SOROWAKO, Stabilitas.id – Dengan senyum sumringah, pria berpenampilan kasual itu menyapa ramah. “Selamat datang di Bumdesma Anatowa.” Sapaan itu disampaikannya ketika tamu membuka pintu kaca gerai toko yang menjual beragam oleh-oleh di salah satu sudut Kota Sorowako – sebuah kota yang dihidupkan ekonominya melalui aktivitas tambang nikel yang dikelola oleh PT Vale Indonesia (PTVI) sejak 1968.
Pria ramah itu bernama Zulfikar Arna Odenjar. Usianya baru menginjak 42 tahun. Namun sudah empat tahun terakhir, ia dipercaya memimpin Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesma) Anatowa sebagai direktur utama. Bumdesma adalah usaha desa yang melibatkan perwakilan dari Desa Sorowako, Desa Matano, Desa Nuha, Desa Nikkel dan satu kelurahan Magani. Semua desa dan kelurahan ini berada di dalam Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
“Kami memulai usaha ini dari musyawarah desa sekitar enam tahun lalu. Ketika itu saya ditawari oleh lurah Magani dan dipanggil kecamatan untuk menjadi pengurus Bumdesma dan mengelola unit bisnisnya,” kata Zulfikar.
Pilihan kepada Zulfikar tentunya bukan tanpa alasan. Sebagai ‘pemuda kampung’ di Sorowako, ia bukanlah sosok biasa-biasa saja. Naluri bisnisnya yang moncer telah terendus pejabat pemerintahan desa dan kecamatan.
Setelah sempat menjadi kontraktor di PTVI sekitar tiga tahun, Zulfikar kemudian mengelola usaha mandiri dengan membuka studio foto dan warung kopi. Khusus warung kopi, ia menggunakan mobil semacam food truck dan juga membuka usahanya di tempat permanen. Lalu untuk menu kopi yang disajikannya menyasar pada kelompok remaja dengan cita rasa kopi kekinian. Tapi ia juga mafhum ada kelompok penikmat kopi, maka ia pun menyediakan menu racikan manual brew semacam V60 dengan biji kopi yang didatangkannya dari Sulawesi Barat.
Dari sinilah tampak bahwa Zulfikar memiliki nilai tambah yang membuatnya menjadi terlihat istimewa dibanding ‘pemuda kampung’ lainnya. Ditambah lagi ia memiliki bekal pendidikan di Bandung – salah satu kota di Indonesia yang kesohor dengan kekayaan industri kreatifnya. “Saya memang pernah berkuliah di Bandung. Saya mengambil desain grafis di sana,” ujar pria tersebut.
Semasa menempuh studi ARS University di kawasan Antapani, Bandung, Zulfikar mendapatkan banyak ide yang memupuk kreativitasnya dalam membangun usaha. “Di sana semuanya bisa menjadi usaha. Memang harus ada faktor pembeda dan saya percaya keunikan menjadi kekuatan dalam membangun usaha,” kata pria berjenggot bergaya klingon beard ini.
Di awal usaha merintis Bumdesma Anatowa ini, Zulfikar mengaku mendapat suntikan dana dari Desa Nuha, Desa Nikkel dan Kementerian Desa. Lalu pengalamannya pernah menjadi kontraktor, pihak PTVI meliriknya juga untuk dijadikan motor penggerak ekonomi desa. Dari semua sokongan banyak pihak itulah, bisnis Bumdesma dimulai.
“Sekarang ini ada 141 produk UKM. Sebagian besarnya berbentuk makanan ringan seperti keripik. Lalu ada juga minuman herbal dan kerajinan. Sebagian besar produk UKM kami ini diserap oleh karyawan PT Vale melalui kegiatan gathering maupun bingkisan bagi para pensiunan karyawan,” ujarnya.
Hasil penjualan produk UKM ini, diakui Zulfikar, telah mampu menjadi stimulus ekonomi lokal. Ia mengaku saat ini sudah mampu menyisihkan hasil keuntungan usahanya sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) kepada desa yang telah menyuntikkan modal usahanya.
“Secara angka memang belum besar tapi kami sudah bisa memberikan kontribusi buat desa lewat penjualan produk UKM yang dikelola melalui Bumdesma ini,” katanya.
Lantas apa target selanjutnya untuk mengembangkan Bumdesma Anatowa ini? Ia sadar mendongkrak transaksi penjualan secara online menjadi salah satu strategi yang membutuhkan dukungan. Di sisi lain, ia juga melihat adanya tren hidup sehat di masyarakat dalam mengkonsumsi produk herbal.
“Kami sedang menjajaki peluang kolaborasi dengan Rumah Sehat yang dikelola ibu-ibu yang tergabung dalam Himpunan Penggiat Obat Organik (HIPO). Kami melihat tren obat herbal sedang bagus, rasanya ini bisa menjadi peluang bisnis yang akan bisa menguatkan usaha Bumdesma ke depan,” ujarnya.
Kini, senyum Zulfikar memang belum dirasakan semua pihak di tanah kelahirannya. Namun setidaknya, kontribusi nyata dari ‘pemuda kampung’ Sorowako ini telah menjadi konkret bagi pelaku UKM di daerahnya. Ia bukanlah sosok ‘omon-omon’ di tengah menguatnya label generasi instan dan pemalas yang disematkan pada sebagian kelompok remaja masa kini. “Kita harus berani berusaha. Harus berani mencari peluang,” pesan Zulfikar singkat. ***





.jpg)









