IHSG ditutup melemah 1,04% ke level 6.308,39 dan Rupiah anjlok ke Rp17.905/USD pada Kamis (24/9/2026), tertekan lonjakan yield AS dan aksi jual sektor material.
Stabilitas.id — Setelah sempat mencicipi rebound pada hari sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok ke zona merah pada akhir perdagangan sesi kedua, Kamis (24/9/2026). Indeks ditutup melemah signifikan sebesar 1,04% dan mendarat di level 6.308,39, membalikkan tren optimisme jangka pendek para investor.
Tekanan berat tidak hanya terjadi di pasar ekuitas, tetapi juga menular cepat ke pasar valuta asing. Mata uang Garuda harus rela terdepresiasi sebesar 0,62%, menyeret nilai tukar Rupiah jatuh menyentuh level Rp17.905 per dolar Amerika Serikat (AS).
Tekanan Yield AS dan Imbas Sektor Material
BERITA TERKAIT
Koreksi ganda pada IHSG dan Rupiah hari ini sangat didikte oleh gejolak eksternal, khususnya lonjakan tajam pada imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (US Treasury). Kenaikan yield tersebut sukses memicu arus keluar likuiditas (capital outflow) dari emerging markets, mengerek nilai indeks dolar AS (DXY), dan mentransmisikan sentimen negatif yang sebelumnya telah mengoreksi bursa Wall Street.
Di bursa domestik, para pelaku pasar cenderung mengambil langkah rasionalisasi portofolio setelah pengumuman Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) kemarin yang secara resmi menahan BI Rate di level 5,75%. Meski telah diantisipasi, keputusan tersebut tetap membuat para investor, terutama asing, menahan diri. Sehari sebelumnya, tercatat investor asing telah membukukan aksi jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp460,78 miliar.
Secara sektoral, kejatuhan IHSG hari ini banyak disumbang oleh kinerja buruk sektor material dasar dan real estate. Aksi jual agresif pada saham-saham andalan di kedua sektor tersebut menjadi beban utama yang menyeret turun indeks. Tekanan tambahan juga datang dari saham-saham perbankan big caps yang mengalami koreksi di awal hingga pertengahan perdagangan.
Dengan Rupiah yang menembus kisaran Rp17.900/USD, biaya impor dan risiko utang valas korporasi diproyeksikan akan kembali membebani sentimen domestik pada akhir pekan ini.***
















