• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Sabtu, Februari 21, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Laporan Utama

Not Too Bad, Not Too Strong

oleh Sandy Romualdus
25 April 2017 - 00:00
2
Dilihat
Mewarisi “Darah PR” Sang Ibu
0
Bagikan
2
Dilihat

ekonomi yang melemah tahun ini memang telah mengganjal proyeksi pertumbuhan yang sudah ditargetkan sejak awal tahun. Dan pelemahan ekonomi ini sudah terjadi sejak tahun lalu. Namun seperti biasa, menghadapi pergantian tahun, otoritas menyebarkan optimisme bahwa tahun yang segera datang akan lebih baik. Bank Indonesia mengatakan bahwa meski tantangan ekonomi tahun depan tidak lebih ringan dari tahun ini, namun pertumbuhan ekonomi akan meningkat.

Ekonomi global akan tumbuh didorong oleh perbaikan ekonomi di China, India dan kawasan Eropa. Amerika Serikat sebagai ekonomi terbesar di dunia dinilai juga akan tumbuh positif meski muncul kekhawatiran akan kebijakan dari Presiden baru mereka Donal J Trump yang kontraproduktif.

Sementara itu ekonomi domestik dipercaya akan bisa tumbuh lebih baik dari tahun ini. Meski beberapa risiko masih mengintai sektor keuangan, namun faktor pendorong ekonomi tampaknya akan lebih dominan imbasnya. Malahan dengan dampak dari Program Pengampunan Pajak tahun depan, nilai tukar rupiah akan terapresiasi dan menjadikan ekonomi lebih stabil.

BERITA TERKAIT

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

Meski demikian BI tidak akan membiarkan nilai tukar rupiah menguat terlalu besar. “Jika mata uang rupiah terus menguat, maka daya saing eksportir akan semakin lemah. Sementara daya saing barang-barang impor yang masuk ke Indonesia juga akan semakin menguat karena harganya menjadi lebih murah. Untuk itu BI siap mengerem laju penguatan rupiah secara drastis,” kata Juda Agung, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) di acara pelatihan wartawan ekonomi BI di Kuta, Bali, awal Desember lalu.

Berikut rangkuman lengkapnya:

Bagaimana BI melihat perekonomian tahun 2017?

Kalau kita lihat global outlook untuk 2017 itu lebih baik dibanding tahun ini. Pertumbuhan ekonomi bisa 3,2 persen, dan itu lebih baik dibandingkan tahun ini sebesar 3 persen. Angka ini lebih tinggi dari proyeksi Bank Dunia, yang pada pertengahan tahun ini menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2016 dari 2,9 persen, menjadi 2,4 persen.
Ini sebuah perkembangan positif, apalagi Tiongkok ternyata jauh lebih baik dari yang kita perkirakan, India juga. Jadi 2017 ini ke arah 3,2 persen itu cukup justified. Jadi, kalau melihat prospek pertumbuhannya not too bad, not too strong tapi lebih baik. Bandingkan 2015 saat fiskal ekpansi, pertumbuhan masih 4,7 sampai 4,8 persen. Titik terendahnya memang 2015. Di kuartal ketiga dan keempat 2016, di saat ada kontraksi fiskal, tapi (perekonomian) masih bisa tumbuh di atas 5 persen.

Bagaimana investor asing memandang Indonesia saat ini?

Investor asing memandang Indonesia dengan sangat opimistis. Meski ada beragam tantangan eksternal, namun mereka memandang secara fundamental, perekonomian Indonesia jauh lebih baik dibandingkan pada 2013 silam. Memang, ada sedikit tekanan di pasar pasca pemilihan presiden di Amerika Serikat. Ini terjadi khususnya berupa capital outflow. Tapi ini biasa, yang keluar sebagian besar (dana) jangka pendek. Itu hal yang normal dalam open capital account, tetapi dari sisi fundamental mereka melihat Indonesia jauh lebih baik dibandingkan tahun 2013.
Pada era taper tantrum (istilah yang menggambarkan dampak kebijakan ekonomi AS tahun 2013) current account deficit (defisit transaksi berjalan) Indonesia berada sekitar 4 persen dari PDB. Pada saat yang sama, inflasi Indonesia berada di atas 8 persen.

Kalau soal likuiditas terutama di valas?

