Bank Indonesia mencatat PMI-BI kuartal III 2026 naik ke level 52,28 persen dan diproyeksikan menguat ke 52,37 persen pada kuartal IV 2026.
Stabilitas.id – Kinerja lapangan usaha industri pengolahan di Indonesia tercatat meningkat dan konsisten berada pada fase ekspansi pada kuartal III 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat indikator Prompt Manufacturing Index (PMI-BI) mencapai 52,28 persen, lebih tinggi dibandingkan realisasi kuartal II 2026 sebesar 51,43 persen.
Angka indeks di atas ambang batas 50 persen tersebut menegaskan bahwa geliat sektor manufaktur nasional terus melanjutkan tren pertumbuhan yang solid.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menyampaikan bahwa kenaikan PMI-BI didorong oleh ekspansi pada sejumlah komponen utama pembentuk indeks.
BERITA TERKAIT
Komponen yang mencatatkan peningkatan dan kokoh di fase ekspansi meliputi volume persediaan barang jadi, volume produksi, serta volume total pesanan.
Berdasarkan sublapangan usaha, sebagian besar industri manufaktur mencatatkan performa ekspansif. Indeks tertinggi diraih oleh industri barang galian bukan logam, diikuti industri makanan dan minuman, industri logam dasar, industri karet serta barang dari karet dan plastik, hingga industri tekstil dan pakaian jadi.
Penguatan tersebut sejalan dengan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia yang mengindikasikan kegiatan industri pengolahan mencatatkan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 1,53 persen.
Memasuki periode akhir tahun, Bank Indonesia memproyeksikan kinerja industri pengolahan akan semakin meningkat. Hal ini tecermin dari perkiraan PMI-BI kuartal IV 2026 yang diproyeksikan naik tipis ke level 52,37 persen.
Berdasarkan komponen pembentuknya, volume produksi, persediaan barang jadi, dan total pesanan diprakirakan tetap bertahan di zona ekspansi.
Pada kuartal IV 2026, mayoritas subsektor industri diproyeksikan terus bertumbuh, dengan indeks ekspansi tertinggi dipimpin oleh industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, disusul industri barang galian bukan logam, serta industri makanan dan minuman. ***

















