• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Senin, September 7, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Finance

Kejar Tambahan Relaksasi GWM 2%, Perbankan Nasional Mulai Kaji Ulang Portofolio SBN dan SRBI

oleh Sandy Romualdus
26 Agustus 2026 - 12:53
21
Dilihat
Kejar Tambahan Relaksasi GWM 2%, Perbankan Nasional Mulai Kaji Ulang Portofolio SBN dan SRBI
0
Bagikan
21
Dilihat

Bank Indonesia perbarui aturan KLM mulai 1 September 2026. Skema KLM PPU gantikan interest channel, potensi insentif GWM naik jadi 6% DPK jika porsi SBN & SRBI non-repo di bawah 19%.

Stabilitas.id – Bank Indonesia (BI) resmi meluncurkan pembaruan skema Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang dijadwalkan mulai berlaku efektif per 1 September 2026. Pembaruan ini dirancang untuk memberikan kelonggaran likuiditas yang lebih besar bagi industri perbankan nasional melalui potensi pemotongan Giro Wajib Minimum (GWM) hingga maksimal 6% dari Dana Pihak Ketiga (DPK), meningkat dari batas sebelumnya yang sebesar 5,5%.

  • Baca juga: Tok! Paripurna DPR Restui Destry Damayanti Pimpin Bank Indonesia Periode 2026–2031

Dalam struktur kebijakan yang baru, otoritas moneter meredesain skema pemberian insentif. Pertama, skema KLM Pendalaman Pasar Uang (PPU) kini hadir menggantikan skema KLM interest channel sebesar 1%.

Melalui skema PPU ini, perbankan berpeluang mengantongi insentif kelonggaran GWM hingga 2% DPK, dengan syarat utama mampu menjaga porsi kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) non-repo dalam mata uang rupiah di bawah 19% dari total pendanaan.

BERITA TERKAIT

Tok! Paripurna DPR Restui Destry Damayanti Pimpin Bank Indonesia Periode 2026–2031

Prof. Howitt dan Prof. Acemoglu Soroti Peran Bank Sentral dalam Memfasilitasi Inovasi & AI

Mengubah Sampah Jadi Rupiah: Peluang Ekonomi Sirkular UMKM Indonesia

Ikut Rapat Rutin Bulanan, Danantara Resmi Diikutsertakan dalam Pengambilan Keputusan KSSK

Sementara itu, untuk KLM Financing Channel, batas insentif atas penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas disesuaikan menjadi maksimal 4% DPK dari yang sebelumnya 4,5%. Sebagai gambaran, hingga pekan pertama Agustus 2026, akumulasi insentif likuiditas KLM yang telah disalurkan BI ke industri perbankan telah mencapai Rp 446,5 triliun.

Menanggapi pembaruan aturan dari Bank Indonesia ini, sejumlah perbankan nasional memberikan respons serta langkah antisipasi yang berbeda-beda, tergantung pada kondisi likuiditas dan neraca masing-masing.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) berada di posisi yang sangat strategis dan siap memanfaatkan aturan ini. Per Juli 2026, total kepemilikan surat berharga BTN tercatat sebesar Rp 52,06 triliun, atau hanya 11,43% dari total DPK perseroan yang sebesar Rp 455,27 triliun, dengan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 92,61%.

  • Baca juga: Prof. Howitt dan Prof. Acemoglu Soroti Peran Bank Sentral dalam Memfasilitasi Inovasi & AI

Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu menyambut positif kehadiran skema KLM PPU. Karena porsi SBN dan SRBI non-repo BTN sudah jauh berada di bawah ambang batas 19%, BTN berpotensi langsung menyerap tambahan insentif GWM secara optimal untuk memperkuat kapasitas ekspansi kredit perumahan dan inklusi keuangan.

