Stabilitas.id – Kota jarang benar-benar berhenti. Bahkan ketika lampu lalu lintas berganti merah dan kantor mulai sepi, layar-layar digital tetap menyala, pikiran tetap bekerja, dan tekanan hidup terus mengalir. Di ruang urban yang serba cepat, kelelahan mental kerap hadir tanpa gejala yang kentara—menumpuk perlahan, lalu meledak dalam bentuk kecemasan, sulit tidur, atau rasa hampa yang sulit dijelaskan.
Isu kesehatan mental masyarakat urban kini tidak lagi dapat dipisahkan dari bagaimana kota dirancang dan dialami. Rumah, ruang publik, bahkan koridor-koridor transisi seperti halte dan taman kota, memainkan peran penting dalam membentuk kondisi emosional warganya. Di tengah kesadaran inilah, pendekatan warna dan desain ruang kembali dipertanyakan: mampukah kota menyediakan ruang untuk menurunkan ritme?
Peluncuran Colours of The Year 2026 dari Dulux bertajuk Rhythm of Blues™ hadir dalam konteks tersebut. Lebih dari sekadar tren warna, pendekatan ini berangkat dari riset tentang relasi manusia dengan ruang di tengah tekanan hidup modern. Melalui kampanye #TemukanTenangmu, Dulux mencoba menempatkan warna sebagai medium yang membantu masyarakat menemukan jeda—baik di rumah maupun di ruang publik.
Pendekatan ini terasa relevan di kota-kota besar, di mana ruang publik sering kali didesain untuk efisiensi dan pergerakan cepat, bukan untuk berhenti. Padahal, berbagai kajian urban menunjukkan bahwa kota yang sehat membutuhkan ruang-ruang transisi—tempat warga bisa duduk, bernapas, dan menenangkan diri tanpa tuntutan produktivitas.
Dalam Rhythm of Blues™, spektrum biru dihadirkan sebagai respons atas kebutuhan tersebut. Slow Swing™, biru gelap yang menenangkan, memberi rasa teduh dan aman—nuansa yang kerap dibutuhkan di ruang-ruang pemulihan seperti kamar tidur, ruang baca, atau sudut refleksi. Mellow Flow™, biru lembut yang terang, menawarkan keseimbangan yang cocok untuk ruang komunal, baik di rumah maupun fasilitas publik. Sementara Free Groove™, biru yang lebih ekspresif, memberi energi kreatif tanpa menghadirkan stimulasi berlebihan.
Warna biru telah lama dikaitkan dengan stabilitas dan ketenangan emosional. Dalam konteks desain ruang publik, biru membantu menurunkan intensitas visual kota yang kerap dipenuhi warna kontras dan cahaya buatan. Warna menjadi alat yang bekerja halus, tetapi berdampak nyata dalam pengalaman ruang.
Head of Marketing AkzoNobel Decorative Paints Indonesia, Niluh Putu Ayu Setiawati, menyampaikan bahwa pendekatan ini berangkat dari kesadaran akan keberagaman ritme hidup masyarakat urban.
“Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menemukan ketenangan. Melalui Rhythm of Blues™, kami ingin mengajak masyarakat melihat warna sebagai bagian dari solusi ruang—baik di rumah maupun di ruang publik—yang mendukung rasa aman dan seimbang,” ujarnya.
Dari perspektif perancangan kota, Teguh Aryanto, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, menilai bahwa isu kesehatan mental semakin memengaruhi praktik desain ruang publik.
“Kota tidak bisa hanya dirancang untuk bergerak cepat. Kita membutuhkan ruang-ruang yang memungkinkan orang melambat. Warna, termasuk spektrum biru, membantu menurunkan tekanan visual dan menciptakan rasa stabil di tengah hiruk-pikuk kota,” tuturnya.
Kebutuhan ini semakin terasa bagi kelompok rentan, termasuk anak-anak dan individu dengan neurodiverse. Sylvia M. Siregar, Founder & Board of Patrons Filoksenia Foundation, menekankan bahwa ruang publik yang terlalu bising secara visual dapat memperparah kecemasan.
“Lingkungan visual yang tepat—termasuk penggunaan warna yang menenangkan—dapat membantu meredam overstimulasi. Di ruang publik yang ramah secara emosional, anak-anak dapat merasa lebih aman dan fokus,” ujarnya.
Pendekatan warna juga mendapat perhatian dari sudut pandang feng shui, yang melihat rumah dan kota sebagai sistem energi. Jenie, praktisi feng shui, menilai bahwa warna biru berperan penting dalam membantu masyarakat urban menurunkan ritme hidup.
“Di kota yang penuh tekanan, rumah dan ruang publik idealnya membantu kita ‘turun gigi’. Nuansa biru yang tepat bisa menyeimbangkan energi, membuat ruang terasa lebih tenang tanpa kehilangan vitalitas,” katanya.
Di tengah meningkatnya diskursus tentang urban mental health, pendekatan desain yang berorientasi pada kesejahteraan menjadi semakin relevan. Warna, sebagai elemen yang paling mudah diakses dalam desain ruang, menawarkan solusi yang sederhana namun berdampak.
Mungkin kota tidak akan pernah benar-benar sunyi. Namun, melalui ruang dan warna yang dirancang dengan kesadaran akan kebutuhan manusia, kota dapat menjadi tempat yang lebih ramah bagi kesehatan mental warganya. Di sanalah, di antara dinding, trotoar, dan ruang terbuka, manusia urban menemukan kembali jeda—dan ketenangan yang selama ini dicari. ***





.jpg)










