Jakarta -PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) akan menyerahkan empat (4) transmitter responden (transponder) kepada pemerintah di tahun 2016. Transponder tersebut tak lain adalah dari satelit yang nantinya dimilki BRI. Transponder ini adalah sebuah perangkat otomatis yang menerima, memperkuat dan mengirimkan sinyal dalam frekuensi tertentu..
Seperti diketaui, BRI telah menandatangani kontrak pembelian satelit seharga Rp 2,5 triliun. Nah, satelit bank pelat merah ini akan memiliki 45 transponder, yang akan digunakan BRI untuk keperluan operasional perbankan adalah sebanyak 22-23 transponder. Sedangkan 4 transponder akan diberikan kepada pemerintah Indonesia untuk keperluan pemerintahan, seperti sensus data kependudukan, data pertanian, dan lainnya.
“Ya kami ngobrol soal satelit. Ngurusin mau pindah (transponder). Kan sudah janji mau beri 4 biji buat negara. Nah, ini lagi bahas bagaimana penyerahannya,” kata Direktur Utama (Dirut) BRI, Sofyan Basir usai menemui Staf Ahli Bidang Kebijaan Publik Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Sahala Lumban Gaol di kantor Kementerian BUMN, Senin (22/12).
Dia menambahkan, pembahasan juga meliputi teknis penyerahan sampai waktu pelaksanaan penyerahan transponder tersebut. Pembahasan antara pemerintah dengan BRI masih belum selesai.”Belum, kan 2016. Administrasinya lagi dihitung,” ujar Sofyan.
Adapun satelit yang diberi nama BRISAT itu akan menjangkau wilayah layanan Indonesia, dan negara-negara ASEAN, Asia Timur termasuk sebagian Tiongkok, sebagian Pasifik termasuk Hawaii serta Australia Barat. BRISAT akan memiliki 36×36 MHz transponder C-Band dan 9×72 Mhz Ku-band.
BRI membeli satelit tersebut dari perusahaan profesional asal Amerika Serikat, Space Systems/Loral, LLC (SSL). Sementara yang meluncurkannya adalah Arianespace yang merupakan perusahaan dari Prancis.Proses desain final dan pembuatan BRISAT akan dilaksanakan di pabrik SSL di Palo Alto, California, yang diperkirakan akan memakan waktu 24 bulan. Sehingga diperhitungkan shipment and launch campaign akan dilakukan 25-26 bulan yang akan datang atau sekitar pertengahan tahun 2016 di Kourou, French Guiana.

















