Patah arang tidak pernah ada dalam kamus hidup seorang Norlent Pasaribu. Jika ada, tentulah dia tidak akan sampai kepada posisinya sekarang ini. Terlahir dari keluarga yang serba tak berkecukupan tak lantas membuat Norlent putus asa. Bahkan hal itu memacunya untuk terus berupaya keras dan pantang menyerah.
Tidak mengherankan jika sejak kecil anak kelima dari sepuluh bersaudara itu sudah akrab dengan yang namanya kerja keras. Menjadi buruh tani, menggembala kerbau hingga menjual es lilin sudah mewarnai hari-harinya di usia yang sepantasnya diisi dengan bermain. Malahan saat Norlent di sekolah menengah, dia membantu guru memasang instalasi listrik di proyek bangunan sehingga dapat membantu uang sekolahnya hingga tamat. ”Kalau saya tidak fight, tidak mungkin saya bisa seperti sekarang ini,” ujar Norlent.
Setelah selama 20 tahun lebih bekerja di berbagai perusahaan di bidang pertambangan, manufaktur, pengiriman barang, dan logistik, akhirnya pria kelahiran Kampung Pon, Deli Serdang, Sumatra Utara menikmati hasil jerih payahnya.
BERITA TERKAIT
Tahun lalu, Norlent diangkat sebagai Direktur Cigading International Bulk Company (CIBT), perusahaan pengelola terminal batubara yang terletak di Provinsi Banten. CIBT mengelola terminal batubara terbesar di Indonesia yang terletak di kawasan tak jauh dari Krakatau Steel, perusahaan baja nasional terkemuka.
Secara geografis, terminal batubara ini sangat strategis karena terletak di antara dua pulau penghasil batubara terbesar yakni Sumatra dan Kalimantan. CIBT sendiri anak dari Malayan Tin Dredging (MTD), salah satu perusahaan di bidang infrastruktur asal Malaysia.
“Di Kalimantan terdapat 51 miliar metric ton batubara, sedangkan di Sumatra 52 miliar metric ton. Dua pulau ini penghasil batubara terbanyak di Indonesia disusul kemudian Sulawesi dengan 23 juta metric ton batubara dan Papua 15 juta metric ton. Untuk itulah CIBT kami ciptakan di tengah-tengah Sumatra dan Kalimantan untuk para buyer dan negara-negara buyer,” ujar lulusan manajemen, hukum dan bisnis administrasi ini.
Sosok Norlent yang pekerja keras dan pantang menyerah memang bisa terlihat dari kegiatan CIBT. Perusahaan itu memang tak pernah libur, beroperasi 24 jam sehari, 30 hari sebulan dan 365 hari pertahun. Hal itu demi memenuhi permintaan pembeli batubara dari negara-negara luar, terutama China dan India yang sangat antusias. “Saking antusiasnya kami tidak bisa menampung semua kebutuhan mereka. Sehingga kami harus memilih perusahaan yang mampu membuat kontrak jangka panjang dengan kami,” ujar Norlent.
Dia mengatakan, CIBT yang beroperasi saat ini masih dalam tahap awal. Ke depannya kapasitas bongkar muat batubara dari Indonesia ke negara-negara pengimpor akan terus ditingkatkan. “Bisnis ini masih dalam tahap awal. Jika pada tahun 2011 kami melakukan bongkar muat sebanyak 6 juta metric ton, maka di 2012 rencana kami akan bertambah menjadi 10 juta metric ton,” kata bapak dari tiga orang anak ini.
Motivator Ulung
Namun ada sisi lain dari kerja keras dan semangat yang membuat Norlent jadi seseorang from nothing to something. Norlent adalah seorang motivator sekaligus pembicara handal tentang membangun bisnis. Kerapkali pria kelahiran 22 Februari 1966 ini megadakan pelatihan dan seminar di dalam maupun luar negeri untuk menjelaskan kiat membangun bisnis dan sukses dalam pekerjaan.
Bahkan di sela-sela kesibukannya, Norlent masih sempat menelurkan karya tulisan. Salah satu bukunya yang berjudul “Find Your Diamond” berisi sejumlah tulisan yang menginspirasi dan memotivasi siapa pun yang ingin meraih sukses dalam hidup. “Dalam buku saya menggambarkan karier maupun pengalaman saya dalam dunia pekerjaan. Apa yang saya sudah lakukan itu sangat relevan dengan apa yang ditulis di buku ini.”
Bagi Norlent, hidup adalah sebuah perjuangan yang harus dilalui semua orang. Akan menjadi kebahagiaan apabila disyukuri setiap saat. Bagi dia, apapun yang didapat manusia, jika dipelihara, dihargai dan dijaga maka semua itu akan terus meningkat. “Bagaimana mungkin Anda mendapatkan hal-hal yang lebih besar jika Anda tidak bersyukur atas hal-hal yang kecil yang Anda miliki sekarang?”
Setelah rasa syukur, Norlent mengatakan bahwa seseorang harus mengenali diri sendiri dan selalu menjadi yang terbaik. “Menjadi apapun, jadilah yang terbaik, jadi tukang becak jadilah tukang becak yang terbaik,”
Seseorang juga harus memiliki visi yang diibaratkannya sebagai kompas yang menunjukkan arah. “Tentunya harus dibarengi dengan keahlian. Awalnya keahlian saya bisa berbahasa Inggris dan komputer. Dua modal itu membuat saya bekerja di Freeport. Kalau kita hanya bawa ijazah, tanpa keahlian terus mau bagaimana?” ujar pria yang menguasai beberapa bahasa di antaranya China dan India ini. Menurutnya, jika seseorang sudah menguasai bahasa, maka 50 persen ilmu sudah dikuasai.
Selama ini Norlent selalu memegang teguh tiga kata dari China yang selalu menginspirasinya dalam memimpin yaitu 3C, cuan, cengli dan cincai. Pertama cuan, harus ada untung. “Kalau kita dipercaya untuk mengelola perusahaan maka kita harus bisa membuktikan untungnya, kalau ga ada untung saya taruh saja di bank.”
Kedua cengli, yang artinya harus berbuat adil atau fair. “Jangan terlalu banyak keuntungan. Kalau sudah ada keuntungan banyak ya bagi-bagi lah.”
Ketiga cincai, jangan kaku. “Dalam berhubungan dengan customer maupun anak buah jangan terlalu kaku. Kalau kamu tidak kaku, maka orang lain tidak akan kaku.”
Terakhir dia mengatakan, kita boleh kehilangan apapun dalam hidup, namun yang satu ini jangan pernah hilang yaitu semangat. “Kita sering kehilangan sesuatu dalam hidup, tapi tetaplah semangat. Kalau kita dilihat semangat oleh karyawanmu maka karyawanmu akan semangat, kalau anakmu melihatmu semangat, maka dia akan semangat. Tetaplah tegar. Itu yang akan membuatmu akan diapresiasi dengan baik.” SP





.jpg)










