Defisit NPI triwulan II-2026 menyusut tajam jadi US$ 0,9 miliar dari US$ 9,1 miliar di triwulan I. Ditopang surplus transaksi modal & finansial US$ 12 miliar.
Stabilitas.id – Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II-2026 mencatatkan perbaikan signifikan. Bank Indonesia (BI) melaporkan defisit NPI pada periode ini menyusut tajam menjadi US$ 0,9 miliar (sekitar Rp 16,02 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.800 per dolar AS).
Realisasi ini jauh membaik dibandingkan dengan posisi pada triwulan I-2026 yang membukukan defisit hingga US$ 9,1 miliar (sekitar Rp 161,98 triliun).
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso menyampaikan bahwa kinerja NPI triwulan II-2026 tetap terjaga tangguh di tengah peningkatan defisit transaksi berjalan (current account deficit), didukung oleh melonjaknya surplus pada transaksi modal dan finansial.
BERITA TERKAIT
“Transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi didorong kenaikan defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas. Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat surplus ditopang oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga mendukung kinerja NPI yang tetap terjaga,” ujar Ramdan dalam keterangannya, Senin (24/8/2026).
Seiring dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tercatat kokoh sebesar US$ 145,6 miliar (sekitar Rp 2.591,68 triliun). Posisi ini setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor, atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah—jauh berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor.
Pelebaran Defisit Transaksi Berjalan Dipicu Impor Energi
Di sisi lain, transaksi berjalan (current account) pada triwulan II-2026 mencatatkan defisit sebesar US$ 12,5 miliar (sekitar Rp 222,5 triliun) atau setara 3,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini melebar dibanding defisit triwulan I-2026 yang sebesar US$ 3,6 miliar (1,0% PDB).
Bank Indonesia menilai pelebaran defisit transaksi berjalan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor yang bersifat temporer, yaitu:
- Lonjakan Impor Migas: Tingginya harga minyak dunia mengerek defisit neraca perdagangan sektor migas.
- Kebutuhan Domestik Tinggi: Surplus perdagangan nonmigas menurun akibat peningkatan impor bahan baku dan barang modal seiring pesatnya aktivitas produksi nasional.
- Repatriasi Hasil Investasi: Terjadinya peningkatan defisit pada neraca pendapatan primer akibat pembayaran dividen dan imbal hasil investor asing.
Pemulihan Transaksi Modal dan Finansial Tembus Surplus US$ 12 Miliar
Penyeimbang utama ketahanan eksternal Indonesia datang dari akun transaksi modal dan finansial. Pada triwulan II-2026, pos ini mencetak surplus hingga US$ 12 miliar (sekitar Rp 213,6 triliun), berbalik arah (rebound) dari triwulan I-2026 yang sempat mengalami defisit US$ 4,8 miliar.
Surplus ini utamanya didorong oleh Derasnya Penanaman Modal Foreign Direct Investment (FDI) atau investasi langsung yang mencerminkan kepercayaan investor global terhadap prospek iklim usaha di Indonesia. Selain itu, arus modal masuk (inflow) pada investasi portofolio terus meningkat seiring daya tarik imbal hasil instrumen keuangan domestik.
Ke depan, Bank Indonesia optimistis prospek NPI akan terus berada dalam kondisi baik. Pemulihan kinerja ekspor nasional diproyeksikan terakselerasi berkat kenaikan harga komoditas unggulan global serta dampak positif dari penurunan tarif resiprokal perdagangan Amerika Serikat (AS).
“Sinergi kebijakan antara Pemerintah dan Bank Indonesia akan terus diperkuat untuk menopang kinerja NPI 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih dinamis,” tutup Ramdan. ***
Perkembangan Indikator Neraca Pembayaran Indonesia (2026)
| Indikator Eksternal & NPI | Realisasi Triwulan I-2026 | Realisasi Triwulan II-2026 | Catatan & Implikasi Kebijakan |
| Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) | Defisit US$ 9,1 Miliar | Defisit US$ 0,9 Miliar | Membaik tajam ditopang arus modal masuk. |
| Transaksi Berjalan (Current Account) | Defisit US$ 3,6 Miliar (1,0% PDB) | Defisit US$ 12,5 Miliar (3,3% PDB) | Dipengaruhi impor migas & deviden temporer. |
| Transaksi Modal dan Finansial | Defisit US$ 4,8 Miliar | Surplus US$ 12,0 Miliar | Berbalik positif berkat inflow FDI & Portofolio. |
| Posisi Cadangan Devisa | – | US$ 145,6 Miliar | Cukup untuk 5,6 bulan impor nasional. |
| Asumsi Nilai Tukar Konversi | – | Rp 17.800 / US$ | Menjadi acuan perhitungan pencatatan BI. |
