Berbeda dengan BTN, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memegang portofolio surat berharga yang terbilang besar. Per Juli 2026, surat berharga yang dimiliki BCA mencapai Rp 419,24 triliun dengan total penghimpunan DPK jumbo sebesar Rp 1.256,72 triliun, sehingga rasio kepemilikannya berada di kisaran 33,35% terhadap DPK. Sementara itu, rasio LDR BCA tercatat sangat longgar di posisi 79,64% dengan realisasi kredit sebesar Rp 1.000,88 triliun atau tumbuh 8,38% secara tahunan.

EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn menyampaikan apresiasi atas kebijakan BI yang dinilai mengoptimalkan pengelolaan likuiditas pasar. Kendati demikian, BCA tidak tergesa-gesa memangkas portofolionya hanya demi memburu kelonggaran GWM 2%, mengingat likuiditas internal bank masih sangat solid dan ekspansi kredit tetap berjalan terukur berbasis manajemen risiko yang disiplin.

Sementara itu, PT Bank KB Bukopin Tbk (KB Bank) mencatatkan porsi kepemilikan surat berharga yang cukup dominan di dalam neracanya. Hingga Juni 2026, kepemilikan surat berharga KB Bank mencapai Rp 19,97 triliun dengan total DPK sebesar Rp 45,57 triliun, yang mencerminkan rasio porsi sebesar 43,82% terhadap DPK, di tengah rasio LDR yang berada di posisi 98,67%.

Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie menegaskan pihaknya akan berfokus pada penguatan struktur neraca dan optimalisasi penataan aset-liabilitas (Asset Liability Management/ALM). Guna beradaptasi dengan ketentuan KLM PPU, KB Bank akan memanfaatkan fleksibilitas transaksi pasar uang dan transaksi repo untuk mengelola efisiensi biaya dana (cost of fund) serta menjaga kecukupan likuiditas pendukung pertumbuhan bisnis yang sehat. ***

  • Baca juga: Mengubah Sampah Jadi Rupiah: Peluang Ekonomi Sirkular UMKM Indonesia

Ketentuan Kebijakan KLM BI & Profil Perbankan (Efektif 1 September 2026)

Parameter Regulasi & Perbankan Ketentuan Lama (s.d. Agst 2026) Ketentuan Baru (Efektif 1 Sept 2026) Porsi SBN & SRBI terhadap DPK Kesiapan & Strategi Bank
Batas Maksimal Insentif GWM 5,5% dari DPK 6,0% dari DPK – Relaksasi likuiditas untuk penyaluran kredit.
Skema Pasar Uang (KLM PPU) Interest Channel (1,0%) KLM PPU (2,0% DPK) < 19% DPK (Non-Repo) Mendorong keaktifan pasar uang antarbank/repo.
Skema Sektor Prioritas Financing Channel (4,5%) KLM Financing (4,0%) Sesuai target penyaluran Menjaga pasokan pembiayaan ke sektor riil.
Tags: BIGWMInsentif GWMInsentif GWM Perbankan 2026Kebijakan Likuiditas Makroprudensial KLM BIKLM BIKLM Pendalaman Pasar Uang PPUSBN SRBI Non Repo
 
 
 
 
 
Sebelumnya

Pasar Properti Kuartal II-2026 Melandai, Pusat Aktivitas Bergeser ke Kawasan Penyangga

Selanjutnya

Paradox Likuiditas dan Misi “Sinergi Merah Putih” Destry Damayanti 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Perkuat Sinergi dengan Danantara, Kinerja Keuangan BTN Tumbuh Signifikan di Atas Rata-Rata Industri

RUPSLB BTN Rombak Lima Kursi Direksi, Nixon Napitupulu Tetap Menjabat Dirut

oleh Stella Gracia
4 September 2026 - 19:55

RUPSLB BTN menyetujui perombakan lima posisi direksi, termasuk Direktur Finance & Strategy dan Consumer Banking, sementara Nixon Napitupulu tetap menjabat...