Likuiditas valas di pasar Indonesia juga lebih baik dibandingkan tahun 2013. Pada tahun ini, meskipun rupiah mengalami pelemahan dan dana asing keluar, tapi dari domestik justru memasok valas. Bahkan lebih besar ketika di November dan Desember 2016 ketika asing melepas kepemilikannya di pasar domestik, justru domestik menambah valas, sehingga cadangan valas kita over supply.
Dibanding negara peer kita, Malaysia, Indonesia masih lebih baik dalam cadangan devisa. Kita di atas seratus miliar dollar AS. Angkanya kini mencapai 115 miliar dollar AS, sementara cadangan devisa Malaysia di bawah 100 miliar dollar AS. Kepemilikan non resident di pasar obligasi antara kita dan Malaysia juga hampir mirip, yakni sekitar 36 persen.Tapi, pasar juga melihat kita tidak melakukan sesuatu yang berlawanan di pasar, seperti Bank Negara Malaysia dengan membatasi transaksi MTN (medium term notes) dan sebagainya. Itu tidak kami lakukan, jadi masih percaya dengan mekanisme pasar dan itu menunjukkan bahwa memang pasar lebih baik.

Risiko-risiko apa saja yang bakal menghambat pertumbuhan ekonomi global, termasuk Indonesia di tahun depan?

Memang ada sejumlah risiko dan tantangan yang bisa menghambat laju pertumbuhan ekonomi global, seperti kemenangan Donald J Trump sebagai Presiden AS yang baru, akan menimbulkan ketidakpastian mengenai arah kebijakannya. Masih kelihatan ada tone-tone nasionalismenya. Tapi, sepertinya lambat laun kebijakannya (Trump) tidak seekstrim apa yang dikampanyekan. Misalnya mengenai fiskal, perdagangan, dan sebagainya. Pemilu yang akan diadakan di beberapa negara Eropa, seperti di Italia, juga menjadi risiko lainnya.

Bagaimana dengan NPL perbankan di tahun depan?

Bank Indonesia memproyeksikan kondisi rasio kredit bermasalah yang sempat meningkat pada tahun ini, akan kembali pada kondisi normal pada kuartal kedua tahun depan. Pada tahun ini permintaan investasi memang masih terbatas dan bank juga masih melakukan restrukturisasi NPL (rasio kredit bermasalah). Tapi, puncak kenaikan NPL sudah dilewati sehingga kondisi NPL kini membaik. Kredit yang direstrukturisasi perbankan juga sudah mencapai puncaknya pada Juni 2016, kini juga sudah mulai membaik. Akhir kuartal kedua atau awal kuartal ketiga, NPL sudah normal. Dengan NPL normal, komoditas yang diperkirakan membaik serta investasi yang mulai meningkat, maka pada tahun depan dengan fiskal yang realistis mudah-mudahan masih sesuai track.

Sektor kredit apa yang akan segara pulih?

Dalam pemulihan perekonomian, biasanya kredit konsumer dulu yang akan pulih. Kredit properti, diperkirakan meningkat. Pada September, kredit kepemilikan rumah (KPR) mulai naik, meski belum signifikan dan baru menyentuh pertumbuhan sebesar 6,5 persen secara tahunan. Ini akan meningkat terus hingga tahun depan.

Bagaimana BI memandang Program Tax Amnesty?

Bank Indonesia menyambut baik kebijakan tax amnesty yang dilakukan pemerintah. Perkiraan kami, repatriasi yang sudah masuk sampai September 2016 sebesar Rp40 triliun, sementara ditambah periode kedua hingga kuartal keempat ada Rp100 triliun yang akan masuk.

Akan berpengaruh ke nilai tukar rupiah?

Pasti. Karena aliran masuk dana tersebut akan memperkuat rupiah secara tidak normal di luar nilai fundamentalnya. Untuk itu, BI akan menjaga agar rupiah tidak menguat terlalu signifikan.
Pengaruh nilai tukar rupiah saat ada dana yang mengalir masuk ke Indonesia cukup banyak akan membuat nilai tukar rupiah menguat. Penguatan itu tak serta merta membuat perekonomian stabil, justru yang terjadi adalah dampak buruk di sisi ekspor. Jika mata uang rupiah terus menguat, maka daya saing eksportir akan semakin lemah. Sementara daya saing barang-barang impor yang masuk ke Indonesia juga akan semakin menguat karena harganya menjadi lebih murah. Untuk itu BI siap mengerem laju penguatan rupiah secara drastis.

