CIMB Niaga membukukan laba sebelum pajak Rp5,8 triliun per kuartal III 2026 dengan penyaluran kredit Rp242,6 triliun dan rasio CASA naik ke 72 persen.
Stabilitas.id – PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) mencatatkan kinerja keuangan yang stabil sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Hingga 30 September 2026, perseroan membukukan laba sebelum pajak konsolidasi sebesar Rp5,8 triliun dan laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPoP) stabil di level Rp8,2 triliun, menghasilkan laba bersih per saham (earnings per share) Rp178,65.
Kinerja positif tersebut ditopang oleh total penyaluran kredit dan pembiayaan yang tumbuh 6,7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp242,6 triliun, serta peningkatan dana murah (current account and savings account/CASA) sebesar 4,4 persen YoY mencapai Rp197,0 triliun.
Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga Lani Darmawan menyatakan bahwa perseroan terus menjaga stabilitas kinerja melalui kedisiplinan pengelolaan biaya, peningkatan efisiensi operasional, dan diversifikasi sumber pendapatan di tengah tekanan margin industri.
BERITA TERKAIT
“Di tengah dinamika ekonomi yang masih menantang, kami bersyukur dapat terus menjaga kinerja yang stabil, didukung oleh pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, pengelolaan biaya yang disiplin, serta fokus pada efisiensi operasional. Laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPoP) tetap stabil sebesar Rp8,2 triliun, sementara pendapatan non-bunga tumbuh 7,8% Y-o-Y. Meskipun profitabilitas menghadapi tantangan karena tekanan margin bunga dan peningkatan pencadangan sebagai bagian dari penerapan prinsip kehati-hatian dalam mengelola risiko kredit, kami tetap mampu menjaga kondisi keuangan yang solid. Posisi permodalan dan likuiditas CIMB Niaga tetap baik, dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 23,7%. Fundamental yang solid ini menjadi landasan penting bagi kami untuk terus mendukung pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Lani dalam keterangan resmi, Rabu (28/10/2026).
Lani menambahkan, perseroan akan terus mengawal strategi Forward30 secara disiplin guna memperkuat kualitas aset, memacu pertumbuhan kredit secara selektif, serta mengoptimalkan pendapatan berbasis komisi (fee-based income).
Total aset konsolidasi bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia ini meningkat 4,2 persen YoY menjadi Rp384,8 triliun per 30 September 2026. Likuiditas dan permodalan tetap berada di posisi yang sangat kokoh, tecermin dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 23,7 persen dan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 87,7 persen.
Dari sisi pendanaan, total Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat mencapai Rp273,7 triliun. Porsi dana murah mendominasi struktur pendanaan dengan rasio CASA terkerek naik ke level 72,0 persen, mencerminkan tingginya loyalitas nasabah serta adopsi kanal perbankan digital.
Ekspansi kredit perseroan dipimpin oleh segmen perbankan korporasi yang melesat 15,1 persen YoY, diikuti perbankan komersial yang tumbuh 6,4 persen YoY, dan pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang naik 1,9 persen YoY.
Di lini perbankan syariah, CIMB Niaga Syariah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp49,4 triliun dan menghimpun DPK senilai Rp52,5 triliun. Pada pembiayaan hijau, portofolio pembiayaan berkelanjutan perseroan menembus Rp65 triliun atau berkontribusi sebesar 26,6 persen terhadap total portofolio kredit bank.
Transformasi digital perseroan kian matang dengan 90 persen transaksi nasabah telah beralih ke kanal digital. Pada aplikasi OCTO, volume transaksi QRIS melesat 69 persen YoY, transfer BI-FAST naik 38 persen, dan transaksi investasi digital tumbuh 22 persen YoY. Di segmen korporasi, perseroan memperkuat transaksi institusional melalui peluncuran platform digital terintegrasi OCTOBIZ.
“Fokus kami adalah memperkuat kualitas aset, mendorong pertumbuhan kredit secara selektif, mengoptimalkan komposisi pendanaan, serta meningkatkan pendapatan berbasis komisi yang berkelanjutan, dengan tetap menjaga efisiensi biaya,” pungkas Lani. ***

















