• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Laporan Utama

Atur Siasat untuk Tahun Berat

by Sandy Romualdus
25 April 2017 - 00:00
6
VIEWS
Atur Siasat untuk Tahun Berat
0
SHARES
6
VIEWS

Lembar terakhir kalender 2016 masih belum disobek tetapi lamat-lamat suara kekhawatiran akan kondisi ekonomi yang berat di tahun depan sudah terdengar. Dalam berbagai seminar dan juga pertemuan bisnis, outlook ekonomi 2017 yang tampak tidak akan banyak beranjak dibanding keadaannya yang sekarang.
Perekonomian tahun ini masih berjalan lambat, seperti prediksi sebagian besar ekonomi tahun lalu, yang dicirikan oleh rendahnya perdagangan internasional dan juga perilaku
risk aversion. Di sisi ekonomi domestik ditandai dengan rendahnya inflasi inti karena menurunnya permintaan serta terganggunya fungsi intermediasi perbankan akibat turunnya aktiftas transaksi, volume kredit, dan preferensi masyarakat untuk memegang uang kas.
“Lingkungan bisnis dan kondisi eksternal pada 2017 mungkin tidak banyak berbeda dengan tahun 2016, dengan keseimbangan risiko ekonomi akan lebih berat ke arah risiko pertumbuhan yang rendah,” kata Adrian Panggabean, Kepala Ekonom Bank CIMB Niaga dalam acara Outlook Ekonomi Indonesia Tahun 2017 yang digelar Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta, November lalu.
Apa yang diungkapkan Adrian dan juga sebagian ekonom ataupun peneliti ekonomi sejatinya tidaklah berlebihan. Bahkan hasil simulasi lembaga
think tank kebijakan pembangunan pemerintah mengatakan bahwa masih nyatanya ancaman global maupun domestik yang bisa mengganjal pertumbuhan ekonomi.
Risiko eksternal didominasi oleh kebijakan ekonomi Amerika Serikat, dengan terpilihnya Donald J Trump sebagai Presiden. Kebijakan proteksionis yang ditawarkan Presiden AS ke-45 itu sejak kampanye akan berdampak negatif terhadap tingkat keyakinan pasar, tidak hanya bagi pengusaha atau investor di AS, tetapi di seluruh dunia. “Jika Trump menjalankan kebijakan ekonomi sesuai dengan yang dia janjikan saat kampanye, maka itu akan berdampak pada perlambatan ekonomi dunia, tak terkecuali Indonesia,” kata pernyataan resmi Bappenas.
Sementara dari risiko domestik, bersumber dari aktivitas sektor swasta yang cenderung terbatas, dengan indikasi rendahnya pertumbuhan kredit perbankan. Menurut Bappenas, pertumbuhan kredit akan berada di bawah 10 persen, paling lambat sejak 2009 saat awal
commodity booming.
Melambatnya ekonomi akan berimbas pada naiknya kredit bermasalah atau
non performing loans (NPL) perbankan. Angka NPL yang saat ini masih bisa dikelola di bawah level yang aman kemungkinan akan makin meningkat.
Ekonom Lembaga Penjamin
 Simpanan (LPS) Doddy Ariefanto mengatakan, kondisi NPL perbankan tengah memasuki fase plateau atau stagnan. Diperkirakan pada periode paro pertama 2017 posisi NPL industri perbankan Tanah Air masih di level 3 persen. Setelah itu, secara perlahan posisi rasio kredit bermasalah berpotensi menurun. “Dengan demikian, akhir tahun 2017, NPL perbankan akan berada di kisaran 2,8-2,9 persen,” jelas Doddy.
Terkait hal itu, perbankan sudah pasang kuda-kuda dalam menghadapi kemungkinan naiknya kredit bermasalah, salah satunya dengan merencanakan peningkatan pencadangan. Rasio provisi perbankan tercatat sebesar 106,5 persen atau menanjak 569 basis poin (bps) secara tahunan (yoy) atau setara Rp139,2 triliun per akhir September 2016.
Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pencadangan paling tinggi dilakukan bank besar atau kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV dengan rasio provisi 152,93 persen per September. Rasio provisi bank BUMN sebesar 135,14 persen, disusul bank asing sebesar 123,53 persen.
Contoh, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatatkan rasio provisi sebesar 143,2 persen atau naik 3,6 persen. Achmad Baiquni, Direktur Utama BNI mengatakan, BNI akan tetap ditingkatkan secara berharap untuk mengantisipasi potensi kredit macet di masa mendatang. “Tahun depan diharapkan rasio provisi BNI akan sama seperti rasio provisi beberapa bank besar lain,” ujar Baiquni. Per kuartal III 2016, NPL BNI sebesar 3,1 persen, naik 30 bps secara tahunan.
Glen Glenardi, Direktur Utama Bank Bukopin mengatakan, pihaknya menunggu perkembangan kredit di 2017 dalam menentukan kebijakan rasio provisi. Per September 2016, rasio provisi Bukopin sebesar 47,91 persen, tak berubah dari posisi tahun lalu. Sementara, NPL naik sebesar 55 bps menjadi 3,43 persen.
Sedikit berbeda, rasio provisi PT Bank Mandiri sebesar 126,6 persen atau turun 9,6 persen. Rasio provisi Bank Mandiri merupakan yang terendah ketimbang tiga bank BUKU IV lain. Adapun, NPL Bank Mandiri naik 100 bps menjadi 3,81 persen. “Selama ini Mandiri menjaga 
coverage ratio di atas industri karena bagian dari prinsip konservatif,” ujar Direktur Keuangan dan Tresuri Bank Mandiri Pahala Mansury.

