Di tengah limpahan dana Rp 2.548 triliun yang belum ditarik dunia usaha, Destry menawarkan jembatan integrasi antara stabilitas moneter dan mimpi besar Astacita.
Stabilitas.id — Ruang rapat Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (26/8/2026) petang terasa hening saat layar TV Parlemen memancarkan sorotan kamera ke arah Destry Damayanti. Di hadapan para wakil rakyat, Pejabat Gubernur Sementara sekaligus Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia itu tidak sekadar memaparkan lembar-lembar presentasi teknis. Ia membawa cermin besar yang memperlihatkan potret paradoksal perekonomian nasional saat ini.
Di satu sisi, perbankan nasional tampak gagah dengan benteng likuiditas yang sangat tebal. Namun di sisi lain, mesin produksi sektor riil berputar tertahan. Sebuah angka fantastis meluncur dari pemaparannya: Rp 2.548 triliun.
Angka itu bukanlah nilai pinjaman yang macet, melainkan komitmen kredit yang telah disetujui bank tetapi belum juga ditarik oleh para debitur (undisbursed loan). Porsinya menembus 21 persen dari total plafon kredit nasional. Ibarat tangki bahan bakar yang terisi penuh, mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia belum menekan pedal gas secara maksimal.
BERITA TERKAIT
Teka-teki di Balik Kebekuan Sektor Riil
Tingginya angka kredit yang mengendap menjadi sinyal bahwa simpul persoalan ekonomi hari ini bukan lagi berpusat pada ketersediaan dana di bank. Likuiditas melimpah, tetapi keyakinan dunia usaha untuk berekspansi masih diselimuti awan keraguan.
Ragu akan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, serta dinamika pasar yang masih menuntut sikap kehati-hatian. Tanpa kepastian permintaan domestik yang solid, para pengusaha memilih membiarkan fasilitas kredit mereka tetap tersimpan di atas kertas ketimbang mencairkannya menjadi pabrik baru, mesin tambahan, atau penyerapan tenaga kerja.
“Siklus ekonomi kita saat ini masih berada di bawah tingkat optimalnya. Pertumbuhan kredit masih dapat terus didorong, mengoptimalkan undisbursed loan yang saat ini mencapai Rp 2.548 triliun atau sekitar 21 persen dari plafon, serta upaya penguatan daya beli masyarakat,” ujar Destry dengan nada lugas.
Bagi Destry, mengalirkan dana Rp 2.548 triliun ke nadi perekonomian bukan sekadar tugas teknis perbankan, melainkan misi penyelamatan fungsi intermediasi. Dan titik tumpu percepatan itu, menurutnya, ada pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)—sektor akar rumput yang menjadi tulang punggung daya beli masyarakat bawah.
Merajut “Sinergi Merah Putih”
Menyadari bahwa bank sentral tidak bisa menjadi “pahlawan tunggal” di tengah kompleksitas global dan domestik, Destry membawa narasi kepemimpinan yang inklusif: “Sinergi Merah Putih”.
Gagasan ini berakar pada kesadaran bahwa stabilitas harga dan nilai tukar tidak boleh berdiri mengisolasi diri dari target pertumbuhan nasional. Bank Indonesia dituntut untuk tidak hanya menjadi penjaga stabilitas yang kaku, tetapi juga penggerak roda pertumbuhan yang berkelanjutan.
Visi tersebut ditopang oleh tiga misi utama dan lima inisiatif strategis yang dirancangnya:
Tiga Misi Utama:
- Menjaga stabilitas moneter sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi.
- Berkontribusi aktif mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan inklusif.
- Memperkuat kolaborasi lintas lembaga melalui keselarasan Sinergi Merah Putih.
Lima Inisiatif Strategis:
- Penguatan Bauran Kebijakan: Memadukan instrumen moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, serta pasar uang dan valuta asing secara harmonis.
- Revitalisasi Lalu Lintas Devisa: Memperketat dan memfokuskan pengawasan devisa berbasis teknologi digital modern.
- Pertumbuhan Ekonomi Inklusif: Membuka akses keuangan yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat.
- Inovasi Digital dan Tata Kelola: Mengakselerasi transformasi digital kelembagaan bank sentral.
- Harmonisasi dengan Astacita: Menyambungkan program kerja BI dengan agenda prioritas Pemerintah Prabowo-Gibran.
“Kami meyakini keberhasilan Bank Indonesia tidak ditentukan oleh kemampuan bekerja sendiri, melainkan kemampuan membangun Sinergi Merah Putih bersama seluruh pemangku kepentingan,” tegas Destry di hadapan anggota Komisi XI DPR RI.
Ujian Kepemimpinan di Menara Thamrin
Pemaparan Destry di Senayan memperlihatkan bagaimana kebijakan moneter kini semakin beririsan erat dengan agenda strategis nasional. Bauran kebijakan BI yang dirancangnya diproyeksikan berinteraksi langsung dengan pilar-pilar Astacita: mulai dari ketahanan pangan, hilirisasi dan industrialisasi, pengembangan SDM, hingga digitalisasi daerah.
Sebagai calon tunggal yang diusulkan Presiden Prabowo Subianto, langkah Destry Damayanti menuju kursi tertinggi di Menara Thamrin kini tinggal menunggu restu formal dari DPR RI. Namun, ujian sesungguhnya baru dimulai setelah ketok palu persetujuan dibunyikan.
Mampukah “Sinergi Merah Putih” mencairkan kebekuan kredit Rp 2.548 triliun dan menggerakkan kembali mesin ekonomi Indonesia ke performa optimalnya? Jawabannya akan menentukan arah navigasi moneter Indonesia di tahun-tahun mendatang.***

