Perkuat Strategi Beyond Mortgage, BTN Caplok Kredit Konsumer SMBC Indonesia Rp20 Triliun

Penarikan Dana SAL Ditunda, Dirut BTN Sebut Tekanan Perebutan DPK Mulai Mereda

oleh Stella Gracia
4 September 2026 - 18:39

Pemerintah menunda penarikan dana SAL di bank Himbara hingga pertengahan 2027. Dirut BTN Nixon Napitupulu sebut kebijakan ini memberi ruang...

Perkuat Customer Experience, CIMB Niaga Tebar Promo dan Gelar Engagement di Harpelnas 2026

Perkuat Customer Experience, CIMB Niaga Tebar Promo dan Gelar Engagement di Harpelnas 2026

oleh Stella Gracia
4 September 2026 - 16:40

CIMB Niaga merayakan Hari Pelanggan Nasional 2026 dan menyambut ulang tahun ke-71 dengan memperkuat fitur digital Ask OCTO serta menghadirkan...

Ekspansi Kredit BRI Tumbuh 16,2% di Triwulan II/2026, Rasio NPL Membaik Jadi 2,9%

Ekspansi Kredit BRI Tumbuh 16,2% di Triwulan II/2026, Rasio NPL Membaik Jadi 2,9%

oleh Stella Gracia
3 September 2026 - 22:38

Penyaluran kredit BRI mencapai Rp1.646 triliun pada Triwulan II/2026 atau tumbuh 16,2% yoy, melampaui pertumbuhan rata-rata kredit perbankan nasional sebesar...

Dorong Ekosistem GovTech, BNI Pangkas Proses Verifikasi Edukasi Hingga 70%

Dorong Ekosistem GovTech, BNI Pangkas Proses Verifikasi Edukasi Hingga 70%

oleh Stella Gracia
3 September 2026 - 20:50

BNI memenangkan tiga penghargaan internasional di GovMedia Awards 2026 Singapura berkat inovasi Integrated Financial Portal dan BNIsmart Education dalam mendukung...

Rasio Modal Negatif, OJK Cabut Izin Usaha PT BPRS Gaido Indonesia

Perkuat Ekosistem Syariah, CIMB Niaga Syariah Kenalkan Layanan Waris Islam dan Kartu Mastercard World

oleh Stella Gracia
3 September 2026 - 18:38

CIMB Niaga Syariah meluncurkan program "Kajian Ruang Bermakna" di Cinema XXI Botani Square Bogor bersama Habib Ja'far sekaligus memperkenalkan layanan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cetak Duta Literasi Keuangan, OJK Integrasikan Kecakapan Finansial ke Dasa Dharma Pramuka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cetak Sejarah, Bale Syariah BSN Jadi Mobile Banking Pertama Bisa Top Up KMT Commuter Line

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Sinyal Hawkish The Fed Membingungkan Pasar, Keputusan Suku Bunga September Bergantung Data Inflasi

MARKET INSIGHT : IHSG Melesat ke 6.667 & Emas Antam Tembus Rp 2,71 Juta

JPMorgan Patok Target IHSG 7.000 di Akhir 2026, Soroti Resiliensi Emiten dan Disiplin Fiskal

BI Guyur Insentif Likuiditas Rp446,5 Triliun, KSSK Minta Perbankan Genjot Kredit UMKM

RUPSLB BTN Rombak Lima Kursi Direksi, Nixon Napitupulu Tetap Menjabat Dirut

AAUI Soroti Target OJK dan Tantangan Reasuransi di Tengah Tergerusnya Laba Industri

Penarikan Dana SAL Ditunda, Dirut BTN Sebut Tekanan Perebutan DPK Mulai Mereda

Perkuat Customer Experience, CIMB Niaga Tebar Promo dan Gelar Engagement di Harpelnas 2026

Arah IHSG, Nasib Rupiah, dan Prospek Saham Blue Chip Jelang Akhir Pekan

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya
Paradox Likuiditas dan Misi “Sinergi Merah Putih” Destry Damayanti 

Paradox Likuiditas dan Misi "Sinergi Merah Putih" Destry Damayanti 

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance