Stabilitas.id – Di kota-kota besar, sampah bukan lagi sekadar persoalan yang dibuang jauh dari pandangan publik. Ia hadir saban hari: menumpuk di pinggir jalan, mengendap di bantaran sungai, dan kadang menciptakan aroma yang mencuri ruang gerak di udara pagi. Bahkan data KLHK menyebutkan bahwa lebih dari 60% sampah di Indonesia berasal dari konsumsi individu dan rumah tangga, dengan 15% plastik dan 12% kertas. Di balik angka itu, terdapat gambaran keseharian yang perlahan berubah menjadi krisis.
Di sebuah gedung kantor pusat Blibli di Jakarta, pemandangan berbeda terjadi pada akhir September lalu. Alih-alih menambah daftar limbah kota, karyawan Blibli—Bliblioneers—membawa pakaian dan material tekstil yang tak terpakai. Dari kegiatan yang bernama Fashion Take Back Program ini terkumpul lebih dari 240 kg limbah tekstil. Alih-alih berakhir sebagai beban kota, bahan-bahan itu diolah menjadi rompi untuk volunteer dan komite Langkah Membumi Ecoground 2025.
Kepedulian ini tumbuh tidak dengan jargon besar, tetapi dari rutinitas sepele: membersihkan lemari, memilah pakaian, membawa sisa material dari kantor. Ada sesuatu yang berubah: gaya hidup sehat dan hidup ramah lingkungan mulai beririsan, bahkan berjalan bersama. Dan Blibli Tiket Action menjadi salah satu ruang di mana keduanya berjumpa.
BERITA TERKAIT
Ekonomi Sirkular Bukan Lagi Teori
Di kota yang pertumbuhan konsumsinya terus melesat, model ekonomi linear—ambil, pakai, buang—mulai memperlihatkan batasnya. Indonesia bahkan mencatat 2,3 juta ton limbah tekstil pada 2019, angka yang diprediksi melonjak hingga 3,9 juta ton pada 2030. Fakta ini mengingatkan kita bahwa krisis bukan hanya soal tempat pembuangan akhir yang meluber, tetapi pola konsumsi yang tak lagi seimbang dengan daya tampung bumi.
Blibli Tiket Action membaca transformasi ini bukan dengan seminar atau kampanye, tapi melalui praktik. Hasil daur ulang fashion akan kembali digunakan dalam industri acara Langkah Membumi Ecoground (LME) 2025 pada 8–9 November mendatang. Sebuah siklus yang tertutup: limbah diubah menjadi aksesori perhelatan yang sama-sama bertujuan menekan limbah.
Ignacia Chiara Irawan, Head of ESG Blibli, menyebut bahwa hanya kolaborasi lintas sektor yang bisa menciptakan ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
“Blibli Tiket percaya bahwa transisi menuju ekonomi sirkular hanya dapat tercapai melalui kesadaran kolektif dan kolaborasi lintas sektor… Dampak dari setiap aksi pun kami ukur berdasarkan standar internasional ISO 14040/44.”
Pernyataan itu menjadi penanda arah: bahwa sustainability bukan sekadar konsep besar untuk dicatat, tetapi ruang praktik yang melibatkan warga kota, komunitas, UMKM, hingga platform digital.
Lahirnya Ruang Publik Baru
Langkah Membumi Ecoground bukan diciptakan sebagai festival musiman. Ia dirancang seperti ruang publik baru yang hidup berdampingan dengan kota. Cukup berkontribusi satu bibit mangrove, pengunjung dapat mengakses aktivitas sport & wellness, workshop, hingga konser. Kontribusi kemudian dikonversi menjadi aksi ekologis bersama Jejakin.
Di sinilah filosofi kota bertemu keberlanjutan: partisipasi bukan lagi terbatas pada kampanye atau seruan moral, tapi diukur melalui aksi.
Seperti festival-festival sebelumnya, program ini dibangun untuk memecah tembok antara kampanye lingkungan dengan gaya hidup urban. Dari padel friendly match hingga workshop daur ulang, pesan yang hendak dibangun satu: berkelanjutan tidak berarti membatasi diri, tapi memperluas cara kita menjalani hidup.
Tahun ini, festival dipecah dalam empat ruang besar yang berlangsung simultan: Eco Motion (olahraga & wellness), Eco Market (produk berkelanjutan), Eco Labs (eksperimen & workshop), Eco Stage (hiburan & talkshow).
Pengunjung juga akan menemukan kinetic floor, solar-powered charging station, hingga test drive kendaraan listrik. Masing-masing menghadirkan wajah baru kota yang sedang mencari bentuk keberlanjutan.
Rangkaian pre-event adalah cara membangun momentum. Langkah Membumi Networking: Move for Good hingga roadshow kampus menghadirkan pendekatan baru: perubahan gaya hidup dimulai jauh sebelum festival berlangsung.
Gaya hidup sehat yang dulu hanya dikaitkan dengan olahraga, kini bergerak menuju kebiasaan berkelanjutan: memilih produk yang lebih bertanggung jawab, mengurangi sampah rumah tangga, mengevaluasi konsumsi pribadi.
Dan tahun lalu, 350 lebih kolaborator dari korporasi, komunitas, dan UMKM menjadi bagian dari festival ini. Semua bergerak di bawah narasi yang sama: Kota tidak bisa berlari dari masalah lingkungan, maka ia harus bertransformasi bersama.
Sustainability kerap dipahami sebagai tanggung jawab atau beban moral. Namun di Langkah Membumi, keberlanjutan hadir dalam wujud berbeda: sebagai ruang rekreasi, ruang komunitas, dan ruang refleksi hidup kota. Kita melihat gerakan ini bukan sekadar branding, tetapi infrastruktur sosial baru: tempat warga berkumpul, berbudaya, dan belajar.
Seperti banyak gerakan besar kota di dunia, perubahan dimulai dari tempat-tempat kecil—kantor, kampus, komunitas, taman kota. Dan kini, salah satu gerakan itu sedang bertumbuh di Jakarta. Mari jadikan gaya hidup sehat sekaligus sirkular sebagai kebiasaan sehari-hari.
Di kota yang kerap dikejar waktu, gerakan seperti ini memberi jeda: menyatukan kesehatan diri dengan kesehatan bumi.***





.jpg)