Caranya?

Ada lah (antisipasi dari masuknya dana repatriasi). Kami kelola dengan baik supaya rupiah nggak tiba-tiba menguat. Tapi, untuk saat ini repatriasi masih belum mempengaruhi pergerakan rupiah. Sebab dana repatriasi dari peserta tax amnesty masih parkir di bank gateway dalam bentuk mata uang asing. Di bank gateway belum semua dikonversi ke rupiah. Kalau dia masih di sana, valas belum ada dampak ke kurs. Kalau ada penempatan di properti atau investasi di saham baru konversi ke rupiah baru ada suplai valas ke ekonomi baru ada dampak ke kurs. Jadi nggak serta merta masuk langsung konversi. Kami akan lihat juga sejauh mana perubahan dari valas ke rupiah-nya.

BI menilai, Indonesia butuh pertumbuhan ekonomi rata-rata minimal 10 persen per tahun selama 2016-2030 jika ingin keluar dari perangkap middle income trap countries menjadi high income countries. Bisa jelaskan?

Ya, Indonesia harus memiliki pendapatan per kapita sebesar 13 ribu dolar AS pada tahun 2030 mendatang. Apabila target itu tak mampu dipenuhi, maka Indonesia berpotensi terjebak di dalam negara-negara dengan pendapatan menengah atau middle income trap countries dan tak bisa bergerak ke arah negara maju (high income countries). Mengapa 2030? Karena tahun 2030 adalah tenggat yang sesuai, karena bonus demografi Indonesia akan habis pada periode tersebut. Setelah periode tersebut, maka pertumbuhan populasi usia produktif akan menurun dan mengakibatkan pertumbuhan basis pendapatan per kapita juga akan melandai.
Pada periode 2016-2020, BI memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ada di 5,36 persen, lalu naik ke 6,86 persen di 2021-2025, dan menjadi 9,18 persen di 2026-2030.
Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tersebut, pendapatan per kapita Indonesia akan berada di kisaran 9.652 dolar AS pada 2030.

Saat ini dengan rata-rata pertumbuhan 5 persen per tahun, pendapatan per kapita Indonesia pada 2030 masih di level 7.247 dolar AS?

Ini sangat disayangkan, mengingat angka tersebut bahkan tidak bisa menyamai pendapatan per kapita Malaysia yang saat ini sebesar 10.876 dolar AS. Masa pendapatan per kapita Indonesia di tahun 14 tahun mendatang tidak bisa menyamai Malaysia? Makanya, Indonesia memerlukan pertumbuhan ekonomi yang sangat ambisius jika ingin keluar dari middle income trap. Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi 10 persen per tahun agar pendapatan per kapita 14 tahun lagi bisa mencapai level 14.129 dolar AS.
Tapi, angka itu kurang realistis karena hanya sedikit negara yang bisa mencapai pertumbuhan ekonomi dua digit belakangan ini. Makanya, angka pertumbuhan ekonomi paling realistis adalah 7,1 persen per tahun, sehingga bisa menghasilkan pendapatan per kapita 9.652 dolar AS di tahun 2030. Memang, angka itu belum bisa membawa Indonesia ke golongan negara-negara berpendapatan tinggi. Tapi, setidaknya angka tersebut mendekati posisi Malaysia saat ini.

Untuk mencapai pertumbuhan itu, apa yang harus kita lakukan?

Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan. Pertama, produktivitas dinaikkan, capital ditambah dan sumber daya manusia kita tingkatkan. Jadi kalau mau tumbuh tujuh persen, skenarionya seperti itu. Kedua, mendorong sektor manufaktur yang berorientasi ekspor. Kalau ingin tumbuh cepat seperti di negara yang sudah maju, mau tidak mau sektor manufaktur harus didorong. Sebab sektor ini mampu memberi nilai tambah yang tinggi sehingga mendorong devisa hasil ekspor.
Pada tahun 2000-an ekspor manufaktur kita pernah 65-70 persen, tapi sekarang ini hanya 50-an persen share manufaktur terhadap total ekspor kita. Selama ini Indonesia masih terjebak pada ekspor komoditas, padahal sektor tersebut sangat bergantung pada gejolak harga global yang tak menentu. Kita bisa mencontoh Korea yang berhasil keluar dari jebakan ini karena reformasi bidang permodalan dan produktivitas diikuti perbaikan SDM serta riset. Sedangkan, Brasil dan Afrika Selatan adalah contoh negara yang tidak bisa keluar dari jebakan itu.

