• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Selasa, Oktober 6, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Finance

Mengembalikan Pengaruh BI Rate

by Sandy Romualdus
17 Desember 2011 - 00:00
10
VIEWS
Mengembalikan Pengaruh BI Rate
0
SHARES
10
VIEWS

BI tengah menyiapkan kebijakan yang berbeda agar langkah penurunan BI Rate bisa diikuti oleh perbankan dengan menurunkan bunga kredit. Selama ini BI selalu ditelikung oleh perbankan.

Oleh : Yudi Rachman

  • Baca juga: Kerek Cuan Penenun Baduy, BCA Promosikan Wastra Ramah Lingkungan ke Nasabah Kaya

 

BERITA TERKAIT

Kerek Cuan Penenun Baduy, BCA Promosikan Wastra Ramah Lingkungan ke Nasabah Kaya

Ubah Sampah Jadi Biogas: DPRD DKI Apresiasi Inovasi Biodigester Bank Jakarta di Rusunawa Rorotan

Inflasi September 2026 Terjaga 3,28 Persen: Bank Indonesia Kunci Target Sasaran 2,5 Persen

Laba Turun 19 Persen: Astra Tetap Guyur Dividen Interim Rp3,9 Triliun di Tengah Buyback Jumbo

Dalam lima tahun belakangan, belum pernah Bank Indonesia menaikkan dan lalu menurunkan suku bunga acuan dalam satu tahun berjalan. Tetapi tahun ini lain. Sepanjang 2011, BI Rate sempat dikerek satu kali pada Februari dan diturunkan kembali bahkan sampai dua kali berturut-turut pada Oktober dan November.

Tentu otoritas memiliki pertimbangan sendiri mengapa kebijakan tersebut diambil. Antisipasi krisis yang tengah berkecamuk di Eropa dan pemulihan lambat pada ekonomi AS disebutkan menjadi alasannya.

Dalam pernyataan resmi saat mengumumkan penurunan BI Rate, BI mengatakan bahwa langkah tersebut sejalan dengan tekanan inflasi ke depan yang semakin rendah sekaligus sebagai langkah perbaikan terhadap struktur suku bunga (term structure) jangka pendek, menengah dan panjang. ”Penurunan tersebut juga dimaksudkan untuk mengurangi dampak memburuknya prospek ekonomi global terhadap perekonomian Indonesia,” kata siaran pers itu.

Meski demikian tetap saja kebijakan itu dianggap terlalu berani dan mengejutkan oleh beberapa kalangan. Salah satunya datang dari Kepala Ekonom Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa. Dia mengatakan bahwa keputusan Rapat Dewan Gubernur BI untuk menurunkan BI Rate merupakan kebijakan yang mengejutkan karena tekanan inflasi akhir tahun ini diperkirakan masih besar. ”Penurunan BI Rate menjadi enam persen agak mengagetkan, karena meskipun ekspektasi inflasi sampai saat ini year to date masih di bawah 4,5 persen, tapi di akhir tahun ada sedikit kekhawatiran ancaman inflasi dari pangan, artinya bisa saja inflasi lebih besar dari itu,” kata Yudhi.

Menurut prediksinya, dalam jangka pendek, penurunan suku bunga ini dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap pasar. ”Kekhawatiran saya terhadap penurunan ini diekspektasikan negatif oleh pasar sehingga terjadi kepanikan pasar. Capital inflow masih akan terus masuk, seharusnya BI tidak perlu seagresif ini untuk menurunkan BI rate, apalagi penurunan ini tidak bisa terakselerasi langsung kepada sektor riil karena membutuhkan waktu paling lambat empat bulan,” ujar Yudhi.

Namun dia memaklumi jika langkah BI tersebut merupakan upaya antisipasi kemungkinan terburuk apabila terjadi pelambatan ekonomi global. Dengan begitu tentunya diperlukan stimulus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri. ”Dampaknya memang positif ke pertumbuhan ekonomi karena ekonomi bisa tumbuh lebih cepat,” ujar Yudhi.

Akan tetapi ada suatu kemungkinan yang akan terjadi setelah BI menurunkan bunga acuan yaitu dampaknya pada arus modal masuk yang saat ini dinilai masih cukup deras. Penurunan arus modal tentu akan berpengaruh pada nilai tukar. ”Penurunan BI Rate ini juga membuat capital inflow, agak sedikit melambat karena imbal hasil menurun, dan rupiah juga melemah,” kata ekonom Bank BCA, David Sumual.

