BANDUNG, Stabilitas – Bank Indonesia mengingatkan bahwa pemulihan ekonomi global belum sesuai dengan harapan. Pemulihan ekonomi global bahkan dinilai berisiko terus melemah, sementara risiko pasar keuangan global mereda. Kondisi itu bisa dilihat dari perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS) sendiri dinilai belum kuat. Terlihat dari indikator sektor riil AS yang belum kuat dan inflasi masih jauh di bawah target.
Solikin M. Juhro , Direktur Departemen Riset dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI) mengatakan, tertahannya pemulihan ekonomi AS didorong oleh masih belum kuatnya konsumsi, melambatnya perbaikan sektor perumahan, lemahnya perbaikan sektor tenaga kerja, dan terkontraksinya sektor manufaktur.
“Ekonomi AS Q4-2015 tumbuh 1,8% (yoy) atau lebih rendah dari estimasi. Untuk keseluruhan tahun 2016, perekonomian AS dikoreksi dari 2,7% menjadi 2,6%,” ungkap Solikin dalam pelatihan wartawan keuangan dan moneter di Trans Luxury Hotel Bandung, Sabtu (20/2).
BERITA TERKAIT
Dia menambahkan, dengan kondisi tersebut mendorong The Fed menjadi lebih dovish. Dalam hal ini, lanjut dia, kenaikan The Fed Fund Rate (FFR) diperkirakan mundur dengan magnitude kenaikan sebesar 50 basis poin (bps), mempertimbangkan prospek ekonomi AS yang belum kuat.
Federal Open Market Commite (FOMC) pada tanggal 27-28 Januari 2016 lalu telah memberi kesimpulan bahwa risiko ekonomi dan pasar keuangan global dapat mempengaruhi perbaikan prospek AS. Bahkan Yelen Keller, Gubernur The Fed, di hadapan Konggres AS pada 10 Februari lalu memberikan pernyataan bahwa The Fed mungkin menunda kenaikan, namun tidak meninggalkan kenaikan FFR.
Sepakat dengan pernyataan The Fed, 73 ekonom yang diwawancarai Bloomberg menegaskan bahwa kenaikan FFR hanya 50 bps pada 2016. Turun dari 75 bps di Januari 2016. Bahkan pasar future di AS sendiri memperkirakan tidak terjadi kenaikan FFR selama 2016.
Lebih lanjut Solikin mengungkapkan bahwa risiko pelemahan pemulihan ekonomi global juga terkait dengan risiko pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang masih besar. Menurut dia, ekonomi Tiongkok masih dalam tren melamat antara lain akibat masih lemahnya sector manufaktur, investasi, yang sejalan dengan proses deleveraging yang dilakukan oleh sektor korporasi.
“Pertumbuhan ekonomi Tiongkok 2016 diperkirakan 6,3%, turun dari 6,9% di 2015. Nah, IMF (International Monetery Fund) mengatakan, di tahun ini penurunan PDB Tiongkok sebesar 1% akan menurunkan ekonomi Indonesia sebesar 0,3%,” pungkas Solikin.
Dari sisi mata uang, risiko pelemahan Yuan masih besar. Solikin mengatakan, Yuan-Remimbi masih berisiko melemah dan volatile mempertimbangkan risiko fundamental serta ketidakpastian kebijakan nilai tukar dan aturan di pasar saham Tiongkok.
“Pasca devaluasi Agustus 2015, mata uang Yuan sudah mendekati level fixing. Tetapi level tersebut masih overvalued tercermin dari spread antara CNY (China Remimbi Yuan) dengan CNH (Trade the Chinas Economy) yang lebar. Kemudian terjadi over-pricing saham di bursa saham Tiongkok,” jelas Solikin.
Adanya risiko tersebut, lanjut Solikin, dapat memicu kembali capital outflows. Intervensi di pasar valas tidak dapat terus ditempuh mengingat posisi cadangan devisa yang hampiri berada di bawh standard metric IMF.
Sementara itu, pergerakan harga komoditas dan energi dunia juga terus berfluktuasi. Harga minyak saja telah jatuh melewati level terendah. Seperti diketahui, harga minyak 2015 turun 47% dibanging 2014. “Kondisi ini berlanjut di awal tahun ini hingga mencapai titik terendah USD26,4/barel,” ungkap Solikin.
Dia menjelaskan, penurunan harga minyak dipengaruhi oleh melimpahnya supply, masih tingginya inventory, dan lemahnya permintaan. Sementara pasokan OPEC akhir 2015 meningkat 32,9 mbpd akibat irak dan Arab Saudi yang pertahankan pangsa pasarnya. “Permintaan turun akibat ekonomi global yang diperkirakan masih lemah,” katanya.

















