Pemerintah mengusulkan target pertumbuhan ekonomi 6% dalam RAPBN 2027 dengan defisit 2,4% dari PDB. Belanja negara dirancang sebesar Rp4.097,2 triliun.
Stabilitas.id – Pemerintah secara resmi memasang target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Target ekspansif tersebut dibarengi dengan komitmen menjaga disiplin fiskal melalui usulan defisit anggaran sebesar 2,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa postur RAPBN 2027 dirancang sebagai instrumen untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di tengah bayang-bayang ketidakpastian serta risiko geopolitik global.
“APBN sebagai instrumen utama kebijakan fiskal memegang peranan yang sangat strategis. APBN memiliki fungsi ganda, pertama sebagai peredam guncangan (shock absorber) untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional dan daya beli masyarakat,” ujar Purbaya dalam Rapat Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2026).
BERITA TERKAIT
Dalam struktur RAPBN 2027, pemerintah mengusulkan alokasi belanja negara mencapai Rp4.097,2 triliun. Sementara itu, target pendapatan negara ditetapkan sebesar Rp3.426 triliun. Postur anggaran tersebut akan difokuskan untuk mendanai delapan klaster program kerja prioritas nasional dan satu program pendukung yang mencakup 60 program kerja.
Guna menutup celah pembiayaan dan memperlebar ruang fiskal, pemerintah akan menempuh langkah intensifikasi dan ekstensifikasi perpajakan, integrasi data berbasis teknologi informasi, peningkatan kepatuhan wajib pajak, hingga diversifikasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Dorong Transformasi Berbasis Produktivitas
Target pertumbuhan 6% pada 2027 dinilai realistis setelah ekonomi Indonesia membukukan kinerja positif sebesar 5,29% pada kuartal II/2026, atau secara akumulatif tumbuh 5,45% pada semester I/2026. Pertumbuhan pada periode tersebut disokong oleh kinerja investasi yang tumbuh 6,87%, konsumsi rumah tangga 5,06%, serta konsumsi pemerintah yang melonjak 15,97%.
Purbaya menegaskan bahwa pemerintah sependapat dengan pandangan parlemen untuk menggeser sumber pertumbuhan ekonomi menuju productivity-driven growth. Strategi ini ditempuh melalui reformasi regulasi, efisiensi sistem logistik, digitalisasi, penguatan industri manufaktur, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
“Transformasi menuju struktur ekonomi Indonesia yang lebih produktif dan menciptakan nilai tambah sangat penting untuk memperluas kesempatan kerja dan mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Asumsi Makro RAPBN 2027
Dalam penyusunan kerangka ekonomi makro RAPBN 2027, pemerintah menetapkan sejumlah indikator utama:
- Pertumbuhan Ekonomi: 6,0%
- Laju Inflasi: 2,5%
- Nilai Tukar Rupiah: Rp17.500 per dolar AS
- Yield SBN 10 Tahun: 6,9%
Pemerintah optimistis asumsi makro tersebut sanggup memelihara stabilitas perekonomian nasional, menjaga arus modal masuk (capital inflow), serta memastikan pengelolaan pembiayaan utang tetap berjalan secara prudent dan terukur. ***

