Jika melihat kondisi pasar pada pekan terakhir November kemarin, kekhawatiran David sangatlah beralasan. Pasalnya, pada transaksi pekan terakhir November, nilai tukar yang diperdagangkan sempat ambruk ke level Rp9.200 per dollar AS. Padahal pekan-pekan sebelumnya bahkan bulan-bulan sebelumnya rupiah masih stabil di level Rp8.700-Rp8.800 per dollar AS.

  • Baca juga: Transaksi Obligasi Melesat 112 Persen: CIMB Niaga Rilis Inisiatif ‘OCTO untuk Pejuang Mimpi’

Kondisi ini jelas bukanlah pertanda buruk bagi BI meskipun juga bukan “kiamat”. Otoritas harus bekerja ekstra keras untuk menstabilkan nilai tukar seperti yang dilakukan sebelumnya saat menahan penguatan rupiah akibat derasnya arus dana asing yang masuk pada awal tahun ini dan tahun lalu.

BUNGA KREDIT

Dipangkasnya BI Rate sebesar 75 basis poin dalam dua bulan sejatinya juga merupakan sinyal bahwa otoritas ingin terus menekan perbankan agar menurunkan suku bunga kredit. Penurunan itu dibutuhkan perekonomian untuk meningkatkan usaha di sektor riil yang pada akhirnya menjadi tameng kuat untuk menangkal dampak krisis Eropa dan AS. Pasalnya industri dalam negeri menjadi lebih bergairah dan tidak bergantung dengan pasar di luar negeri.

Namun jika melihat pengalaman sebelumnya, BI pantas khawatir karena penurunan BI Rate seringkali tidak direspons positif oleh kalangan industri perbankan dengan menurunkan bunga kredit. Di saat BI Rate turun, kebanyakan bank justru menahan suku bunga kreditnya atau turun sedikit, dengan tetap menjaga rentang spread suku bunganya. Tentunya kondisi seperti itu bertolak belakang dengan keinginan BI dan khalayak industri. Mayoritas menginginkan industri perbankan merespons penurunan BI rate dengan menurunkan suku bunga kreditnya. Sehingga mampu memicu pertumbuhan ekonomi, karena sektor riil bergerak, dengan lebih signifikan.

Tidak mau kebijakannya itu kembali ditelikung bank seperti pengalaman tahun 2009 dan 2010, Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution angkat bicara. Untuk mempercepat penurunan bunga kredit sekaligus bisa memantau penurunannya BI meminta industri perbankan untuk memasukkan faktor penurunan BI Rate ke dalam rencana bisnis bank (RBB) berikutnya dan memperhitungkan suku bunga pinjaman. Jika tidak, BI akan memanggil bank yang tidak mengindahkan saran tersebut. ”BI akan mencermati rencana bisnis bank yang akan mulai masuk akhir bulan ini, sampai dengan Desember untuk 2012,” ucap Darmin.

Dengan melihat proyeksi bisnis bank BI akan lebih bisa untuk memastikan kalau bank mengikuti kebijakan suku bunga acuan. ”Kami tidak bisa lagi sekadar menurunkan policy rate kemudian melihat-lihat SBDK (suku bunga dasar kredit)-nya dan kami berharap mereka menurunkan lending rate. Kami akan memanggil kalau kami anggap RBB tidak memasukkan faktor perubahan (BI Rate) ke dalam rencana mereka,” tegas Darmin.

Selama ini BI memang sulit untuk memaksa bank menurunkan margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Karena bank sering berdalih NIM sudah ditentukan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) sehingga tidak bisa lagi diturunkan.

Namun dengan kebijakan tersebut bank tidak bisa lagi beralasan untuk tidak menurunkan bunga kredit setara dengan penurunan BI Rate. Penurunan bunga kredit dipercaya akan mendongkrak pertumbuhan ke level yang digariskan bank sentral yaitu mencapai 6,7 persen tahun depan. “Kita menginginkan ekonomi growth-nya bisa kembali ke 6,7%, kita tidak puas dengan 6,5 persen,” tukas Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Menurutnya, untuk itu bank sentral menurunkan BI Rate sebesar 75 basis poin dalam dua bulan terakhir ke level 6 persen, dengan pertimbangan tingkat inflasi yang bisa dijaga di level 4% sampai akhir 2011.