 
 
 
 
Sebelumnya

Atur Siasat untuk Tahun Berat

Selanjutnya

Menyambut Kemarau Panjang Likuiditas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

TPS Gandeng Unair, 21 Pekerja Ikuti Pelatihan Finance for Non Finance

TPS Gandeng Unair, 21 Pekerja Ikuti Pelatihan Finance for Non Finance

oleh Stella Gracia
12 Februari 2026 - 12:20

Stabilitas.id — PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menggelar pelatihan Finance for Non Finance bagi 21 pekerja lintas unit kerja pada...

BSN Fokus Dorong Ekosistem Perumahan Syariah, Developer Jadi Mitra Kunci Pertumbuhan

BSN Fokus Dorong Ekosistem Perumahan Syariah, Developer Jadi Mitra Kunci Pertumbuhan

oleh Sandy Romualdus
8 Februari 2026 - 11:31

Stabilitas.id — Bank Syariah Nasional (BSN) menegaskan penguatan peran developer sebagai mitra utama dalam ekosistem pembiayaan perumahan syariah melalui penyelenggaraan...

OJK Pastikan Tindak Lanjut Konkret Usai Pertemuan dengan MSCI

OJK Pastikan Tindak Lanjut Konkret Usai Pertemuan dengan MSCI

oleh Stella Gracia
3 Februari 2026 - 09:48

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan langkah tindak lanjut konkret setelah menggelar pertemuan dengan tim Morgan Stanley Capital International...

Kredit Tumbuh, Likuiditas Terjaga: OJK Ungkap Proyeksi Perbankan 2025

OJK Terbitkan Ketentuan Penyelenggaraan TI, Perkuat Keamanan Digital BPR dan BPR Syariah

oleh Stella Gracia
9 Januari 2026 - 09:40

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi menerbitkan ketentuan baru terkait penyelenggaraan teknologi informasi (TI) bagi Bank Perkreditan Rakyat (BPR)...

Ingin Punya Rumah Pertama? Ini Tips Keuangan dan KPR untuk Pasutri

Ingin Punya Rumah Pertama? Ini Tips Keuangan dan KPR untuk Pasutri

oleh Stella Gracia
8 Januari 2026 - 14:07

Stabilitas.id — Memiliki rumah pertama masih menjadi salah satu impian sekaligus prioritas utama bagi pasangan suami istri (pasutri) baru. Namun,...

Transaksi Digital Tumbuh 44%, CIMB Niaga Gaspol Pengembangan OCTO

Transaksi Digital Tumbuh 44%, CIMB Niaga Gaspol Pengembangan OCTO

oleh Stella Gracia
11 November 2025 - 04:31

Stabilitas.id — PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) kembali memperkuat posisinya sebagai pemain utama di perbankan digital dengan meluncurkan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Puncak BIK 2025: Ribuan Warga Banyumas Dapat Akses Keuangan Baru dari LJK

    OJK Tunjuk Friderica sebagai ADK Pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Scam di Indonesia Tertinggi di Dunia, Capai 274 Ribu Laporan dalam Setahun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK Akhiri Riwayat BPR Bank Cirebon, Ini Kronologi Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1 Sak Mortar Plester Berapa m²? Simak Cara Hitung dan Keunggulan Semen Merah Putih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diteror Debt Collector, Nasabah Seret Aplikasi Pinjol AdaKami ke Pengadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rekam Jejak Panji Irawan, Dirut Bank Mandiri Taspen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Korupsi Pertamina, Riza Chalid Masuk Daftar Buronan Internasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

Siap-siap! THR TNI/Polri dan ASN Mulai Disalurkan Minggu Pertama Ramadan

Purbaya Tolak Usulan IMF Naikkan PPh 21, Fokus Jaga Daya Beli Masyarakat

Strategi Pembiayaan APBN: Serapan Lelang SUN Tembus Rp40 Triliun di Tengah Penurunan Bids

Outlook Moody’s Negatif, BI Pastikan Likuiditas Perbankan Jumbo Tetap Solid

Barter Tarif: 1.819 Produk Ekspor RI Jadi 0%, Gandum & Kedelai AS Bebas Bea Masuk

STABILITAS CHANNEL

Selanjutnya

Investasi Online Imbal Besar berpotensi Rugikan Masyarakat

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance