Stabilitas.id – Bank Indonesia (BI) kembali merilis laporan mingguan mengenai Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah (13 Februari 2026). Dalam laporan tersebut, nilai tukar rupiah dibuka pada level (bid) Rp16.815 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi.
Posisi ini menunjukkan sedikit pergeseran dari penutupan hari sebelumnya, Kamis (12/2), di mana rupiah bertengger di level Rp16.810 per dolar AS. Meskipun ada tekanan tipis, indikator lain seperti yield SBN 10 tahun justru menunjukkan tren melandai ke angka 6,38% pada pagi ini.
Berdasarkan data resmi Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah (13 Februari 2026), BI mencatat adanya pelemahan pada Indeks Dolar (DXY) ke level 96,93. Di saat yang sama, imbal hasil atau yield US Treasury Note 10 tahun juga turun ke posisi 4,098%.
BERITA TERKAIT
Secara rinci, berikut perkembangan indikator pasar per 13 Februari 2026:
- Kurs Rupiah: Dibuka Rp16.815 (Pagi, 13/2).
- Yield SBN 10 Tahun: Turun ke 6,38%.
- Yield UST 10 Tahun: Turun ke 4,098%.
- Indeks Dolar (DXY): Melemah ke 96,93.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa bank sentral akan terus berada di pasar untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional.
“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” jelasnya melalui rilis resmi Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah (13 Februari 2026).
Selain itu, BI mengajak investor untuk memantau data aliran modal asing secara transparan melalui laman Bursa Efek Indonesia, DJPPR Kemenkeu, serta website resmi Bank Indonesia untuk data SRBI.***





.jpg)