  • Baca juga: Tembus 3 Juta Rekening: Fitur Open Bundling Emas BRImo Melesat 1.004 Persen

“Nah, ini makanya kita buat stimulus dengan BI Rate ini, sehingga bisa memberikan lending yang prudent untuk pertumbuhan ekonomi kembali ke level 6,7 persen. Apalagi kalau pemerintah turut memberikan stimulus,” tambah Perry. SP

 

 
 
 
 
 
Previous Post

CIMB Niaga Tangani Cash Management Yamaha

Next Post

Dari Revisi ke Revisi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Kerek Cuan Penenun Baduy, BCA Promosikan Wastra Ramah Lingkungan ke Nasabah Kaya

Kerek Cuan Penenun Baduy, BCA Promosikan Wastra Ramah Lingkungan ke Nasabah Kaya

by Sandy Romualdus
5 Oktober 2026 - 15:46

Bakti BCA berkolaborasi dengan kelompok disabilitas memproduksi 1.800 tas tenun Baduy pewarna alami sebagai suvenir BCA Wealth Summit 2026. Stabilitas.id...

Transaksi Obligasi Melesat 112 Persen: CIMB Niaga Rilis Inisiatif ‘OCTO untuk Pejuang Mimpi’

Transaksi Obligasi Melesat 112 Persen: CIMB Niaga Rilis Inisiatif ‘OCTO untuk Pejuang Mimpi’

by Stella Gracia
5 Oktober 2026 - 08:53

CIMB Niaga meluncurkan inisiatif OCTO untuk Pejuang Mimpi guna mempermudah generasi muda menabung dan berinvestasi di era digital. Stabilitas.id - PT...

Tembus 3 Juta Rekening: Fitur Open Bundling Emas BRImo Melesat 1.004 Persen

Tembus 3 Juta Rekening: Fitur Open Bundling Emas BRImo Melesat 1.004 Persen

by Stella Gracia
5 Oktober 2026 - 07:53

Pengguna Rekening Emas BRImo melesat 1.004 persen ke 3,04 juta rekening per September 2026 berkat inovasi fitur Open Bundling Emas....

Melepas Perangkap Kerdil: Jurus KB Bank Pacu Fondasi Tata Kelola dan Manajemen Risiko UMKM

Melepas Perangkap Kerdil: Jurus KB Bank Pacu Fondasi Tata Kelola dan Manajemen Risiko UMKM

by Sandy Romualdus
3 Oktober 2026 - 12:51

KB Bank gelar literasi finansial perkuat GCG dan manajemen risiko UMKM. Simak analisis peran platform KBstarbiz dan supply chain financing...

Sasar Kemandirian Finansial Gen Z, CIMB Niaga Gelar Kejar Mimpi FEST 2026 di Senayan City

Sasar Kemandirian Finansial Gen Z, CIMB Niaga Gelar Kejar Mimpi FEST 2026 di Senayan City

by Sandy Romualdus
3 Oktober 2026 - 12:37

CIMB Niaga menggelar Kejar Mimpi FEST 2026 di Senayan City. Festival ini mengintegrasikan edukasi finansial, promosi UMKM, dan tata kelola...

Sinergi BNI dan InJourney, Layanan Asistensi Bandara Joumpa Kini Hadir di Aplikasi wondr

Sinergi BNI dan InJourney, Layanan Asistensi Bandara Joumpa Kini Hadir di Aplikasi wondr

by Stella Gracia
2 Oktober 2026 - 14:09

BNI menggandeng InJourney Aviation Services (IAS) untuk menghadirkan layanan asistensi bandara Joumpa langsung melalui aplikasi digital wondr by BNI. Stabilitas.id...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Daftar Forbes 2026: BCA Peringkat 1 Bank Terbaik RI, SeaBank Juara di Kategori Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Kerek Cuan Penenun Baduy, BCA Promosikan Wastra Ramah Lingkungan ke Nasabah Kaya

Ubah Sampah Jadi Biogas: DPRD DKI Apresiasi Inovasi Biodigester Bank Jakarta di Rusunawa Rorotan

Inflasi September 2026 Terjaga 3,28 Persen: Bank Indonesia Kunci Target Sasaran 2,5 Persen

Laba Turun 19 Persen: Astra Tetap Guyur Dividen Interim Rp3,9 Triliun di Tengah Buyback Jumbo

Tercepat Sejak Pandemi: Ekonomi Vietnam Tumbuh 9,95 Persen di Kuartal III/2026

Tawarkan 76 Proyek Strategis: Pemerintah Buka Peluang Investasi KPBU Senilai US$63 Miliar

Guyur Stimulus Rp31 Triliun: Prabowo Siapkan Bansos Beras, BSU, dan Diskon Pajak

Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

Targetkan 5 Bank Syariah Jumbo pada 2027: OJK Dorong Konversi dan Wajibkan Merger Bank Kecil

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Masih Susah Turunkan Bunga

Masih Susah Turunkan Bunga

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance