Stabilitas.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia pada Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 3,08% secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Akselerasi pembentukan harga ini didorong oleh lonjakan harga pada seluruh kelompok pengeluaran, dengan komoditas emas perhiasan dan sektor bahan makanan sebagai motor utama.
Kepala BPS melalui Berita Resmi Statistik No. 52/06/Th. XXIX mengungkapkan bahwa inflasi tahunan tersebut mengerek posisi IHK nasional ke level 111,40, naik dari posisi Mei 2025 yang berada di angka 108,07.
Sementara itu, untuk tingkat inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,28%, dan laju inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) berada di level 1,35%.
BERITA TERKAIT
“Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh meningkatnya seluruh indeks kelompok pengeluaran,” tulis BPS dalam laporan resminya, dikutip Rabu (3/6/2026).
Secara struktural, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatatkan lonjakan inflasi tahunan paling agresif, yakni mencapai 10,35% y-on-y dengan andil inflasi terhadap headline sebesar 0,70%. Di dalam lini ini, komoditas emas perhiasan menjadi pemain paling dominan dengan sumbangan andil inflasi y-on-y sebesar 0,63%.
Di posisi berikutnya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengantongi inflasi sebesar 4,94% y-on-y. Sektor ini menjadi jangkar utama pembentukan inflasi nasional dengan menyumbang andil terbesar, yaitu 1,43%. Komoditas pangan yang dominan memberikan andil inflasi tahunan mencakup ikan segar (0,22%), beras (0,18%), daging ayam ras (0,15%), dan minyak goreng (0,12%).
Sebaliknya, BPS mencatat sejumlah komoditas justru mengalami deflasi tahunan dan bertindak sebagai penahan laju inflasi, di antaranya bawang putih dengan andil deflasi 0,06%, serta kelapa, daging babi, dan kentang masing-masing sebesar 0,01%.
Dari sisi komponen, inflasi inti (core inflation) nasional pada Mei 2026 bertengger di level 2,59% y-on-y, dengan andil inflasi mencapai 1,66%. Adapun komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) dan komponen harga bergejolak (volatile foods) mencatatkan inflasi tahunan masing-masing sebesar 2,07% dan 6,24%.
Disparitas Regional: Papua Barat Tertinggi
Laporan BPS juga mengonfirmasi adanya disparitas atau ketimpangan laju inflasi yang cukup lebar antarwilayah di Indonesia.
Pada tingkat provinsi, inflasi tahunan tertinggi berolak di Provinsi Papua Barat yang menyentuh angka 5,94% dengan IHK 112,93. Sebaliknya, Provinsi Lampung mencatatkan laju inflasi tahunan terendah di level 1,94% dengan IHK sebesar 111,84.
Sementara itu pada tingkat kabupaten/kota, Kabupaten Aceh Tengah menduduki posisi puncak dengan inflasi tertinggi nasional mencapai 6,09% dan IHK berada di level 118,52. Kontras dengan kondisi tersebut, Kabupaten Minahasa Utara menorehkan rekor inflasi tahunan terendah yang hanya menyentuh angka 0,66% dengan IHK sebesar 113,79.***






.jpg)










