• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 19, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Finance

Jelang Puncak Pertumbuhan

by Sandy Romualdus
10 Mei 2015 - 00:00
17
VIEWS
Jelang Puncak Pertumbuhan
0
SHARES
17
VIEWS

Asuransi, di Indonesia, memang masih kalah pamor dari perbankan. Hal itu, meski demikian, tidak membuat pertumbuhan bisnis asuransi tidak bias menyaingi perbankan. Efek pemilihan umum tahun lalu yang menyendat pertumbuhan bisnis lainnya, tidak cukup membuat industri proteksi itu stagnan.

Bahkan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, berani memprediksi bahwa pertumbuhan lini asuransi jiwa akan mencapai puncaknya tahun ini dan melampaui pertumbuhan di negaranegara lain di Asia Pasifik. Ketua umum AAJI, Hendrisman Rahim mengatakan, pertumbuhan premi asuransi jiwa hingga akhir 2015 diperkirakan sebesar 15-27 persen.

  • Baca juga: BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Sementara di industri asuransi kawasan Asia Pasifik peningkatannya rata-rata hanya sekitar 10 persen. “ (Pertumbuhan) Kita lebih tinggi dibanding negara lain karena pasar kita besar didukung dengan perusahaan asuransi yang terus bertambah, sehingga penetrasi sampai ke daerah,” kata Hendrisman bulan lalu.

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Jumlah penduduk, memang diakui, menjadi faktor penguat mengapa Indonesia selalu dinilai memiliki potensi besar dalam perekonomian, tidak hanya asuransi. Pelaku industri asurani jiwa sadar betul bahwa Indonesia didukung dengan jumlah penduduknya yang hampir mencapai 250 juta jiwa merupakan potensi besar bagi perusahaan asuransi jiwa. Apalagi World Economic Outlook (WEF) mencatat penduduk menengah atas di Indonesia selalu tumbuh di kisaran 35 persen.

Di samping itu, akan tetapi, harus diakui juga bahwa sejauh ini, dengan jumlah penduduk yang hampir mencapai 250 juta jiwa, penetrasi asuransi masih sanagt kecil. Angka tertanggung individu yang diproteksi oleh perusahaan asuransi jiwa hingga akhir 2014 masih di angka 15,50 juta jiwa. Namun demikian, angka itu lebih baik dari catatan tahun sebelumnya yang mencapai 13,62 juta jiwa. Artinya ada pertumbuhan di atas 10 persen, atau tepatnya 13,8 persen pertumbuhan nasabah individu yang terproteksi asuransi jiwa.

Nini Sumohandoyo, Kepala Departemen Komunikasi Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mengungkapkan, pertumbuhan tertanggung individu menjadi gambaran bahwa masyarakat mulai sadar akan pentingnya asuransi.

“Secara total memang pertumbuhan tertanggung masih minus 39 persen, itu karena dampak asuransi kumpulan yang kontraknya hanya sebulan di awal 2014. Tetapi kalau asuransi travel ini dikeluarkan, total tertanggung tumbuh 12,2 persen di 2014,” kata Nini.

Pertumbuhan tertanggung individu itu dinilai sejalan dengan meningkatnya tenaga pemasaran atau agen berlisensi asuransi jiwa yang mencapai lebih dari 414,5 ribu orang di akhir 2014, atau tumbuh 16,2 persen dari tahun sebelumnya.

Sementara Ketua Umum AAJI, Hendrisman Rahim mengungkapkan bahwa minat berasuransi masyarakat yang meningkat terlihat dengan terus membaiknya pertumbuhan premi bisnis baru asuransi jiwa. Di awal 2014, asosiasi mencatat premi bisnis baru di kuartal pertama (Q1) 2014 masih minus 15,5 persen. Namun dalam kuartal selanjutnya terus mengalami perbaikan yakni menjadi minus 9,6 persen di Q3, dan tumbuh lagi menjadi minus 2,4 persen di Q4.

Meskipun masih di level negatif, AAJI menilai angka pertumbuhan yang dicatatkan industri merupakan pertumbuhan total premi bisnis baru terbaik selama ini. Jika dibandingkan pertumbuhan pada kuartal keempat antara 2013 dan 2014, maka premi bisnis baru sebenarnya tumbuh sebesar 20,7 persen.

