DGS BI Destry Damayanti menegaskan fundamental RI tetap kokoh di level BBB S&P. BI guyur insentif likuiditas Rp 479 triliun dan perluas LCT untuk kurangi ketergantungan dolar AS.
Stabilitas.id – Bank Indonesia (BI) pasang badan terkait fluktuasi nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini. Bank sentral menegaskan bahwa pelemahan mata uang Garuda lebih dominan dipicu oleh faktor sentimen global dan dinamika persepsi investor, alih-alih mencerminkan pemburukan pada fundamental ekonomi domestik.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit (sovereign credit rating) Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil merupakan pengakuan nyata atas kokohnya fondasi ekonomi nasional.
“Fundamental kita sebenarnya oke. Kalau dibandingkan negara lain, berapa banyak yang masih bisa tumbuh di atas 5% dengan inflasi yang tetap terjaga,” kata Destry dalam ajang CMBC Investment Forum, Rabu (15/7/2026).
BERITA TERKAIT
Destry membeberkan sejumlah indikator utama yang menunjukkan bahwa sektor keuangan dan likuiditas domestik masih berada dalam zona aman:
-
Pertumbuhan Ekonomi: Konsisten bertahan di atas level 5%.
-
Inflasi: Tetap terkendali dalam rentang sasaran target pemerintah dan BI.
-
Cadangan Devisa: Berada di posisi kuat, setara 5,8 hingga 5,9 bulan impor. Angka ini jauh melampaui standar kecukupan internasional yang hanya mematok batas minimal 3 bulan impor.
Menurut Destry, tingginya tekanan terhadap rupiah saat ini murni akibat dari aksi flight to quality para investor global yang memburu aset aman (safe haven) berbasis dolar AS, menyusul indeks dolar yang terus menguat. Kondisi ini membuat rupiah sempat menguat 0,2% pasca-pengumuman S&P, menjadi salah satu yang terbaik di kawasan regional.
Insentif Likuiditas Rp 479 Triliun
Demi menjinakkan volatilitas nilai tukar, BI telah mengambil langkah pre-emptive dengan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 100 basis poin (bps) sepanjang periode Mei hingga Juni 2026, hingga kini bertengger di level 5,75%.
Kendati melakukan pengetatan moneter, BI tidak ingin roda intermediasi perbankan tersendat. Bank sentral menerapkan bauran kebijakan makroprudensial yang longgar melalui pemberian insentif likuiditas.
Bank-bank yang rajin menyalurkan kredit ke sektor prioritas mendapatkan kelonggaran berupa pengurangan kewajiban penempatan dana di BI. Per Juni 2026, total insentif likuiditas yang digelontorkan BI ke industri perbankan mumpuni mencapai Rp 479 triliun.
Efeknya, fungsi intermediasi berjalan lancar. Pertumbuhan kredit perbankan per Mei 2026 mampu melesat di atas 12%, dan performa pada Juli 2026 diperkirakan tetap konsisten mendekati level dua digit tersebut.
Pangkas Ketergantungan Dolar AS
Strategi jangka panjang BI untuk meredam keperkasaan dolar AS dilakukan dengan memperluas implementasi kerja sama Local Currency Transaction (LCT) atau transaksi menggunakan mata uang lokal dengan negara mitra dagang utama, khususnya China dan Jepang.
Langkah de-dolarisasi ini membuahkan hasil yang signifikan. Per Mei 2026, nilai transaksi perdagangan dengan China yang menggunakan skema LCT telah menembus angka ekuivalen US$ 9 miliar.
Untuk mempermudah para pelaku usaha, BI juga telah memfasilitasi transaksi spot langsung untuk mata uang Yuan (CNY) dan Yen (JPY) terhadap Rupiah (IDR) di pasar domestik. Walhasil, eksportir dan importir tidak perlu lagi melakukan konversi ganda (double conversion) melewati mata uang dolar AS, yang pada gilirannya sukses menekan permintaan terhadap greenback. ***
















