Stabilitas.id — Di tengah tekanan industri semen nasional yang masih dibayangi utilisasi rendah dan overcapacity struktural, PT Cemindo Gemilang Tbk melalui brand Semen Merah Putih menegaskan keberlanjutan sebagai pilar utama strategi bisnis untuk menjaga kualitas konstruksi sekaligus meningkatkan daya saing jangka panjang.
Dengan tingkat pemanfaatan kapasitas industri semen nasional yang pada 2025 masih berada di kisaran 54 persen dan kondisi overcapacity lebih dari 56 juta ton, Semen Merah Putih memilih pendekatan sistemik. Perusahaan menempatkan praktik berkelanjutan bukan sebagai pelengkap, melainkan fondasi transformasi industri melalui efisiensi energi, optimalisasi proses produksi dan logistik, serta pengembangan portofolio green cement yang selaras dengan arah kebijakan pembangunan nasional.
Commercial & Logistic Director PT Cemindo Gemilang Tbk, Surindro Kalbu Adi, menyampaikan bahwa keberlanjutan telah menjadi bagian dari cara industri bekerja saat ini.
BERITA TERKAIT
“Sustainability kami posisikan sebagai bagian dari cara industri bekerja hari ini, bukan sekadar inisiatif tambahan. Di Semen Merah Putih, praktik sustainability dibangun di atas empat pilar utama, yaitu process, product, people, dan planet. Pendekatan ini memastikan keberlanjutan terintegrasi tanpa mengorbankan kualitas konstruksi,” ujarnya.
Pendekatan tersebut tercermin pada kinerja perusahaan. Di saat industri semen nasional masih menghadapi perlambatan permintaan, Semen Merah Putih mampu mencatat pertumbuhan sekitar 4,2 persen di relevant area sepanjang 2025. Secara nasional, volume penjualan semen domestik tercatat menurun sekitar 1,5 persen sepanjang 2024–2025, dari 64,95 juta ton menjadi 63,85 juta ton, dengan penurunan terjadi di hampir seluruh wilayah seiring melambatnya proyek infrastruktur, termasuk proyek Ibu Kota Nusantara (IKN). Pertumbuhan positif hanya tercatat di kawasan Indonesia Timur.
Efisiensi Energi Perkuat Ketahanan Operasional
Efisiensi energi menjadi fondasi utama transformasi operasional Semen Merah Putih. Saat ini, perusahaan mengoperasikan Waste Heat Recovery System (WHRS) berkapasitas 2 x 15 MW di Indonesia dan 13 MW di Vietnam, yang mampu menyuplai sekitar 24 persen kebutuhan energi produksi klinker serta menurunkan emisi hingga 100 ribu ton CO₂ per tahun.
Sepanjang periode 2016–2024, intensitas emisi karbon perusahaan berhasil ditekan sekitar 21 persen per ton semen, didukung oleh efisiensi energi, optimasi premix yang menurunkan konsumsi energi hingga 3 kWh per ton klinker, serta pemanfaatan bahan baku alternatif seperti fly ash lokal.
Di sisi logistik, upaya dekarbonisasi dilakukan melalui penggunaan 17 unit truk listrik di area tambang dan 23 forklift listrik, yang secara agregat menurunkan emisi sekitar 8.500 ton CO₂ per tahun.
Tak hanya itu, Semen Merah Putih juga mengembangkan inovasi lanjutan berupa MPTree, solusi penyerapan karbon berbasis mikroalga. Teknologi ini telah diuji coba melalui prototipe di pabrik Jatiasih dan direncanakan untuk diperluas ke ruang publik dan kawasan transportasi.
Green Cement Jadi Motor Pertumbuhan Baru
Strategi efisiensi tersebut diterjemahkan langsung ke dalam inovasi produk. Semen Merah Putih mendorong adopsi green cement melalui portofolio seperti FLEXIPLUS, ECOPRO, Semen Patriot, dan Watershield, yang dirancang memiliki jejak karbon lebih rendah tanpa mengorbankan performa konstruksi.
Saat ini, porsi produk non-OPC dalam portofolio Semen Merah Putih telah mencapai 81 persen, melampaui rata-rata industri yang masih berada di kisaran 71 persen. Seluruh produk telah mengantongi sertifikasi Green Label Indonesia (GBCI), dengan mayoritas berada pada peringkat Platinum.
Produk hydraulic cement, termasuk FLEXIPLUS, mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 636,5 persen pada 2025 dan ditargetkan tumbuh 20,7 persen pada 2026, seiring meningkatnya kebutuhan pasar terhadap material konstruksi berkelanjutan.
General Manager Sales & Marketing Semen Merah Putih, Oza Guswara, menilai bahwa transisi menuju material ramah lingkungan kini menjadi kebutuhan industri.“Kami melihat green cement bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Melalui FLEXIPLUS dan ECOPRO, kami menghadirkan solusi berjejak karbon lebih rendah tanpa mengorbankan kualitas dan performa konstruksi,” ujarnya.
Kolaborasi Industri dan Tantangan Pembangunan
Dari sisi kebijakan, Kementerian Perindustrian menilai 2026 sebagai fase krusial transformasi menuju industri hijau yang berdaya saing. Kepala Pusat Industri Hijau Kemenperin, Apit Pria Nugraha, menekankan bahwa transformasi industri hijau harus menghasilkan dampak nyata bagi efisiensi dan daya saing.
“Keberlanjutan tidak boleh mengorbankan daya saing. Inovasi proses dan teknologi yang aplikatif menjadi kunci agar industri hijau mampu mendukung pembangunan nasional,” jelasnya.
Sementara itu, tantangan kualitas pembangunan juga menjadi perhatian sektor perumahan. Kepala Subdirektorat Wilayah I Direktorat Pembangunan Perumahan Perkotaan Kementerian PKP, Adji Krisbandono, menyoroti backlog perumahan perkotaan yang masih signifikan, terutama bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
“Kebutuhan hunian layak di kawasan perkotaan masih sangat besar. Tantangannya bukan hanya kuantitas, tetapi juga kualitas bangunan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Momentum 15 Tahun Cemindo Gemilang
Memasuki usia 15 tahun, Cemindo Gemilang turut memperkuat pilar people melalui pengembangan Mandor Pintar Institute, specifier roadshow, serta program apresiasi bagi karyawan, distributor, retailer, dan komunitas konstruksi.
Menurut Oza, transformasi industri tidak bisa berjalan sendiri. “Keberlanjutan bukan hanya soal teknologi, tetapi membangun ekosistem dan kemitraan jangka panjang. Prinsip bahwa keberlanjutan tidak boleh mengorbankan kualitas kami terapkan secara konsisten dalam setiap inovasi,” pungkasnya. ***






.jpg)










