Jakarta – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengumumkan hasil kinerja usaha yang memuaskan pada semester I tahun 2011. BCA membukukan laba sebelum beban provisi dan pajak penghasilan sebesar Rp 5,9 triliun, meningkat 24,0 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih BCA tercatat sebesar Rp 4,8 triliun, meningkat 20,4 persen dibandingkan semester I 2010. Total pendapatan bunga bersih dan pendapatan selain bunga tercatat sebesar Rp 11,3 triliun pada semester I 2011, tumbuh 17,3 persen dari semester I 2010. Marjin bunga bersih (NIM) naik 50 bps menjadi 5,6 persen dan BCA membukukan return on assets (ROA) sebesar 3,6 persen serta return on equity (ROE) sebesar 30,8 persen pada semester I 2011.
Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja menyatakan bahwa, "Kinerja usaha yang memuaskan ini merupakan cerminan dari ketangguhan model bisnis BCA di bidang perbankan transaksional. Pada semester I 2011 BCA mencatat pertumbuhan bisnis yang signifikan baik dari segi penyaluran kredit maupun aktivitas perbankan transaksional."
Portofolio kredit BCA tumbuh signifikan ditopang oleh tingkat suku bunga yang rendah, kuatnya sektor konsumsi maupun kondisi usaha yang baik. Portofolio kredit BCA tumbuh 21,4 persen YoY menjadi Rp 159,7 triliun pada Juni 2011 didukung oleh peningkatan signifikan kredit komersial, usaha kecil dan menengah (UKM), maupun kredit konsumer. Dengan demikian, rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) meningkat menjadi 55,9 persen pada Juni 2011 dari 51,4 persen pada Juni 2010.
BERITA TERKAIT
Kredit UKM & komersial meningkat 30,2 persen YoY menjadi Rp 65,7 triliun sedangkan kredit konsumer naik 27,0 persen YoY menjadi Rp 39,9 triliun pada Juni 2011. Sementara itu, kredit korporasi tercatat sebesar Rp 54,2 triliun pada Juni 2011, meningkat 9,0 persen YoY.
Ekspansi kredit konsumer BCA didukung oleh tingginya permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB). KPR meningkat 36,6 persen YoY menjadi Rp 21,0 triliun sedangkan KKB tercatat sebesar Rp 14,5 triliun, meningkat 23,6 persen YoY. Rendahnya tingkat suku bunga serta berkembangnya masyarakat kelas menengah di Indonesia baik dari segi jumlah dan pendapatan telah menciptakan permintaan kredit yang lebih tinggi dari nasabah individu.
Pertumbuhan portofolio kredit yang kuat diimbangi dengan kualitas kredit yang tetap terjaga, tercermin dari rendahnya rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 0,7 persen pada semester I 2011. Tingkat cadangan kerugian terhadap kredit bermasalah berada pada level yang memadai dengan rasio cadangan tercatat sebesar 328,6 persen dibandingkan dengan total kredit bermasalah. Hasil ini sejalan dengan upaya BCA secara konsisten dalam mengelola portofolio NPL dan memperkuat struktur manajemen risiko.
Dana pihak ketiga tumbuh 12,0 persen YoY menjadi Rp 285,7 triliun pada akhir Juni 2011 didukung oleh pertumbuhan dana giro dan tabungan, sejalan dengan peningkatan penggunaan rekening giro dan tabungan oleh nasabah untuk melakukan transaksi pembayaran. Saldo giro tercatat sebesar Rp 69,5 triliun pada Juni 2011, meningkat 17,6 persen dibandingkan dengan posisi Juni 2010, sedangkan saldo tabungan tumbuh 18,4 persen YoY menjadi Rp 151,4 triliun. Deposito turun 4,9 persen YoY menjadi Rp 64,7 triliun pada semester I 2011. Porsi dana giro dan tabungan tercatat sebesar 77,3 persen dari total dana pihak ketiga. Keandalan infrastruktur penyelesaian pembayaran dan perbankan transaksional yang dimiliki oleh BCA berhasil mendukung pertumbuhan dana pihak ketiga.
Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja menyatakan bahwa, "Di tengah kondisi perekonomian Indonesia yang kondusif, BCA berada pada posisi untuk terus membangun keunggulannya sebagai bank transaksional dengan melakukan investasi pengembangan infrastruktur maupun peningkatan kualitas produk dan layanan demi kenyamanan nasabah. Ke depan BCA akan terus memperkuat usaha dalam menyalurkan kredit dan menggali peluang-peluang bisnis baru untuk memenuhi berbagai keinginan dan kebutuhan nasabah."

















