor pelaksanaan tugas komisaris (2) dan faktor benturan kepentingan (4).

Kemudian berdasarkan kajian yang sama, kelompok bank yang dimiliki investor asing yang beroperasi di Tanah Air, rata-rata memiliki peringkat komposit BAIK, dan nilai tersebut lebih baik dari rata-rata industri. Adapun bank asing yang diteliti dalam kajian ini berjumlah lima bank yang mana dua bank berada di bawah rata-rata sedangkan sisanya di atas rata-rata.

Secara umum memang nilai komposit rata-rata seluruh bank asing masih sedikit lebih baik dibanding bank swasta terutama pada 2018. Bank asing mencatatkan nilai rata-rata 1,90 sedangkan bank swasta berada di tingkat 1,96.

Meski demikian bukan berarti bisa disimpulkan kalau bank-bank swasta memiliki kinerja lebih buruk dibandingkan bank asing. Menurut Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja, kinerja bank asing di dalam negeri masih kalah dengan bank-bank nasional.

Bahkan jika dihitung sejak 1998, kinerja bank-bank asing tidak terlalu spektakuler. Hanya segelintir saja bank asing yang sukses berkiprah di dalam negeri. Bank yang masuk kategori swasta namun dikuasai asing pun masih belum mampu menggeser BCA yang masih menjadi yang terbaik baik dari sisi kinerja keuangan dan rapor GCG.

“Bank-bank asing harus mengetahui budaya dan bagaimana memperlakukan nasabah di Tanah Air karena pengenalan akan nasabah sangat penting. Karena itu, bank lokal bisa menjadi kuat karena kemampuan yang jauh lebih kuat dalam tata kelola, terutama dalam mengelola hubungan dengan nasabah,” kata Jahja.

Dengan mengetahui budaya, perlakuan, dan mampu memiliki hubungan yang baik dengan nasabah dalam negeri, akan berdampak positif untuk penyaluran pinjaman, pendanaan, maupun sistem pembayaran bank tersebut. “Kalau cuma modal teknik perbankan, tidak masuk, tidak laku, tapi harus lebih dari itu,” pungkas Jahja.

Kepala Riset LPPI Lando Simatupang menjelaskan, dalam kondisi ekonomi yang belum stabil, bank swasta nasional perlu mengedepanan strategi GCG yang tepat. Sebab di semester pertama tahun lalu misalnya, pertumbuhan kredit yang melambat secara industri membuat kinerja bank swasta dan ‘milik asing’ terganggu. Alhasil, bank yang dimiliki asing harus menggenjot pendapatan nonbunga atau fee based income. agar tetap meraih laba bersih.

Menurut Lando, bank asing sejatinya memiliki peluang mengeruk untung dari fee based income karena mereka memiliki fitur teknologi yang lebih lengkap dibanding bank dalam negeri.

Jika melihat dari sisi volume transaksi fee based income, mungkin masih lebih kecil dibanding bank lokal. Tapi bicara mengenai pertumbuhan, karena bank lokal masih konsolidasi, dan secara fitur layanan dan teknologinya mungkin tak secanggih bank-bank jiran maka dari sisi fee based income bank swasta asing lebih cepat.

“Fee based dalam konteks bank asuransi, devisa, yang notabene mereka ada kompetensi di situ, itu peluangnya,” ujarnya.

 

Tags: bank swasta, #BCA
 
 
 
 
 
Sebelumnya

Memperbaiki Citra yang Tercoreng

Selanjutnya

Membalikkan Ekspektasi yang Melekat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

oleh Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 07:47

Bank BSN mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan kewirausahaan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan Stabilitas.id - Direktur Network...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

oleh Sandy Romualdus
10 Juli 2026 - 12:52

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengevaluasi revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan oleh sekitar 105 bank akibat penyesuaian...

Apresiasi Nasabah Milenial, BNI Syariah Gelar Customer Online Gathering

Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

oleh Sandy Romualdus
21 Mei 2026 - 14:50

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta perbankan pelat merah (Himbara) untuk...

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

oleh Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

oleh Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

Bank Neo Commerce

OJK Cabut Izin Mitra Pemasaran Efek Bank Neo Commerce (BBYB), Ini Alasannya

oleh Sandy Romualdus
27 Maret 2026 - 15:53

Stabilitas.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa pembatalan surat tanda terdaftar kepada PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB)....

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Danamon – Manulife Hadirkan Primajaga100

    Danamon-Manulife Indonesia Rilis Primajaga100

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tekanan Geopolitik Membayangi, Sinergi Fiskal-Moneter Jadi Kunci Stabilitas Sektor Keuangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bidik US$ 1 Miliar, Pemerintah Terbitkan Panda Bonds Berperingkat AAA di Pasar China Hari Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kemenkeu Monitor 490 Daerah Tertekan Fiskal, Siapkan Suntikan Dana Belanja Pegawai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Persaingan Asuransi Makin Ketat, Ini Daftar Market Leaders 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Srikandi di Benteng Finansial: Saat Kepemimpinan Intuisi dan Presisi Menjaga Marwah Otoritas

Dukung Jakarta Hijau, Bank Jakarta Bangun Biodigester Komunal di Rorotan & Rawa Badak

Sokong Pengembangan Talenta Digital, BNI Tautkan Solusi Keuangan dengan Prasetiya Mulya

Bank Jakarta – Persija “United for Jakarta”: Dari Sponsorship Menuju Strategic Partnership

Melandai di Akhir Juli 2026, Ini Deretan Tren Cadangan Devisa Indonesia Sepanjang 2026

Akomodir Penghasilan Sampingan Gen Z, Danantara Rancang Skema KPR Adaptif

Bank Jakarta Perkuat Fondasi Transformasi Berkelanjutan melalui Investasi Talenta Teknologi

Sokong Properti Hijau, Bank Mandiri Serahkan Sertifikat Pengurangan Emisi ke Paramount

Borong Lima Penghargaan di PRIMA Awards 2026, Bank bjb Ungguli Layanan Transaksi Digital

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya
Membalikkan Ekspektasi yang Melekat

Membalikkan Ekspektasi yang Melekat

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance