PNM serap Rp2,59 triliun lewat Orange Bond dan Sukuk 2026 yang oversubscribed 1,73 kali. Dana perkuat pembiayaan perempuan ultra mikro program Mekaar.
Stabilitas.id – Di teras rumah panggung dan lapak pasar tradisional di pelosok nusantara, selembar uang modal usaha menyimpan arti yang jauh melampaui angka nominal. Bagi jutaan perempuan pengusaha ultra mikro, kucuran dana segar adalah jembatan untuk menambah stok barang, menyekolahkan anak, dan menjaga dapur tetap mengepul. Nafas perjuangan itulah yang menjadi denyut utama di balik langkah PT Permodalan Nasional Madani (Persero) menerbitkan kembali instrumen pembiayaan berwawasan gender, Orange Bond dan Orange Sukuk.
Di tengah bayang-bayang ketidakpastian pasar finansial global akibat lonjakan harga energi, ketegangan geopolitik, serta rezim suku bunga tinggi, surat utang tematik PNM justru menuai banjir minat investor. Perseroan berhasil menyerap dana segar sebesar Rp2,59 triliun, atau mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 1,73 kali lipat dari target emisi awal senilai Rp1,50 triliun.
Penerbitan ini terbagi ke dalam dua instrumen utama: Obligasi Berwawasan Sosial Orange Berkelanjutan I Tahap IV Tahun 2026 dan Sukuk Mudharabah Berwawasan Sosial Orange Berkelanjutan I Tahap V Tahun 2026. Masing-masing ditawarkan dengan tenor 1 tahun (kupon 7,05 persen per tahun) dan 3 tahun (kupon 7,10 persen per tahun). Seluruh emisi resmi dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 21 September 2026.
BERITA TERKAIT
Memadukan Modal dan Pendampingan
Kedua instrumen ini dirancang patuh pada prinsip Orange Bond Principles, yang menuntut alokasi permodalan berperspektif kesetaraan gender, penguatan kapasitas perempuan, dan transparansi dampak. Dana yang terhimpun langsung mengalir memperkuat bahan bakar program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar)—layanan pembiayaan kelompok tanpa agunan fisik yang menjadi tulang punggung PNM.
Direktur Utama PNM Kindaris menegaskan bahwa keberhasilan penerbitan ini membuktikan kepercayaan pasar terhadap model bisnis pembiayaan yang berlandaskan misi sosial. Di PNM, penyaluran modal tidak pernah berdiri sendiri, melainkan terikat erat dengan pendampingan mingguan untuk melatih pengelolaan arus kas dan memperluas jejaring pasar nasabah.
“Bagi nasabah PNM Mekaar, pembiayaan membuka kesempatan untuk mempertahankan usaha, menambah kapasitas, dan perlahan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Melalui Orange Bond dan Orange Sukuk, kami ingin memastikan akses pembiayaan tersebut terus diperkuat dan memberi manfaat nyata bagi perempuan ultra mikro,” kata Kindaris.
Tantangan pelaku usaha ultra mikro di pelosok sering kali tidak berhenti pada urusan modal kerja, melainkan juga literasi keuangan dan rasa percaya diri untuk mandiri. Pertemuan kelompok rutin di program Mekaar menjadi ruang bertumbuh bersama agar usaha mereka tidak sekadar bertahan hidup, melainkan naik kelas secara bertahap.
“Ketika seorang perempuan memperoleh kesempatan mengembangkan usahanya, manfaatnya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ada keluarga yang ikut bertumbuh dan lingkungan ekonomi di sekitarnya yang ikut bergerak,” tutur Kindaris.
Keberhasilan menghimpun dana murah di tengah pasar yang menantang ini menegaskan posisi PNM sebagai jembatan penting: menyerap likuiditas pasar modal modern untuk kemudian disalurkan menjadi tetesan berkah yang menggerakkan ekonomi akar rumput Indonesia. ***

















