Kredit perbankan melesat 13,3 persen ke Rp9.019 triliun pada Agustus 2026, memicu pengetatan likuiditas dengan estimasi LDR riil mencapai 97,2 persen.
Stabilitas.id — Likuiditas industri perbankan nasional kian mengetat seiring laju pertumbuhan kredit yang melesat jauh melampaui penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).
Riset Mirae Asset Sekuritas tertanggal 25 September 2026 mencatat total penyaluran kredit perbankan menembus Rp9.019 triliun pada Agustus 2026, tumbuh 13,3 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Laju ekspansi pembiayaan produktif ini memperlebar jurang dengan DPK yang hanya tumbuh 7,7 persen YoY.
Akselerasi kredit perbankan ditopang oleh segmen investasi yang melesat 23,4 persen YoY. Kredit modal kerja turut tumbuh dua digit sebesar 12,3 persen YoY. Sebaliknya, pertumbuhan kredit konsumsi tercatat melandai di level 5 persen YoY.
BERITA TERKAIT
Secara tahun berjalan (year-to-date/YTD), realisasi kredit telah mencapai 6,8 persen. Angka ini masih sejalan dengan rentang target Bank Indonesia sebesar 8–12 persen pada 2026.
Analis Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nurkholis Syafruddin menilai permintaan pembiayaan dunia usaha masih sangat solid meski ruang likuiditas kian terbatas.
“Pertumbuhan kredit investasi dan modal kerja terus mengalami akselerasi, menunjukkan bahwa permintaan kredit tetap sehat meski likuiditas sistem semakin terbatas,” tulis Nurkholis dalam risetnya.
Di sisi simpanan, total DPK perbankan tercatat sebesar Rp9.733 triliun per Agustus 2026. Secara YTD, DPK baru tumbuh 2,8 persen, tertinggal 4 poin persentase dari laju kredit. Lambatnya pertumbuhan DPK terutama dipicu oleh deposito berjangka yang hanya tumbuh 4,7 persen YoY, meski dana murah (CASA) naik 9,5 persen YoY.
Kesenjangan ini memicu pengetatan rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR). Secara headline, LDR tercatat stabil di 92,7 persen. Namun, Mirae Asset memperkirakan LDR riil telah menyentuh 97,2 persen jika likuiditas Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah sekitar Rp451 triliun dikeluarkan dari perhitungan. Angka ini mendekati rekor tertinggi 99,5 persen pada 2019.
Nurkholis mengingatkan bank akan menghadapi persaingan ketat dalam berburu likuiditas, terlebih dana SAL diproyeksikan menyusut menjadi Rp200 triliun pada akhir 2026.
“Bank perlu mengakomodasi permintaan kredit produktif yang terus berlanjut sembari bersaing mendapatkan deposito organik yang relatif terbatas,” tambahnya.
Merespons kondisi tersebut, Mirae Asset menyukai saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berkat basis pendanaan murah yang solid serta PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang terdorong bisnis emas. Sebaliknya, analis bersikap hati-hati terhadap bank besar Himbara terkait risiko kenaikan biaya dana (cost of fund) dan potensi pemburukan kredit konstruksi. ***

















