• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Finance

Asing Tak Bisa Dibendung

by Sandy Romualdus
10 Mei 2015 - 00:00
21
VIEWS
Asing Tak Bisa Dibendung
0
SHARES
21
VIEWS

Ketidakpastian seringkali menjadi jimat keberuntungan bagi pasar modal Indonesia. Ketika dunia masih dibayangi ketidakpastian global terkait kebijakan suku bunga The Fed, harga minyak dunia, masalah utang Yunani serta pelemahan ekonomi Tiongkok, danadana asing mengalir ke bursa Indonesia.

Apapun alasannya, entah itu kepercayaan investor asing yang masih tinggi atau karena menanamkan portofolio di Indonesia masih menguntungkan, bukan lagi hal penting. Pokoknya begitu, pasar keuangan dunia dilanda ketidakpastian, dana-dana asing pasti mencari tempat yang bias memberikan keuntungan lebih. Dari catatan otoritas bursa, sejak awal Januari hingga 27 Maret yearto date (ytd) terjadi aksi beli bersih (net buy) asing sebesar Rp4,6 triliun.

  • Baca juga: BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Bahkan sepanjang 2014 terjadi net buy asing sebesar Rp42,6 triliun. Tak biasdipungkiri, maju-mundurnya kebijakannormalisasi ekonomi AS membuat para hedge fund, tetap memilih Indonesiayang dianggap masih atraktif.Bahkan aksi profit taking investorasing tak mampu membuat dana-danaitu keluar seluruhnya. Berdasarkan datayang sama pada periode 23-27 Maret2015, investor asing asing menjualportofolio sahamnya sebesar Rp2,6triliun karena ingin merealisasikankeuantungan (gain).

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Analis pasar modal memperkirakan bahwa dana asing tidak akan berhenti masuk ke pasar modal. “Kami perkirakan target net buy tahun 2015 di kisaran Rp45-47 triliun dengan asumsi kondisi global membaik,” ujar Reza Priyambada, Kepala Riset NH Korindo Securities. Sementara itu, hingga 26 Maret 2015 dana asing di surat berharga negara (SBN) mencapai Rp 500,63 triliun (outstanding), atau bertambah Rp 39,35 triliun dari posisi akhir 2014 sebesar Rp 461,35 triliun.

Reza mengatakan, secara umum, investor asing masih melihat positif berinvestasi di pasar modal Indonesia sepanjang kondisi kebijakan suku bunga The Fed, harga minyak, penyelesaian utang Yunani, dan perlambatan ekonomi Tiongkok, tidak banyak berubah.

Sedangkan dari internal, rupiah yang masih cenderung melemah dilihat oleh pemodal asing akan membebani emiten terutama untuk membayar utang dan membiayai impor. Apalagi banyak emiten yang tidak melakukan lindung nilai (hedging).

Di sisi lain, pemodal asing juga masih wait and see terhadap paket kebijakan pemerintah yang belum bisa direalisasikan dalam waktu dekat. Sedangkan kebijakan harga BBM yang mengikuti harga pasar menciptakan ketidakpastian dan memberikan beban tambahan biaya bagi emiten.

Menurut dia, tren investasi sepanjang 2015 ini tidak jauh berbeda dengan 2014. “IHSG tahun ini bias tumbuh lebih tinggi dari tahun lalu, ke level 5.600- 5.700 pada akhir tahun, dengan asumsi global membaik,” ujar Reza.

Sedangkan menurut Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee, secara fundamental, investor asing optimistis terhadap pasar modal Indonesia. Investor tidak melihat faktor internal ada masalah. Dia menilai keluarnya dana asing pekan lalu dari pasar modal Indonesia karena investor asing cenderung menyeimbangkan portofolio mereka, akibat pengaruh rencana The Fed menaikkan suku bunga. Hans melanjutkan, dana asing yang masuk ke pasar modal Indonesia sebagian besar merupakan pinjaman yang berasal dari perbankan Amerika Serikat (AS), sehingga investor asing langsung menyesuaikan portofolionya sesuai dengan rencana kebijakan The Fed.

Kondisi itu akan tetap berlangsung hingga hingga The Fed memberi kepastian soal tingkat suku bunganya yang baru. Selain soal bunga The Fed, potensi naiknya harga minyak juga bias membuat dana-dana asing itu bergerak kembali mencari tempat baru dan meningkatkan risiko ekonomi Indonesia.

Jika dana asing banyak yang keluar maka, kondisi defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/) yang sedang dialami Indonesia akan makin memburuk. “Langkah pemerintah untuk mengantisipasi keluarnya dana asing sebenarnya sudah tepat. Hal penting yang harus dilakukan pemerintah adalah menenangkan pelaku pasar,” ucap Hans.

  • Baca juga: Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

 

Investor Domestik

 

Sementara itu, Kepala Eksekutif Bidang Pengawasan Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida menilai, perbaikan ekonomi di dunia berpotensi memicu goncangan di pasar modal domestik. Hal itu lantaran nilai kapitalisasi asing di pasar modal Indonesia masih mayoritas atau mencapai lebih dari 60 persen.

“Kapitalisasi di pasar modal kita, investor asing sudah lebih dari 60 persen. Yang kita butuhkan saat ini adalah keseimbangan (balance) dengan investor domestik,” ujarnya di Jakarta.

