JAKARTA, Stabilitas — Salah satu titik lemah perusahaan yang bergerak di Industri Keuangan Non Bank (IKNB) sejauh ini adalah kemampuannya dalam pemanfaatan data nasabah dan memonetisasinya sebagai salah satu penopang kinerja bisnis ke depan. Lembaga perbankan dinilai lebih piawai dalam hal ini, sehingga tak heran kemudian bila di masyarakat perbankan lebih terlihat agresif masuk ke bisnis perasuransian. Pandangan ini didasarkan pada banyaknya lembaga perbankan yang memiliki anak usaha yang khusus bergerak di bisnis perasuransian, seperti misalnya BNILIfe, AXA Mandiri, Mega Insurance dan lain sebagainya.
“Bukan sebuah kebetulan bila banyak lembaga asuransi yang merupakan anak usaha bank. Mereka sengaja dibentuk untuk mencari dana yang memiliki jangka waktu lebih panjang dibanding simpanan di bank,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, dalam acara penganugerahan Indonesia Insurance Innovation Award (IIIA) 2019, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Kelincahan perbankan dalam memutar kinerja bisnisnya tersebut, menurut Darmin, bisa dilakukan karena berlandaskan ketersediaan data yang memadai. Karenanya untuk perusahaan-perusahaan asuransi yang notabene bukan merupakan anak usaha perbankan, Darmin meminta agar lebih meningkatkanawarenessnya dalam hal pemanfaatan data secara lebih maksimal seperti yang selama ini telah dilakukan oleh perbankan.
















