Stabilitas.id – Pergerakan pasar valuta asing (valas) utama dunia diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Investor global saat ini memasuki fase mencermati (wait and see) menanti penandatanganan resmi kesepakatan damai antara AS dan Iran, yang sukses mengikis premi risiko (safe-haven premium) mata uang the greenback.
Berdasarkan data Trading Economics, indeks dolar AS terpantau kehilangan taji setelah Washington dan Teheran dilaporkan sepakat menghentikan konflik militer secara permanen serta membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Kondisi ini memicu kembalinya selera risiko investor (risk-on) untuk mengalirkan modal ke mata uang sirkulasi utama lainnya.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mencermati, selain faktor geopolitik, pasar valas global tengah mencerna bauran kebijakan pengetatan moneter dari sejumlah bank sentral dunia. Langkah penyesuaian bunga oleh Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of Japan (BoJ) dinilai sudah diantisipasi secara penuh (priced in) oleh pelaku pasar.
BERITA TERKAIT
“Investor untuk saat ini masih menahan diri untuk kepastian dan klarifikasi kesepakatan tersebut, dan wait and see hingga ditandatangani secara resmi,” ujar Lukman, dikutip Rabu (17/6/2026).
Apabila kesepakatan damai AS-Iran terealisasi penuh pada sisa tahun ini, pergerakan mata uang utama dunia diproyeksikan bergerak menuju level fundamental baru pada kuartal III/2026 dengan rincian sebagai berikut:
| Pasangan Valas (Pairing) | Posisi Terkini (Selasa, 16/6) | Performa Year-to-Date (YTD) | Proyeksi Kurs (Kuartal III/2026) |
| EUR/USD | 1,1601 | Terkoreksi -1,40% | 1,17 – 1,18 |
| GBP/USD | 1,3419 | Terkoreksi -0,49% | 1,35 – 1,36 |
| AUD/USD | 0,7064 | Menguat +5,53% | 0,72 – 0,73 |
| USD/JPY | 160,27 | Menguat +2,25% | 155 – 160 |
| USD/CHF | 0,7947 | Menguat +0,35% | 0,77 – 0,78 |
Sentimen Penopang
Research and Development ICDX Muhammad Amru Syifa menambahkan, penguatan euro (EUR) mendapat bahan bakar ganda. Selain memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS sebagai aset lindung nilai (hedging), euro disokong oleh langkah agresif ECB yang menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir pada 11 Juni lalu.
Revisi naik terhadap proyeksi inflasi kawasan Eropa untuk periode 2026 dan 2027 kian memperkuat ekspektasi pasar bahwa ECB masih akan mempertahankan sikap moneter ketat (hawkish) pada beberapa pertemuan ke depan.
Di sisi lain, penguatan poundsterling (GBP) diprediksi berjalan lebih terbatas akibat bayang-bayang perlambatan ekonomi domestik Inggris yang mencatatkan kontraksi 0,1% pada April, ditambah tingginya tensi politik menjelang pemilu sela.
“Meski demikian, sentimen pelemahan dolar AS untuk sementara masih menjadi faktor dominan yang menopang pergerakan GBP/USD,” terang Amru.
Sementara itu, dolar Australia (AUD) dinilai sebagai mata uang paling sensitif terhadap perubahan risiko global. Walau meredanya perang di Timur Tengah berpotensi menekan harga komoditas energi seperti batu bara, AUD diproyeksikan tetap perkasa ditopang oleh solidnya harga komoditas bijih besi dan emas di pasar internasional.
Fokus pasar valas global kini beralih sepenuhnya pada rilis keputusan Federal Reserve (The Fed) mendatang yang diharapkan memberikan sinyal baru mengenai arah kebijakan suku bunga AS di paruh kedua tahun fiskal 2026. ***

















