Stabilitas.id — Indonesia menghadapi ancaman kesenjangan kesiapan pensiun (retirement divide) yang kian lebar seiring dengan perubahan demografi. Riset terbaru Sun Life bertajuk “Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide” mengungkapkan fakta bahwa mayoritas masyarakat Indonesia (77%) terpaksa atau memilih tetap bekerja meski telah memasuki usia senja.
Pergeseran ini terjadi di tengah lonjakan populasi lansia yang diproyeksikan mencapai 64,9 juta jiwa atau 20,5% dari total populasi pada 2050. Tanpa perencanaan matang, bonus demografi Indonesia berisiko berubah menjadi beban jika kesiapan finansial di masa tua tidak terpenuhi.
‘Gold Star Planners’ vs ‘Stalled Starters’
Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menyoroti adanya dua realitas pensiun yang kontras di tanah air. Pertama, kelompok Gold Star Planners yang siap secara finansial dan tetap bekerja karena aspirasi pribadi (60%). Kedua, kelompok Stalled Starters yang terpaksa menunda pensiun karena tekanan ekonomi.
“Bagi mereka yang siap, bekerja lebih lama adalah pilihan fleksibilitas. Namun bagi yang lain, itu mencerminkan tekanan keuangan. Sebanyak 71% responden mengaku tetap bekerja karena butuh penghasilan tambahan untuk biaya hidup sehari-hari,” jelas Albertus dalam keterangannya, Kamis (12/2/2026).
Fenomena “generasi sandwich” juga memperparah kondisi ini. Banyak pekerja harus menanggung beban ganda—merawat orang tua sekaligus anak—yang memaksa mereka menurunkan ekspektasi gaya hidup (40%) hingga menunda masa pensiun (23%).
Risiko AI Mandiri
Riset tersebut juga mencatat tren menarik sekaligus berisiko: ketergantungan pada Generative AI. Penggunaan alat digital seperti ChatGPT dan Google Gemini untuk keputusan finansial melonjak dari 13% menjadi 30%. Sayangnya, minat berkonsultasi dengan penasihat keuangan independen justru merosot tajam ke angka 31%, dari sebelumnya 44% pada 2024.
“AI bisa membantu mencari informasi, tapi seringkali kehilangan konteks personal yang dibutuhkan untuk keamanan finansial jangka panjang. Nasihat ahli tetap krusial agar keputusan selaras dengan tujuan individu,” tambah Albertus.
Pendeknya Masa Perencanaan
Kekhawatiran utama masyarakat Indonesia saat pensiun adalah ketidakmampuan memberikan dukungan finansial kepada keluarga (44%). Hal ini diperparah dengan rentang waktu perencanaan yang sangat pendek; sebanyak 34% responden baru menyusun rencana dua tahun sebelum pensiun, dan 24% bahkan tidak memiliki rencana sama sekali.
Di sisi lain, kesehatan kini dipandang sebagai aset utama di masa tua. Responden yang optimis mengenai masa pensiun menyebut kesehatan fisik (58%) dan mental (52%) yang terjaga menjadi modal utama mereka untuk tetap beraktivitas di usia lanjut.***





.jpg)