Nurhaida menjelaskan, ketangguhan pasar modal akan bergantung pada investor yang paling mendominasi nilai kapitalisasi. Menurutnya, jika perbaikan ekonomi di luar negeri tidak diiringi dengan perbaikan di dalam negeri maka akan menggoncang pasar modal domestik. “Kalau di negara lain ada potensi investasi yang bagus, asing akan keluar maka pasar kita akan goncang,” ujarnya.

Diakui memang, dominasi kepemilikan saham oleh investor asing rentan membuat kinerja pasar modal fluktuatif karena ada potensi penarikan dana setiap saat (capital out flow).

Dominasi investor asing memang masih terjadi dalam hal kepemilikan saham di BEI. Akan tetapi dominasi ini sempat melemah. Pada akhir tahun 2008, total kepemilikan saham oleh investor asing di bursa Indonesia tercatat hampir dua kali lipat dari total kepemilikan saham oleh investor lokal. Namun, gap ini semakin menipis.

Pada tahun 2012, posisi kepemilikan saham antara investor lokal dan asing telah menjadi 41 persen berbanding 59 persen. Sedangkan hingga semester pertama tahun ini, komposisi kepemilikan asset saham oleh investor lokal semakin meningkat menjadi 43 persen atau sebesar Rp1.229,44 triliun.

Lain saham, lain lagi dengan efek berupa obligasi dan sukuk. Jika di saham asing masih mendominasi kepemilikan maka investor domestik justru menguasai kepemilikan efek obligasi dan sukuk jauh meninggalkan kompetitornya tersebut.

  • Baca juga: Bicara di Forum IMF-World Bank: Wadirut Bank BSN Dorong Integrasi Pasar Syariah ASEAN

Oleh karena itu, otoritas berharap, pasar modal bisa menciptakan pertumbuhan investor domestic untuk mengimbangi investor asing. Saat ini, jumlah investor domestik masih sekitar 1 persen dari jumlah penduduk.

Jumlah itu adalah yang paling kecil dibanding negara-negara di kawasan. OJK terus mencari cara agar makin banyak masyarakat Indonesia yang mau berinvestasi di pasar modal. Menurut Nurhaida, ada tiga building block yang paling penting untuk diperhatikan dalam upaya membangun financial market deepening, yaitu peningkatan sisi supply, demand dan infrastruktur pasar modal. “Selain berupaya menumbuhkan jumlah investor, pendalaman pasar keuangan domestik juga perlu dibarengi dari peningkatan keragaman produk investasi dan pengembangan infrastruktur pasar modal,” tuturnya.

 
 
 
 
 
Previous Post

Three Lines Of Defense

Next Post

Jelang Puncak Pertumbuhan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

by Stella Gracia
16 Oktober 2026 - 21:02

BNI menyabet peringkat keempat Top 10 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026 berkat penguatan kanal digital wondr...

Porsi Kredit Produktif Tembus 62 Persen: Bank BPD Bali Salurkan Pembiayaan UMKM Rp14,15 Triliun

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

by Sandy Romualdus
16 Oktober 2026 - 20:36

Bank BPD Bali meraup laba Rp1 triliun dan menyalurkan kredit UMKM Rp14,43 triliun per kuartal III/2026 dengan NPL Gross terjaga...

Bicara di Forum IMF-World Bank: Wadirut Bank BSN Dorong Integrasi Pasar Syariah ASEAN

Bicara di Forum IMF-World Bank: Wadirut Bank BSN Dorong Integrasi Pasar Syariah ASEAN

by Sandy Romualdus
15 Oktober 2026 - 15:56

Wadirut Bank BSN Arga M. Nugraha menyerukan integrasi pasar keuangan syariah ASEAN guna melayani 250 juta umat Muslim di forum...

Pilar Inklusi dari Binjai Utara: Kisah Shifa Celluler Perluas Akses dan Literasi Keuangan Lansia

Lebih dari Sekadar Modal, KUR BRI Dorong Toko Grosir Fitriani Ciptakan Lapangan Kerja di Pesawaran

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 11:48

Berkat pembiayaan KUR BRI, Fitriani berhasil kembangkan kios kecil di Pesawaran jadi toko grosir sembako dan buka lapangan kerja warga...

Pilar Inklusi dari Binjai Utara: Kisah Shifa Celluler Perluas Akses dan Literasi Keuangan Lansia

Pilar Inklusi dari Binjai Utara: Kisah Shifa Celluler Perluas Akses dan Literasi Keuangan Lansia

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 09:49

Shifa Celluler di Binjai Utara jadi ujung tombak inklusi dan literasi keuangan BRI, layani 4.500 transaksi bulanan serta dampingi nasabah...

Porsi Kredit Produktif Tembus 62 Persen: Bank BPD Bali Salurkan Pembiayaan UMKM Rp14,15 Triliun

Apresiasi Layanan Pensiun Prima: Dirut Bank BPD Bali Nyoman Sudharma Tegaskan Komitmen Sinergi Digital

by Sandy Romualdus
14 Oktober 2026 - 20:31

Bank BPD Bali meraih predikat Terbaik II Mitra Kerja Pembayaran Pensiun dari PT Taspen dan Ditjen Perbendaharaan atas layanan prima...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
BNI Biayai Cold Storage & Pabrik Es Batu Berskala Besar

BNI Biayai Cold Storage & Pabrik Es Batu Berskala Besar

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance