Jakarta – Langkah awal Bank Indonesia menggalakkan national payment gateway (NPG) mulai terrwujud dengan proses interkoneksi ATM BCA dan Bank Mandiri lewat keikutsertaan Bank Mandiri dalam jaringan ATM Prima. Diharapkan, interkoneksi tersebut akan mampu mendorong efisiensi lebih jauh dalam investasi infrastruktur ATM.
"Dengan berhasilnya kerja sama ini, akan memberikan kemudahan efisiensi baik pada industri maupun nasabah sendiri. Sebagai regulator, kepentingan utama BI bagaimana menyusun standard yang menjamin sekuriti, efisiensi, tapi juga kenyamanan nasabah," ujar Gubernur BI Darmin Nasution ketika meresmikan interkoneksi ATM BCA dengan Bank Mandiri di Gedung BI, Jakarta, Senin (16/1).
Dijelaskan Darmin, kerja sama ini menjadi ketersambungan tidak hanya nasabah di kedua bank terbesar tersebut, tapi juga 47 bank anggota ATM Prima lainnya. Dengan bergabungnya Bank Mandiri, anggota jaringan ATM yang dikelola PT Rintis Sejahtera menjadi 49 bank. "Ini sudah menyangkut sebagian besar nasabah ATM dan kartu debet," jelas Darmin.
BERITA TERKAIT
Jumlah kartu ATM yang saat ini beredar di masyarakat merupakan 61 juta kartu dengan volume transaksi harian 6,6 juta kali per hari dengan nilai melebihi Rp 7 triliun. "Kita sudah siapkan langkah lanjutan setelah ini. Masih panjang yang harus ita benahi, fondasinya, sekurit, keamanan, efisiensi, daya saing, dan perlindungan perbankan nasional," kata Darmin.
Seperti diketahui, interkoneksi tersebut merupakan kelanjutan nota kesepahaman yang ditandatangani tiga bulan lalu. Sekarang, nasabah Bank Mandiri dapat memanfaatkan 31.700 ATM dalam jaringan ATM Prima, termasuk 8.578 ATM BCA. Sebaliknya, ATM Bank Mandiri yang berjumlh 8.993 dapat tersambung dengan ATM Prima. ATM Bank Mandiri sendiri juga terkoneksi ke lebih dari 21.000 jaringan ATM Link, 30.000 ATM Bersama, dan lebih dari 1,7 juta ATM Visa Internasional.
Mulai dari kemarin, nasabah kedua bank terbesar tersebut dapat saling bertransaksi dengan biaya transfer dan tarik tunai Rp 5.000 sementara cek saldo Rp 3.000.
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, kerja sama ini menjadikan efisiensi investasi perbankan lebih baik. Sebab, pembeliaan mesin ATM baru memakan US$7.000 per mesin, sementara pengelolaannya memakan biaya pengelolaan, asuransi, hingga logistik. Dengan kerja sama tersebut, perbankan dapat sama-sama mengefisienkan pengeluaran infrastruktur.
Jahja juga berharap kerja sama ini dapat semakin mengedukasi nasabah untuk menjadi cash-less society. "ATM jangan hanya untuk tarik tunai, tapi transaksi antarbank, pindah buku, cek saldo," katanya. Hal tersebut, lanjut Jahja, dapat mendorong efisiensi dalam hal percetakan uang negara.
Kerja sama ini, dijelaskan Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini, akan dilanjutkan dengan masuknya BCA ke jaringan ATM Link, jaringan ATM milik bank-bank BUMN. "Mudah-mudahan proses masuknya BCA ke link dapat segera terlaksana. Ini taap awal kerja sama BCA dengan ATM Link," jelasnya.
BCA belum masuk ke jaringan ATM Link karena terkendala pengelolaan ATM Link yang belum berbadan hukum. Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo mengatakan, Himpunan Bank-bank milik Negara (Himbara) yang tadinya paguyuban akan dtingkatkan menjadi badan hukum. "Sekarang sudah di Kementerian Hukum dan HAM. Himbara yang kelola (ATM Link), jadi ada unit bisnisnya, ada paguyubannya," jelasnya.
Presiden Direktur PT Rintis Sejahtera Iwan Setiawan mengatakan, ia berharap rencana ketersambungan lewat NPG ini tidak menjadikan perbankan malas berinvestasi dalam infrastruktur. "Jangan sampai persaingan perbankan jadi terganggu. Bank-bank yang rajin nambah ATM dan infrastruktur jadi tidak menambah," jelas Iwan.
BCA sendiri memastikan tetap akan membangun 3.500 mesin ATM baru di seluruh Indonesia untuk 2012. Tahun lalu, bank tersebut membangun sekitar 700 ATM. Zulkifli mengatakan, banknya belum meyelesaikan pembahasan Rencana Bisnis Bank sehingga belum dapat mengatakan jumlah tambahan ATM tahun ini.
Efisiensi Sektor Riil
Selain industri perbankan, Darmin juga meminta sektor riil untuk menerapkan efisiensi. Menurutnya, BI tengah mendorong efisiensi perbankan dari segala sisi, mulai dari menekan rasio beban operasional dengan pendapatan operasional (BOPO), hingga efisiensi sistem pembayaran. "Intinya mengelola ekonomi lebih efisien. Bukan hanya perbankan yang butuh efisiensi. Sektor riil juga perlu ada efisiensi," kata Darmin.
"Efisiensi sektor riil mulai dari perizinan, pengadaan lahan, sektor perlistrikan, pelabuhan, semua. Pelabuhan banyak yang harus diefisienkan. Kita sudah sampaikan ke otoritas untuk melakukan hal yang sama. Jadi perekonomian nggak bisa dilihat sepotong-sepotong: pelabuhan, listrik, bank, sumber daya manusia," papar Darmin.






.jpg)










