JAKARTA, Stabilitas.id – Di tengah ketidakpastian global yang kian tajam, Chief Investment Officer (CIO) DBS membagikan strategi investasi kuartal III-2025 yang menyoroti tiga tema besar: deeskalasi pragmatis ketegangan dagang, perbedaan kinerja saham global, serta tekanan fiskal yang mengguncang pasar obligasi dan mendorong reli harga emas.
DBS memandang lanskap ekonomi global saat ini sedang mengalami peralihan penting — dari dominasi aset-aset keuangan AS menuju diversifikasi global berbasis nilai dan kualitas fundamental.
1. Aset Tetap: Obligasi Masih Menarik di Tengah Stagflasi
BERITA TERKAIT
DBS CIO mempertahankan pandangan positif terhadap obligasi, khususnya dengan pendekatan duration barbell di segmen tenor 2–3 tahun dan 7–10 tahun.
Obligasi berperingkat A/BBB dan US Treasury TIPS menjadi pilihan utama untuk menghadapi risiko stagflasi, di mana inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi melambat secara bersamaan.
“Obligasi tetap menjadi jangkar stabilitas portofolio di tengah tekanan inflasi dan fiskal,” ujar DBS dalam laporan strateginya, dikutip Rabu (9/7).
2. Saham: Teknologi AS Masih Unggul, Asia dan Eropa Menarik
DBS menegaskan keyakinan pada saham sektor teknologi AS, dengan Nvidia sebagai simbol ketahanan dan katalis AI yang terus menarik arus modal.
Namun, untuk alokasi taktis, DBS merekomendasikan overweight pada saham Eropa dan Asia (di luar Jepang) berkat valuasi menarik, dukungan fiskal, dan pertumbuhan laba yang solid.
Asia ex-Japan menawarkan potensi deep value dengan diskon 33% terhadap pasar negara maju dan proyeksi pertumbuhan laba 2025 sebesar 12,4%.
3. Emas dan Aset Alternatif: Safe Haven Baru di Era Ketidakpastian
Ketidakpastian arah kebijakan fiskal AS dan prospek de-dolarisasi global mengangkat emas sebagai primadona investasi kuartal ini, dengan target harga DBS di USD 3.765/ons pada akhir 2025.
Permintaan bank sentral terhadap emas menembus 1.045 ton pada 2024, mencerminkan langkah global menuju diversifikasi cadangan dari aset dolar AS.
Di luar emas, CIO DBS juga menyarankan eksposur ke aset privat penghasil imbal hasil seperti middle market buyouts dan growth private equity, yang dinilai tahan banting terhadap tekanan suku bunga tinggi.
4. Risiko Fiskal dan Devaluasi Dolar: Guncangan dari Washington
Strategi DBS juga mencerminkan kekhawatiran atas lonjakan defisit anggaran AS yang diperkirakan menyentuh US$1,9 triliun tahun ini, serta utang federal yang mencapai 118% dari PDB pada 2035.
Langkah kontroversial dalam 100 hari pertama pemerintahan Trump — mulai dari pemangkasan pajak DOGE hingga perang tarif terhadap China — turut memicu pelemahan dolar sebesar 9,7% year-to-date (YTD), meskipun imbal hasil obligasi AS justru melonjak.
“Pelemahan dolar dan kenaikan imbal hasil mengindikasikan pasar mulai meragukan status dolar sebagai mata uang cadangan global,” tulis DBS.
5. Fokus Tematik: Era Kemandirian Industri dan Re-shoring Global
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, DBS CIO menyoroti sektor humanoid, otomasi industri, serta pertahanan dan ruang angkasa sebagai pemenang dari gelombang re-shoring industri global dan dorongan kemandirian strategis.
DBS menyebut transisi global menuju “New World Order” sebagai peluang jangka panjang yang akan membentuk lanskap investasi selama dekade berikutnya.
Imbauan Taktis DBS CIO untuk 3Q25:
- Lintas Aset: Preferensi terhadap obligasi tetap kuat, pertimbangkan sektor berkualitas di tengah risiko stagflasi.
- Saham: Pertahankan posisi di teknologi AS, overweight pada Eropa dan Asia ex-Japan.
- Obligasi: Strategi duration barbell di A/BBB, hindari high-yield.
- Emas: Overweight, target USD 3.765/ons.
- Aset Privat: Eksplorasi aset penghasil imbal hasil di pasar sekunder dan private equity.
***





.jpg)









