Stabilitas.id – PT Kereta Api Indonesia (Persero) membidik target pertumbuhan kinerja yang agresif dalam peta jalan (roadmap) transformasi korporasi periode 2026–2030. Operator transportasi rel pelat merah ini menargetkan perolehan pendapatan mampu menembus angka Rp66 triliun pada 2030.
Target top-line tersebut mencerminkan lonjakan hampir dua kali lipat jika disandingkan dengan realisasi pendapatan KAI pada tahun buku 2025 yang tercatat sebesar Rp35,7 triliun. Rekam jejak ekspansi ini merupakan bagian dari cetak biru jangka panjang perseroan untuk bertransformasi menjadi operator kereta api berkelas dunia (world-class operator) pada 2045.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin memaparkan bahwa korporasi telah memformulasikan tahapan strategis yang terukur guna memperluas jangkauan jaringan, meningkatkan kapasitas angkut, serta mengamankan diversifikasi bisnis yang berkelanjutan.
BERITA TERKAIT
“Kami telah merencanakan roadmap KAI untuk menjadi world class operator. Pada tahun 2030 panjang rel ditargetkan lebih dari 7.000 kilometer dengan pendapatan sekitar Rp66 triliun,” ujar Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI di Gedung Parlemen, dikutip Kamis (4/6/2026).
Guna merealisasikan target jangkauan operasional tersebut, KAI berkomitmen menambah bentangan rel kereta api aktif dari posisi saat ini sepanjang 6.700 kilometer menjadi melebihi 7.000 kilometer pada akhir dekade ini (2030).
Bobby menggarisbawahi bahwa penambahan interkoneksi jalur ini akan diprioritaskan melalui program reaktivasi jalur-jalur mati yang saat ini statusnya tidak beroperasi. Langkah ini dinilai mendesak untuk mereduksi beban kepadatan jalan raya sekaligus memacu denyut pertumbuhan ekonomi daerah.
Berdasarkan analisis historis, KAI mencatat total bentangan rel aktif di Pulau Jawa saat ini secara akumulatif masih lebih pendek dibandingkan era Hindia Belanda yang sempat menyentuh angka 10.000 kilometer.
“Artinya yang harus kita lakukan adalah mengaktifkan kembali jalur-jalur yang sudah tidak beroperasi,” jelas Bobby. Periode 2026–2030 akan difungsikan penuh sebagai fase penguatan fondasi, sebelum perseroan melakukan akselerasi perluasan jaringan berskala masif di dekade berikutnya.
Ekspansi Angkutan Barang dan Proyek Dry Port Batang
Di samping mengandalkan pertumbuhan organik dari sektor angkutan penumpang, BUMN transportasi ini juga mengandalkan bisnis logistik sebagai mesin pertumbuhan baru (new growth engine) penopang pundi-pundi pendapatan.
KAI tengah mematangkan proyek pembangunan terminal logistik terpadu (dry port) yang diintegrasikan langsung dengan Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Jawa Tengah. Fasilitas logistik hulu-hilir ini ditargetkan mulai beroperasi penuh (on-stream) pada tahun 2027 untuk memotong rantai pasok dan menekan biaya logistik industri.
Tak hanya itu, KAI juga memacu optimalisasi aset non-produksi melalui pengembangan kawasan berbasis transit atau Transit Oriented Development (TOD). Strategi komersialisasi lahan di sekitar stasiun ini diproyeksikan mampu mendongkrak porsi pendapatan non-konektivitas (non-farebox revenue) guna memperkuat struktur profitabilitas perseroan secara jangka panjang. ***






.jpg)









