Stabilitas.id – Emiten manufaktur perhiasan emas dan emas batangan terintegrasi, PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA), resmi mengesahkan pembagian dividen tunai sebesar Rp40 per lembar saham untuk tahun buku 2025. Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Bandung.
Dengan harga acuan saham di level Rp2.300 per lembar, nilai dividen tersebut mencerminkan tingkat imbal hasil (dividend yield) sekitar 1,8%. Adapun rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) perseroan tercatat mencapai 18,83% dari total laba bersih tahun buku 2025.
Direktur Keuangan Hartadinata Abadi Ong Deny memaparkan bahwa sepanjang tahun fiskal 2025 (FY25), perseroan sukses mencetak rekor kinerja tertinggi sepanjang masa. Pendapatan HRTA sepanjang 2025 melesat 144,39% secara tahunan (year-on-year/y-o-y) menjadi Rp44,55 triliun dari posisi 2024 yang senilai Rp18,23 triliun.
BERITA TERKAIT
“Di sisi lain, laba bersih tercatat sebesar Rp978,49 miIiar di 2025, tumbuh 121,29% y-o-y dari Rp442,18 miIiar pada 2024,” ungkap Ong Deny dalam Public Expose pasca-RUPST, Rabu (3/6/2026).
Laba Kuartal I/2026 Meroket 189,48%
Tren pertumbuhan eksponensial emiten bersandi saham HRTA ini dipastikan terus berlanjut pada awal tahun buku 2026. Sepanjang kuartal I/2026, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp20,16 triliun, atau meroket hingga 196,96% dibandingkan dengan kuartal I/2025 yang senilai Rp6,78 triliun.
Lonjakan omzet tersebut mengerek laba bersih kuartal I/2026 perseroan sebesar 189,48% menjadi Rp433,49 miIiar, naik tajam dari posisi periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp149,75 miIiar.
Akselerasi performa ini ditopang oleh kenaikan volume penjualan emas murni yang tumbuh 75,18% y-o-y menjadi 7,83 ton. Kenaikan volume ini terjadi secara simultan dengan lonjakan harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP) emas yang terkerek 71,01% y-o-y menjadi Rp2.567.213 per gram.
Dari sisi segmentasi bisnis, pasar grosir masih menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi 90,60% terhadap total pendapatan. Lini grosir ini mencakup pasokan ke institusi keuangan komoditas (bullion bank) serta sejumlah perbankan syariah. Sementara itu, segmen ritel menyumbang 9,13% dan lini bisnis gadai berkontribusi sebesar 0,26%.
Integrasi Hulu-Hilir & Kejar Sertifikasi LBMA
Direktur Utama Hartadinata Abadi Sandra Sunanto menegaskan fundamental kokoh ini didorong oleh keberhasilan strategi mengintegrasikan ekosistem proses manufaktur dari hulu ke hilir. Saat ini, kapasitas produksi perseroan telah ditingkatkan hingga mencapai 60 ton per tahun, yang mencakup pabrik perhiasan, emas batangan, hingga fasilitas pemurnian (refinery).
Guna memperluas penetrasi pasar domestic, HRTA kini mengoperasikan 85 outlet ritel Hartadinata Abadi dan 138 outlet Gadai Hartadinata Abadi (GHA). Perseroan juga menelurkan inovasi digital-mekanis lewat peluncuran ATM HRTA Gold untuk produk EMASKU® yang kini tersebar di Jakarta dan Bandung.
“Di tahun 2026, perseroan akan berfokus pada penguatan branding seluruh portofolio produk emas dan perhiasan emas melalui HRTA Gold, sekaligus meningkatkan kualitas serta standar produk,” jelas Sandra.
Sebagai langkah strategis menembus pasar internasional secara lebih agresif, HRTA saat ini tengah menempuh proses sertifikasi dari lembaga emas dunia, London Bullion Market Association (LBMA). Inisiatif ini diharapkan mampu memperkuat posisi tawar emiten sebagai salah satu pemain kunci dalam pengembangan arsitektur Bullion Bank di Indonesia.***






.jpg)