Dijelaskan Hendrisman, ada dampak dari pemilu di tengah tahun 2014 membuat nasabah wait and see untuk membeli produk baru. “Mereka beli premi bisnis baru dalam jumlah banyak, tetapi nilai uang sedikit.” Artinya, kata dia lagi, ada niat dari masyarakat untuk menambah portofolio asuransi mereka melalui pembelian produk baru dari asuransi. Untuk diketahui, porsi premi bisnis baru ke total premi asuransi jiwa mencapai 57,5 persen.

Secara umum, industri asuransi jiwa tetap konsisten dalam mencatatkan kinerja yang positif, dimana sepanjang 2014, pertumbuhan total pendapatan premi sebesar 6,7 persen atau senilai lebih dari Rp121,62 triliun dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan total pendapatan premi tersebut didukung oleh meningkatnya pemahaman nasabah akan pentingnya mempertahankan perlindungan jangka panjang yang diberikan asuransi jiwa, yang tercermin dari meningkatnya total premi lanjutan sebesar 22,2 persen menjadi senilai Rp. 51,59 triliun.

Premi lanjutan adalah premi yang harus dibayar setelah premi pertama, yang di dalamnya ada grace period yaitu jangka waktu tertentu, biasanya 30 atau 31 hari setelah tanggal jatuh tempo pembayaran premi lanjutan dalam jangka waktu dimana premi dapat dibayar tanpa sanksi. Jika premi lanjutan polis tidak dibayar selama grace period, maka polis tersebut disebut batal.

Pertumbuhan premi lanjutan yang cukup tinggi juga sejalan dengan klaim dan manfaat yang ditujukan bagi polis yang ditebus (surrender) yang sepanjang 2014 turun hingga minus 12,5 persen dibandingkan 2013. Hal ini mengindikasikan bahwa nasabah makin sadar akan pentingnya asuransi sebagai kebutuhan jangka panjang.

Untuk diketahui, klaim surrender masih merupakan kontributor terbesar dari total klaim, yaitu sebesar 45,2 persen. Sepanjang 2014, total klaim dan manfaat Rp74,65 triliun.

  • Baca juga: Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

                                    

Asuransi Umum

 

Dari lini asuransi umum (kerugian) catatan positif juga berhasil dibukukan industri sepanjang tahun 2014 dengan perolehan premi Rp55,1 triliun. Angka itu mengalami pertumbuhan 18 persen dari kinerja premi asuransi umum 2013 sebesar Rp46,7 triliun. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat premi bruto asuransi umum pada 2014 sebesar Rp55,17 triliun atau naik 17,88 persem dibandingkan tahun sebelumnya Rp46,8 triliun.

Pertumbuhan terbesar dikontribusikan oleh lini usaha asuransi surety bond (penjaminan) sebesar 105 persen, disusul kenaikan lini usaha asuransi energi sebesar 33 persen.

Namun, secara nominal pertumbuhan terbesar dibukukan oleh lini usaha asuransi properti (harta benda) sebesar Rp3,4 triliun.

Sementara itu, klaim bruto pada 2014 tercatat sebesar Rp23,5 triliun atau naik 28,41 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp18,3 triliun.

Peningkatan klaim tertinggi periode ini terjadi pada lini usaha asuransi suretybond sebesar 417,3 persen, namun secara nominal peningkatan klaim terbesar dibukukan oleh lini usaha asuransi properti sebesar Rp1,5 triliun.

Di tengah tren kinerja industry asuransi umum yang positif, CEO of Allianz Global Corporate & Specialty SE (AGCS) Chris Fischer Hir mengingatkan akan risiko terbesar yang akan mungkin terjadi di industri asuransi umum, yakni risiko gangguan usaha pada jaringan distribusi (supply chain).

Tak tanggung-tanggung, risiko supply chain di industri asuransi kerugianmencapai 46 persen. Hal ini berdasarkanpada studi dilakukan melalui surveykepada lebih dari 500 pengelola risiko(risk managers) ditambah dengan paraahli perasuransian di Allianz dan parapelaku bisnis global di 47 negara.

Sementara risiko bencana alam mengiktui di level 30 persen, serta risiko kebakaran dan ledakan 27 persen. Risiko dari dunia maya dan risiko politik juga diperkirakan akan berkembang menjadi risiko besar. “Risiko dunia maya dan politik baru dikhawatirkan sebesar 17 persen dan 11 persen saat ini,” ujar Chris.

Dijelaskan dia, meningkatnya saling ketergantungan antara industri dan proses bisnis, menciptakan skenario gangguan usaha baru, sehingga dampak negatif dapat menyebabkan efek berkali lipat karena satu risiko dapat menyebabkan risiko lainnya.