  • Baca juga: Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Risiko Likuiditas

  • Baca juga: Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

Selain risiko kredit, perbankan juga terpapar risiko likuiditas. Namun beruntung, otoritas moneter sudah mempersiapkan ‘bantuan’ cadangan untuk menghindarkan bank dari kondisi kekeringan likuiditas.
Adalah kebijakan pelonggaran dalam pengelolaan giro wajib minimum (GWM) yang sudah dilontarkan oleh bank sentral sejak akhir tahun ini. Bank Indonesia mempersiapkan aturan yang akan membuat bank lebih fleksibel dalam menyetorkan GWM-nya.
“Bank Indonesia akan mulai memperkenalkan sistem GWM A
veraging pada 2017. Berbeda dengan sistem GWM yang saat ini berlaku, sistem GWM Averaging hanya mewajibkan bank untuk memelihara rata-rata kecukupan GWM dalam satu maintenance period. Lewat GWM Averaging, kewajiban bank dalam menaruh simpanan di giro BI akan dihitung secara rata-rata per periode,” jelas Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung, saat pelatihan wartawan ekonomi di Bali belum lama berselang.
Misalkan, saat ini rasio GWM-Primer atau yang diartikan sebagai simpanan minimum bank dalam rupiah atau valas di BI sebesar 6,5 persen. Maka, setiap waktu bank harus menaruh 6,5 persen dari total Dana Pihak Ketiga bank di giro BI.
Sementara jangka waktu periode GWM
Averaging tersebut yakni dua minggu rata-rata. BI memperkirakan dengan likuiditas yang lebih baik pada 2017, dan pemulihan kondisi ekonomi, pertumbuhan kredit bank dapat tumbuh 10-12 persen, sementara DPK bank berkisar 9-11 persen.
Sebagai informasi, dalam Pertemuan Tahunan BI, Bank Sentral memperkenalkan kebijakan GWM Averaging kepada industri perbankan di Indonesia. Rencananya kebijakan ini akan diterapkan pada Semester II 2017. Gubernur BI Agus DW Martowardojo, mengatakan, kebijakan GWM Averaging ini merupakan
best practice yang sudah dijalankan di negara-negara maju.
Kalangan bankir menilai, kebijakan BI tersebut bakal memberikan kemudahan bagi perbankan untuk mengelola likuiditasnya, yang juga sejalan dengan keberhasilan program 
tax amnesty (pengampunan pajak) di periode pertama tahun 2016.
Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, kebijakan GWM 
Averaging ini akan memberikan ketenangan perbankan dalam mengelola likuiditas yang selalu naik turun setiap waktu. “Itu bagus, karena kan memang kita selama ini managing short-term liquidity-nya harus ngepasin supaya pas. Dengan GWM Averaging kan kita bisa menjaga supaya kita nggak harus top up,” kata pria yang akrab disapa Tiko ini.
Sedangkan menurut Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, ke depan kebijakan ini memang diperlukan guna menjagalikuditas di pasar dan mengantisipasi berbagai kemungkinan pengetatan likuiditas. “Ke depan kalau proyek infrastruktur semua bekerja kan likuiditas akan lebih ketat,” tandas Jahja. Jahja memandang, kebijakan ini juga akan memberikan efsiensi bagi perbankan dalam mengelola likuiditas. Pasalnya nanti ada kemungkinan bank bisa menarik likuiditas dari cadangan (GWM) BI. “Ya harusnya
dong itu kan pakai duit sendiri. Untuk bank yang likuditas ketat kita bisa pakai cadangan GWM sendiri daripada dia pinjam di pasar. Kalau di pasar kan bunganya lebih mahal dari itu,” tandasnya.
Bahkan untuk makin menjaga kondisi likuiditas, BI baru-baru lalu telah memperpanjang kerja sama
bilateral swap arrangement (BSA) dengan Jepang pada 12 Desember lalu. Sebagaimana perjanjian sebelumnya, kerja sama BSA ini ditujukan untuk mendukung kebutuhan likuiditas potensial dan aktual melalui penyediaan skema pencegahan dan penanganan krisis. Kerja sama ini memiliki nilai sebesar 22,76 miliar dollar AS.
Kerja sama BSA merupakan kerja sama swap dollar AS versus rupiah antara Jepang dengan Indonesia untuk mengatasi kesulitan likuiditas akibat permasalahan neraca pembayaran dan likuiditas jangka pendek.

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

 
 
 
 
 
Previous Post

Persaingan Likuiditas Makin Panas

Next Post

Not Too Bad, Not Too Strong

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

by Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 07:47

Bank BSN mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan kewirausahaan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan Stabilitas.id - Direktur Network...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

by Sandy Romualdus
10 Juli 2026 - 12:52

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengevaluasi revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan oleh sekitar 105 bank akibat penyesuaian...

Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

by Sandy Romualdus
21 Mei 2026 - 14:50

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta perbankan pelat merah (Himbara) untuk...

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

by Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

by Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

Bank Neo Commerce

OJK Cabut Izin Mitra Pemasaran Efek Bank Neo Commerce (BBYB), Ini Alasannya

by Sandy Romualdus
27 Maret 2026 - 15:53

Stabilitas.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa pembatalan surat tanda terdaftar kepada PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB)....

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post

Investasi Online Imbal Besar berpotensi Rugikan Masyarakat

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance