Jakarta – Mencermati kondisi perekonomian dunia yang dihadapi Indonesia saat ini, di samping kondisi inflasi akhir tahun yang diprediksi bisa 4 persen saja, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI rate di 6 persen.
Ekonom BNI Ryan Kiryanto menilai langkah BI tersebut tepat agar tidak terjadi arus modal keluar. "Saya kira BI tepat tahan BI rate karena inflasi ke depan cenderung sedikit naik, walaupun hingga akhir tahun 2011 berkisar 4,4 persen. Yang kedua, untuk antisipasi tekanan eksternal terkait krisis Eropa, dan untuk menjaga agar rupiah tidak melemah terhadap dolar AS," jelas Ryan di Jakarta, Kamis (8/12).
Dalam konteks menjaga perekonomian Indonesia dari perlambatan perekonomian dunia, Ryan mengatakan, BI bermaksud menjaga pasar uang domestik tidak bergejolak. "Karena aset-aset dalam rupiah masih memberikan yield yang tinggi dibanding yield di negara-negara lain, khususnya di Asia," lanjutnya.
BERITA TERKAIT
Senada dengan Ryan, pengamat ekonomi Mirza Adityaswara juga menilai bahwa keputusan BI tersebut merupakan langkah yang tepat. "Karena walaupun inflasi 2011 hanya 4 persen, tapi ekspektasi inflasi 2012 masih agak tinggi di 5-6 persen. Nanti kalau ekspektasi inflasi 2012 turun ke 4,5 persen, maka BI rate bisa diturunkan 5,5 persen. Kalau turun terburu-buru malah bisa capital outflow," ungkap Mirza secara terpisah.
Adapun perkiraan inflasi 2012 dan 2013 versi BI merupakan 4,5 persen lebih kurang 1 persen. Sementara sasaran inflasi BI tahun ini merupakan 5 persen lebih kurang 1 persen. Sebelumnya, angka prediksi inflasi tertinggi untuk akhir tahun 4,7 persen. Namun, melihat inflasi November yang 0,34 persen, inflasi year on year 4,15 persen, BI memperkirakan Indeks Harga Konsumen bisa bertahan lebih rendah dari 4 persen.
“Inflasi yang rendah merupakan hasil dari inflasi volatile food yang terjaga, meski inflasi dari harga beras cukup tinggi,” kata Juru Bicara BI Difi A Johansyah di Jakarta, Kamis (8/12). Dia menalnjutkan,”Dewan Gubernur memandang level BI rate saat ini masih konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi ke depan, dan tetap kondusif untuk menjaga stabilitas keuangan serta mengurangi dampak memburuknya prospek ekonomi global terhadap perekonomian Indonesia,"
BI sebelumnya telah menurunkan suku bunga acuan hingga 75 basis poin dalam dua bulan terakhir. Langkah tersebut merupakan antisipasi terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Diharapkan, suku bunga pinjaman bank akan semakin turun sehingga pertumbuhan kredit yang saat ini sehat bisa terjaga
Difi mengatakan, pertumbuhan kredit Oktober 2011 tercatat baik di atas rencana bisnis bank (RBB) yang ditetapkan untuk tahun ini. Petumbuhan kredit mencapai 25,7 persen year on year dengan pertumbuhan kredit investasi 31,1 persen, kredit modal kerja 24,7 persen, dan kredit konsumsi 23,8 persen. Rasio kecukupan modal perbankan masih cukup baik di atas minimum 8 persen.
Untuk pertumbuhan ekonomi, BI masih memperkirakan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi domestik 2012 pada angka 6,3-6,7 persen. "Sebesar 6,4-6,8 persen pada 2013 dengan perkiraan ekonomi global akan membaik," kata Difi.
"Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan momentum penurunan suku bunga untuk mengefektifkan stimulus pada perekonomian. Di samping itu, koordinasi dengan pemerintah terus diperkuat agar stimulus perekonomian dapat juga ditingkatkan dari sisi fiskal dan sektor riil," jelas Difi.
Sementara itu, neraca pembayaran Indonesia (NPI) mencatatkan surplus cukup besar meski mendapat tekanan pada semester kedua. Tekanan tersebut terutama terjadi pada transaksi modal dan finansial sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan dan ekonomi global.
"Cadangan devisa sampai November mencapai US$111,3 miliar atau setara 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah," kata Difi. Jumlah tersebut berkurang dari cadangan devisa Oktober yang US$113,962 miliar. BI memperkirakan akan mencatat devisa sepanjang 2011 menjadi US$116,132 miliar dan akan bertambah menjadi US$133,622 miliar.
"Nilai tukar rupiah sepanjang tahun ini terapresiasi meski ada gejolak pasar keuangan. Berbagai langkah kebijakan BI dan pemerintah dapat membatasi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Selama 2011, tren pergerakan nilai tukar masih konsisten dengan kecenderungan pergerakan nilai tukar di kawasan. BI terus memonitor perkembangan nilai tukar rupiah serta menjaga stabilitasnya dan tetap sejalan dengan fundamentalnya," kata Difi.
