Sementara Wakil Direktur Utama PT Asuransi Allianz Utama Indonesia Wiyono Sutioso menambahkan, potensi bencana alam atau serangan dunia maya tidak hanya menyebabkan gangguan bisnis pada satu perusahaan saja, tetapi juga seluruh sektor bisnis, bahkan infrastruktur utama. “Manajemen risiko harus dapat merefleksikan fakta terbaru ini. Mengidentifikasi tingkat bencana di masingmasing daerah,” kata Wiyono.

Di Indonesia, faktor risiko bisnis terbesar datang dari bencana alam, selain risiko kebakaran dan ledakan. Letak dan struktur geografis dari negara Indonesia menjadikannya negara paling rentan terhadap bencana.

Sementara itu, pelemahan nilai tukar rupiah yang kini terjadi berimbas pada bisnis asuransi. Namun tidak semua sector bisnis terpengaruh gejolak kurs tersebut.

  • Baca juga: Bicara di Forum IMF-World Bank: Wadirut Bank BSN Dorong Integrasi Pasar Syariah ASEAN

Menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Julian Noor, melemahnya rupiah akan memengaruhi harga jual kendaraan bermotor yang sebagian komponennya masih diimpor dari luar negeri. Naiknya harga, lanjut Julian, berimbas pada daya beli masyarakat yang juga mempengaruhi penjualan kendaraan bermotor.

“Kita sangat terpengaruh dengan pertumbuhan ekonomi. Bagaimana infrastruktur dibangun, makin banyak yang dibangun, makin banyak potensi premi,” ujar Julian.

 
 
 
 
 
Previous Post

Asing Tak Bisa Dibendung

Next Post

Rupiah Yang Membingungkan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

by Stella Gracia
16 Oktober 2026 - 21:02

BNI menyabet peringkat keempat Top 10 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026 berkat penguatan kanal digital wondr...

Porsi Kredit Produktif Tembus 62 Persen: Bank BPD Bali Salurkan Pembiayaan UMKM Rp14,15 Triliun

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

by Sandy Romualdus
16 Oktober 2026 - 20:36

Bank BPD Bali meraup laba Rp1 triliun dan menyalurkan kredit UMKM Rp14,43 triliun per kuartal III/2026 dengan NPL Gross terjaga...

Bicara di Forum IMF-World Bank: Wadirut Bank BSN Dorong Integrasi Pasar Syariah ASEAN

Bicara di Forum IMF-World Bank: Wadirut Bank BSN Dorong Integrasi Pasar Syariah ASEAN

by Sandy Romualdus
15 Oktober 2026 - 15:56

Wadirut Bank BSN Arga M. Nugraha menyerukan integrasi pasar keuangan syariah ASEAN guna melayani 250 juta umat Muslim di forum...

Pilar Inklusi dari Binjai Utara: Kisah Shifa Celluler Perluas Akses dan Literasi Keuangan Lansia

Lebih dari Sekadar Modal, KUR BRI Dorong Toko Grosir Fitriani Ciptakan Lapangan Kerja di Pesawaran

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 11:48

Berkat pembiayaan KUR BRI, Fitriani berhasil kembangkan kios kecil di Pesawaran jadi toko grosir sembako dan buka lapangan kerja warga...

Pilar Inklusi dari Binjai Utara: Kisah Shifa Celluler Perluas Akses dan Literasi Keuangan Lansia

Pilar Inklusi dari Binjai Utara: Kisah Shifa Celluler Perluas Akses dan Literasi Keuangan Lansia

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 09:49

Shifa Celluler di Binjai Utara jadi ujung tombak inklusi dan literasi keuangan BRI, layani 4.500 transaksi bulanan serta dampingi nasabah...

Porsi Kredit Produktif Tembus 62 Persen: Bank BPD Bali Salurkan Pembiayaan UMKM Rp14,15 Triliun

Apresiasi Layanan Pensiun Prima: Dirut Bank BPD Bali Nyoman Sudharma Tegaskan Komitmen Sinergi Digital

by Sandy Romualdus
14 Oktober 2026 - 20:31

Bank BPD Bali meraih predikat Terbaik II Mitra Kerja Pembayaran Pensiun dari PT Taspen dan Ditjen Perbendaharaan atas layanan prima...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
BNI Biayai Cold Storage & Pabrik Es Batu Berskala Besar

BNI Biayai Cold Storage & Pabrik Es Batu Berskala Besar

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance