Stabilitas.id – Pada sebuah pagi yang tidak terlalu sunyi di Taman Kota PERURI, Jakarta Selatan, langkah ribuan orang terdengar seperti ritme baru: ritme yang mencoba menyusun ulang hubungan manusia dengan bumi. Festival Langkah Membumi Ecoground 2025 bukanlah sekadar ruang kumpul, tetapi panggung yang menunjukkan bagaimana gagasan keberlanjutan bisa berubah menjadi gerak kolektif. Pada momentum ini, 16.000 mangrove yang akan ditanam di pesisir Indonesia menjadi simbol gotong royong baru—buah dari kombinasi pelanggan, komunitas, bisnis, hingga pemerintah.
Di balik angka itu, terdapat cerita tentang bagaimana partisipasi publik, inovasi teknologi, dan kesadaran baru tentang iklim melebur menjadi satu narasi ekologis. Lisa Widodo, COO dan Co-Founder Blibli, menyebutnya sebagai “buah nyata dari gotong royong.” Dengan nada yang tidak sekadar seremonial, ia menegaskan bahwa “aksi kecil ketika dilakukan secara kolektif—dapat menghadirkan dampak besar bagi bumi.” Dalam festival dua hari itu, jejak kolaboratif itu terlihat kasat mata.
Gerakan mengumpulkan mangrove justru lahir dari rangkaian aktivitas yang tampak biasa: pembelian tiket, fun run komunitas, bersepeda bersama, hingga partisipasi pelari dalam perayaan ulang tahun Ranch Market. Dari aktivitas-aktivitas yang menyatukan hobi dan kepedulian itu, terkumpul 10.500 mangrove, sisanya berasal dari program reguler Blibli seperti Tukar Tambah, Misi Tanam Pohon, hingga take back packaging. Kombinasinya mencerminkan bagaimana gaya hidup urban bisa dihubungkan dengan ekosistem pesisir yang rapuh ratusan kilometer jauhnya.
BERITA TERKAIT
Ketika fase pertama penanaman dilakukan di Desa Ujung Alang, Segara Anakan, Cilacap, cerita keberlanjutan ini menemukan konteks sosialnya. Kawasan pesisir itu telah lama menghadapi degradasi mangrove yang menggerus perlindungan alami daratan sekaligus menurunkan hasil tangkapan nelayan. Penanaman ribuan mangrove bukan hanya perayaan ekologis, melainkan intervensi yang menyasar ekonomi lokal, biodiversitas, dan mitigasi iklim. Di wilayah seperti Segara Anakan, mangrove adalah pagar hidup terhadap abrasi, tempat ikan kecil berkembang, dan cadangan karbon biru yang menyimpan masa depan.
Festival Langkah Membumi Ecoground sendiri berkembang menjadi semacam laboratorium publik untuk mengukur bagaimana keberlanjutan bisa dipraktikkan dalam tingkatan paling sehari-hari. Dengan mengacu pada ISO 14040/44, lembaga independen Life Cycle Indonesia mengevaluasi dampak penyelenggaraan acara—dari jejak karbon, pengelolaan limbah, hingga kontribusi sosial. Hasil survei menunjukkan 50,26% peserta terdorong mengubah aksi personal setelah mengikuti acara. Dalam sebuah kota yang dibanjiri pilihan gaya hidup konsumtif, angka itu bukan sekadar statistik, melainkan penanda bahwa edukasi lingkungan tidak harus selalu berupa seminar kering di hotel.
Di area festival, sebuah booth keberlanjutan menampilkan contoh nyata bagaimana konsep circularity diterapkan. Seragam dan pakaian bekas karyawan didaur ulang menjadi kain baru sebelum diolah menjadi dekorasi pintu masuk. Di sudut lain, fasilitas daur ulang, eco-packaging, dan fitur edukatif mencoba menghubungkan soal sampah dengan kehidupan urban sehari-hari. Ada pula prototype kinetic floor—lantai yang mengonversi gerakan menjadi energi listrik—yang memberi pengalaman intuitif tentang energi terbarukan. Selama 210 menit sesi Eco Motion dan konser, lantai kinetik itu menjadi titik persilangan teknologi dan aktivisme.
Ecoground juga menjadi arena multisektor. Komunitas olahraga seperti Brodo Active, WCC Seli, hingga para pelari Fresh Track terlibat dalam penggalangan mangrove. Para mitra korporasi dari Samsung, BYD, Acer, Sharp, hingga Modena ikut menampilkan inovasi hijau. Dari sektor finansial, dukungan datang dari BCA, Blu, UOB, hingga SMBC. Sementara itu, Bakti Lingkungan Djarum Foundation menghadirkan pendekatan ekologis dalam edukasi publik. Kerja sama ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak lagi menjadi domain eksklusif aktivis lingkungan, tetapi ruang bersama yang melibatkan ritel, teknologi, perbankan, hingga brand gaya hidup.
Gerakan ini bahkan diperluas ke kampus melalui Langkah Membumi Goes to University. Di Universitas Multimedia Nusantara, President University, hingga Universitas Indonesia, lebih dari 800 mahasiswa mengikuti sesi diskusi yang diisi figur seperti Cinta Laura, Enrico Caspar L., hingga Jeany Hartriani. Di sini, isu keberlanjutan didorong masuk ke ruang generasi yang akan mewarisi dampak krisis iklim dalam beberapa dekade mendatang.
Dalam lanskap ESG yang kerap dipenuhi jargon dan laporan tahunan tebal, Blibli Tiket Action mencoba membangun model keberlanjutan yang lebih dekat pada publik. Ia bekerja di ruang paling nyata: gaya hidup, mobilitas, konsumsi, dan komunitas. Langkah kecil yang dibingkai menjadi gerakan ini memberi gambaran bahwa perubahan iklim membutuhkan lebih dari sekadar regulasi—ia menuntut partisipasi.
Pada akhir acara, ketika energi publik mulai mereda, Lisa kembali menegaskan gagasan besarnya: “Taman Kota PERURI menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas sektor dapat melahirkan ruang hijau yang hidup, penuh energi, dan berdampak.” Nada ucapannya mengandung optimisme yang jarang muncul dalam wacana krisis iklim. Bahwa mungkin, di antara mobil-mobil yang lalu-lalang dan gedung-gedung kaca yang terus tumbuh, ada ruang bagi harapan.
Dan harapan itu kini berwujud 16.000 mangrove—pengingat bahwa gerak kecil yang dilakukan bersama masih dapat memperbaiki bumi yang rusak perlahan-lahan. ***





.jpg)










