JAKARTA, Stabilitas— Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyebut kondisi perekonomian Indonesia saat ini berbeda dengan Global Financial Crisis tahun 2008 dan Krisis Moneter Asia tahun 1998.
“Kondisi yang terjadi saat ini bersumber dari aspek kemanusiaan karena pandemi COVID-19 yang kemudian berdampak ke sektor ekonomi dan keuangan secara global. Semakin cepat dalam mengatasi pandemik COVID-19, maka dampak ke sektor ekonomi dan keuangan semakin cepat diminimalisir,”ujar Pery melalui video conference di saluran YouTube Bank Indonesia (BI).
Perry juga menegaskan dampak pelemahan rupiah terhadap inflasi sangat minima dan inflasi tetap terkendali karena ketersediaan pasokan yang cukup dan dampak output gap terhadap inflasi yang rendah serta kredibilitas kebijakan moneter untuk memastikan stabilitas harga dan sasaran inflasi 3 persen tercapai termasuk melalui koordinasi bersama TPIP dan TPID.
“Pelemahan rupiah saat ini bersifat temporer karena kepanikan global,”ujarnya.
Perry melanjutkan, pada hari ini nilai tukar rupiah mengalami penguatan dan bergerak stabil serta diperdagangkan pada kisaran Rp16.250
“IHSG juga terpantau mengalami penguatan. Tak hanya itu, aliran modal asing, investor asing tercatat mulai membeli surat berharga di pasar sekunder dan posisi outflow menurun,”bebernya.
Perry menyakinkan, BI akan terus berkoordinasi secara erat dalam melakukan langkah tersebut bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), termasuk memperkuat Protokol Manajemen Krisis (PMK).
“BI akan terus memperkuat koordinasi ini dengan Pemerintah dan OJK untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran COVID-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan,”pungkasnya.

















