Survei Citi Wealth 2026 mencatat 26% family office Asia Pasifik raih imbal hasil di atas 15% dan 80% fokus pada investasi langsung sektor AI.
Stabilitas.id — Riset terbaru Citi Wealth bertajuk Global Family Office Report 2026 mengungkap bahwa entitas pengelola dana keluarga kaya (family office) di kawasan Asia Pasifik mencatatkan kinerja portofolio investasi di atas rata-rata global, sekaligus memimpin partisipasi investasi langsung di sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Jumat (25/9).
Sebanyak 26 persen family office di kawasan ini sukses membukukan imbal hasil (yield) melampaui 15 persen secara tahunan, dengan 22 persen di antaranya memasang target imbal hasil tahunan melebihi 15 persen—hampir dua kali lipat lebih agresif dibandingkan rata-rata pemodal global.
Laporan komprehensif yang dirilis Global Family Office Group dari Citi Wealth ini merangkum pemikiran lebih dari 350 family office di lebih dari 40 negara, dengan rata-rata kekayaan bersih keluarga mencapai USD 2,1 miliar (sekitar Rp31,5 triliun). Porsi responden asal Asia Pasifik berkontribusi sebesar 22 persen terhadap total survei.
Kinerja moncer portofolio keluarga kaya di Asia Pasifik didorong oleh reli pasar ekuitas publik regional—seperti indeks Nikkei 225 yang melonjak sekitar 30 persen hingga pertengahan Juni 2026—serta pendekatan taktis yang sangat lincah. Tercatat, 62 persen investor Asia Pasifik menerapkan manajemen portofolio aktif dan 49 persen memasang strategi lindung nilai (hedging) guna mengantisipasi volatilitas pasar.
Head of Integrated Client Solutions and the Global Family Office Group Citi Wealth, Dawn Nordberg, memaparkan bahwa kelas investor institusional privat ini berhasil menjaga disiplin di tengah turbulensi makroekonomi.
“Family office secara global menyeimbangkan keyakinan dengan ketahanan, peluang dengan disiplin, dan pertumbuhan dengan pengelolaan yang baik. Sebagai investor institusional terkemuka, mereka menempatkan modal, membangun kapabilitas, dan menciptakan kesinambungan dengan cara yang akan membentuk generasi mendatang,” kata Dawn dalam siaran pers resminya, Senin (28/9/2026).
Keunggulan distingtif Asia Pasifik terlihat pada aktivitas investasi langsung (direct investment), dengan tingkat partisipasi mencapai 79 persen—tertinggi di dunia. Sebanyak 77 persen responden di kawasan ini bahkan mengandalkan tim riset internal (in-house) untuk menyaring peluang investasi, mencerminkan derajat profesionalisme dan kapabilitas pencarian aset yang setara institusi keuangan kawakan.
Di sektor riil, teknologi kecerdasan buatan menjadi magnet utama. Sebanyak 80 persen family office Asia Pasifik menetapkan AI sebagai fokus sektor investasi langsung prioritas, melampaui kawasan lain, diiringi minat ekspansif pada industri kesehatan, robotika, dan perangkat lunak. Selain itu, separuh dari investor kaya Asia mengaku nyaman dan tidak melihat hambatan signifikan dalam mengalokasikan aset digital.
Head of Asia for Integrated Client Solutions and Global Family Office Citi Wealth, Bernard Wai, menilai lanskap pengelolaan kekayaan di Asia telah bertransformasi secara struktural.
“Temuan survei 2026 menunjukkan lanskap family office yang semakin matang di Asia Pasifik, yang ditandai oleh pemikiran kewirausahaan, praktik investasi berkualitas institusional, dan selera yang kuat untuk konektivitas global. Family office di seluruh Asia Pasifik telah berevolusi menjadi semakin canggih, dengan kebutuhan bakat, penataan, dan tata kelola berpola pikir investasi layaknya dana kekayaan negara (Sovereign Wealth Fund/SWF),” ujar Bernard.
Kendati agresif memburu pertumbuhan, investor Asia Pasifik tetap memasang kewaspadaan tinggi. Sebanyak 53 persen responden mencemaskan stabilitas sistem keuangan global dan 52 persen menyoroti volatilitas pasar. Kekhawatiran ini berkaitan erat dengan friksi geopolitik energi, mengingat sekitar 85 persen pasokan minyak mentah yang dikonsumsi pasar Asia melintasi jalur rawan Selat Hormuz.
Secara global, riset Citi Wealth mencatat hampir 90 persen family office membukukan imbal hasil positif sepanjang tahun berjalan (year-to-date), dengan ekuitas publik di pasar negara maju kembali menjadi instrumen primadona alokasi modal likuid. Pemanfaatan AI pun bergeser dari sekadar eksperimen menuju implementasi analisis data dan otomasi uji tuntas (due diligence), dengan prinsip kendali keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.
Di sisi kelembagaan, suksesi kepemimpinan lintas generasi menjadi tantangan mendesak, di mana sepertiga family office global mengantisipasi transisi komando bisnis keluarga dalam rentang lima tahun ke depan.
Head of Family Office Advisory Citi Wealth Alexandre Monnier menyimpulkan bahwa keunggulan bersaing keluarga kaya bertumpu pada tata kelola lintas batas yang adaptif.
“Seiring dunia di sekitar kita menjadi lebih kompleks, family office ada pada posisi yang unik untuk membangun portofolio yang tangguh, menata kembali operasi mereka, dan melakukan profesionalisasi dengan cara yang memungkinkan keluarga mereka mencapai tujuan ambisius,” pungkas Alexandre.***
















