JAKARTA, Stabilitas–Kecilnya angka literasi dan inklusi pada keuangan syariah bukan karena istilahnya yang menggunakan bahasa arab, melainkan kurangnya sosialisasi sehingga masyarakat bisa paham dan familiar, untuk itu menggantikan istilah-istilah tersebut dengan Bahasa Indonesia bukan hal yang tepat.
Deputi Pengawas IKNB I OJK, Edy Setiadi menjelaskan angka literasi dan inklusi keuamngan syariah masih jauh tertinggal dengan keuangan konvensional. Untuk itu masyarakat masih perlu diedukasi mengenai istilah-istilah keuangan syariah.
“Yang jelas bahwa pemahaman terhadap produk-produk syariah itu itu kurang dari 10 persen, hanya 8 persen sementara literasi terhadap keuangan bank konvensional itu adalah sekitar 30 persen. Kalau kita lihat inklusinya lebih parah lagi jadi dari yang sekitar 80 persen, hanya 11 persen saja yang sudah pakai produk syariah sementara kalo kita lihat di syariah itu 60 persen,”Kata Edy, di Jakarta, Senin (31/7).
Bukan hal yang tepat jika istitilah-istilah keuangan syariah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Yang perlu dilakukan saat ini hanyalah sosialisasi kepada masyarakat tentang makna istilah-istilah tersebut.
“Karena itu ini pentingnya sosialisasi, mengenai penamaan kita sepakat kita gunakan saja yang ada dari iB konkritnya dan mekanismenya,”kata Edy.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro juga berpendapat, istilah tersebut sudah terlanjur dikenalkan kepada masyarakat, maka menjadi tugas otoritas untuk melakukan sosialisasi. Dia menambahkan, penyebutan istilah perbankan syariah bukan sebuah masalah, dia membandingkan dengan istilah-istilah berbahasa Inggris yang telah fasih diucapkan oleh masyarakat sehjari-hari.
“Saya kira istilah yang ada sekarang cukup familiar, yang paling penting adalah artinya apa, karena yang saya lihat kita bicara bahasa kalau Bahasa Inggris kalian bilangnya download upload, nggak pernah unggah unduh. Kalian mengakui bukan masalah Bahasa Indoneisa, kita enaknya pakai apa tapi ngerti gitu loh jadi sama juga pake istilah musyarakah, ijarah, itu yang penting tau apa maksudnya dalam Bahasa Indonesia tanpa harus ada kata bahasa Indonesia yang menggantinya,”tandas Bambang.






.jpg)










