Stabilitas.id – Generasi Z menghadapi tantangan serius dalam memiliki rumah pertama di tengah kenaikan harga properti, beban biaya hidup, hingga kondisi pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif. Meskipun Gen Z merupakan kelompok usia produktif terbesar dengan porsi sekitar 27,94% dari populasi Indonesia, akses terhadap kepemilikan rumah masih menjadi kendala utama.
Tekanan ekonomi global, mulai dari dampak krisis finansial 2008 hingga pandemi COVID-19, turut memengaruhi stabilitas ekonomi keluarga, daya beli, hingga kemampuan menabung generasi muda.
Kenaikan harga properti menjadi faktor paling dominan. Setelah sempat tertekan pada 2020–2021, harga kembali meningkat pada 2022 hingga 2024. Laju kenaikan ini tidak diimbangi pertumbuhan pendapatan Gen Z. Akibatnya, kesenjangan affordability semakin lebar.
BERITA TERKAIT
Dalam pasar residensial, pembelian rumah melalui KPR masih menjadi opsi paling realistis, tetapi survei menunjukkan sebagian besar generasi muda belum mampu memenuhi kewajiban cicilan. Sekitar 10,49% generasi muda belum sanggup mengakses KPR sebagai skema pembiayaan.
Kemudahan fasilitas pembiayaan digital dan layanan fintech memang memperluas akses kredit. Namun, peningkatan akses pinjaman tidak diikuti literasi finansial yang memadai. Ini berisiko mendorong konsumsi berbasis utang, terutama di sektor non-produktif.
Kemudahan teknologi pada aplikasi belanja, tiket perjalanan, hingga layanan pesan antar berdampak pada gaya hidup urban—transaksional dan impulsif. Jika tidak dibarengi manajemen keuangan, hal ini berpotensi mengalihkan porsi dana yang seharusnya dialokasikan untuk pembelian rumah.
Tantangan lain datang dari pasar tenaga kerja. Persaingan kerja yang tinggi dan perbedaan signifikan antara UMP di beberapa daerah dengan harga properti entry-level menjadikan rumah sulit dijangkau.
Bahkan untuk hunian termurah, nilai UMP di banyak wilayah belum memadai untuk menanggung DP, cicilan, maupun biaya administrasi.
Sebagian Gen Z menempatkan rumah sebagai prioritas jangka panjang. Namun faktor gaya hidup konsumtif, penggunaan layanan kredit jangka pendek, dan orientasi belanja gaya hidup menjadi penghalang dalam membangun kapital awal pembelian rumah.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa hambatan kepemilikan rumah tidak hanya disebabkan faktor pembiayaan semata, tetapi juga kombinasi gaya hidup, preferensi konsumsi, dan prioritas finansial.
Bagaimana Strategi Gen Z untuk Memiliki Rumah Pertama?
Meskipun tantangannya besar, generasi muda memiliki beberapa pendekatan yang dapat membantu:
- Menetapkan target dan rencana tabungan
- Mengalokasikan dana khusus untuk DP dan biaya administrasi
- Mengurangi gaya hidup konsumtif
- Membangun sumber penghasilan tambahan
- Menyelesaikan cicilan dan utang sebelum mulai berinvestasi
Strategi tersebut dapat menjadi langkah awal menuju kepemilikan rumah pribadi maupun tujuan investasi jangka panjang.
Pilihan Bahan Bangunan untuk Hunian
Dalam proses pembangunan, pemilihan material menjadi faktor penting. Salah satu opsi yang dapat digunakan adalah Semen Merah Putih Watershield yang dilengkapi teknologi water-repellent untuk membantu mencegah rembesan air. Untuk kebutuhan konstruksi, Merah Putih Beton juga menyediakan produk beton precast maupun ready-mix.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai solusi material bangunan, pelanggan dapat menghubungi Semen Merah Putih dan Merah Putih Beton. ***





.jpg)










