JLL memproyeksikan pasar properti Indonesia bergeser ke arah desentralisasi industri di luar Jakarta, didorong ekspansi pusat data dan infrastruktur logistik.
Stabilitas.id – Perusahaan riset dan manajemen investasi properti global JLL (NYSE: JLL) menilai pasar properti di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, tengah memasuki fase pergeseran strategis. Pertumbuhan sektor properti tidak lagi semata bertumpu pada siklus pasar tradisional di Jakarta, melainkan terdesentralisasi ke koridor-koridor industri baru seiring akselerasi infrastruktur dan transformasi digital.
Perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di sejumlah wilayah seperti Batam, Bali, dan Jabodetabek memicu lonjakan permintaan lintas sektor, mulai dari layanan kesehatan, perkantoran modern, ritel, hingga pusat data (data center).
Di sisi lain, konektivitas transportasi utama seperti fase kedua MRT Jakarta, rencana perpanjangan jaringan kereta cepat, serta operasional Pelabuhan Patimban mempercepat integrasi logistik antarwilayah. Koridor Jawa Tengah—khususnya Batang, Kendal, dan Semarang—tumbuh menjadi simpul manufaktur strategis yang membentuk kutub pertumbuhan industri baru di luar pusat ekonomi lama.
BERITA TERKAIT
Country Head JLL Indonesia Farazia Basarah menjelaskan bahwa dinamika properti saat ini digerakkan oleh transformasi pola aktivitas ekonomi di sektor-sektor baru.
“Jakarta tetap menjadi pusat ekonomi utama Indonesia, namun dalam jangka menengah, peluang yang semakin menarik justru terletak pada bagaimana regulasi pemerintah, pembangunan infrastruktur dan investasi membantu membangun ekosistem ekonomi baru di berbagai wilayah lain di negara ini,” ujar Farazia dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (22/10/2026).
Dalam laporan riset bertajuk Planning for a Multipolar World: Real Estate Strategies Across Southeast Asia in 2026 and Beyond, JLL mengidentifikasi tiga peluang strategis di pasar properti Indonesia:
Pertama, diversifikasi manufaktur dan logistik. Penguatan konektivitas antarkoridor ekonomi memacu ekspansi kawasan industri, platform investasi institusional, serta relokasi pabrik manufaktur multinasional.
Kedua, pusat data dan infrastruktur digital. Masifnya adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), investasi komputasi awan (cloud), dan regulasi lokalisasi data membuka peluang diversifikasi bagi investor untuk membidik aset alternatif digital di lokasi strategis.
Ketiga, optimalisasi dan alih fungsi bangunan (repurposing). Sejumlah gedung perkantoran dan ritel tua di Jakarta menghadapi tekanan perubahan kebutuhan pasar, sehingga membuka peluang konversi fisik bangunan menjadi fungsi baru yang lebih adaptif.
Country CEO & Southeast Asia JLL Michael Glancy menambahkan bahwa dinamika pasar properti kawasan juga diwarnai oleh fenomena migrasi menuju aset berkualitas (flight to quality).
“Sentralisasi dan tren flight to quality masih menjadi bagian dari dinamika pasar, begitu pula upaya meningkatkan kualitas ruang kerja untuk menarik dan mempertahankan talenta. Di sisi lain, pemerintah di berbagai negara Asia Tenggara semakin mendorong agenda-agenda desentralisasi melalui pembangunan infrastruktur dan penyediaan lahan di kawasan perkotaan yang tengah berkembang. Ini merupakan perubahan penting di pasar yang terus kami cermati. Kami juga akan terus bekerja sama dengan pemerintah untuk membantu mengembangkan kawasan yang menjaditarget mereka,” papar Michael.
Sementara itu, Head of Research & Advisory for Southeast Asia JLL Dr. Yang Liang Chua mengingatkan bahwa kendati Indonesia tetap menjadi magnet investasi, pemodal kini menerapkan seleksi yang jauh lebih ketat.
“Sebagai bagian dari ekosistem properti di Asia Tenggara, Indonesia masih menjadi target investor, namun pasar juga menjadi semakin selektif. Ke depan, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh eksposur terhadap kawasan secara luas, tetapi juga oleh kemampuan investor menempatkan modal secara tepat pada koridor, sektor, dan strategi aset yang memiliki prospek terbaik,” tegas Yang Liang. ***

















