JAKARTA, Stabilitas – PT Gunung Raja Paksi Tbk secara resmi telah mencatatkan saham (listing) perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (19/9) lalu dengan kode perdagangan saham GGRP. Prosesi listing tersebut merupakan tahap akhir dari Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offering/IPO) perusahaan, di mana sebanyak 1,23 miliar saham baru dilepas ke publik dengan harga Rp840 per saham. Dari aksi korporasi tersebut, perusahaan sukses meraup dana segar sebesar Rp1,03 triliun.
“Dari dana (hasil IPO) tersebut sebesar 99,52 persen akan kami gunakan untuk pelunasan utang dan biaya operasional, sedangkan sisanya sekitar 0,48 persen untuk penguatan modal kerja perusahaan,” ujar Direktur Utama GGRP, Alouisius Maseimilian, di sela seremoni listing, di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (19/9).
Utang perusahaan itu, menurut Alouisius, didapat dari proses akuisisi aset PT Gunung Garuda yang notabene masih terafiliasi pada induk usaha yang sama, yaitu Gunung Steel Group. Dengan pelunasan utang itu, pihak GGRP pun kian percaya diri dapat lebih leluasa dalam mengembangkan bisnis sekaligus memaksimalkan berbagai potensi ke depan.
Dari asumsi tersebut, Alouisius pun yakin bakal mampu mengejar target laba di tahun 2019 ini yang telah dipatok sebesar 26 juta dollar AS, dengan proyeksi nilai penjualan sebesar 906,65 juta dollar AS pada akhir tahun nanti.
“Sedangkan untuk (target) tahun depan laba perusahaan kami yakini bakal tumbuh sekitar 48 persen menjadi US$38,5 juta, dengan (proyeksi) penjualan bakal sebesar 950 juta dollar AS, naik sekitar 4,85 persen dari proyeksi (penjualan) tahun ini,” tutur Alouisius.
Sementara itu, usai merampungkan keseluruhan proses IPO, GGRP juga tengah menyiapkan aksi korporasi lain berupa investasi besar-besaran dalam bentuk pengolahan baja baru. Proyek baru ini diinisiasi sebagai strategi perusahaan dalam rangka menghadapi gempuran baja asal China yang kian marak di pasar domestik.
“Nilai(investasi)nya mencapai Rp9,74 triliun, terdiri dari investasi mesin sekitar 220 juta euro, lalu investasi konten lokal dan sebagainya sekitar US$450 juta. Saat ini masih berupa master plan. Dalam waktu dekat baru akan signing,” ungkap Alouisius.
Dari lini pengolahan baja yang bakal dibangun tersebut, GGRP nantinya bakal mengembangkan sedikitnya tujuh jenis produk baru, diantaranya Corrugated Steel Plate (CSP), light and medium section mill dan juga piping IRW. Yang menarik, meski disiapkan untuk dapat bersaing melawan produk-produk China, pada proyek kali ini GGRP justru menggandeng rekanan dari Negeri Tirai Bambu. “Ya, untuk proyek ini kami akan berpartner dengan investor asal China. Semoga bulan depan sudah bisa signing,” tegas Alouisius.
















