Ekosistem keuangan digital dipastikan menjadi solusi agar layanan transaksi digital berjalan efektif baik bagi industri perbankan, fintech, juga nasabah sebagai pengguna. Namun persaingan dan ancaman cyber yang tetap hadir beriringan dan terus menggerogoti highly confidential dari informasi yang berada sektor keuangan. Lantas bagaimana strategi yang tepat dalam menghadapi tantangan industri keuangan digital tersebut?
Oleh Romualdus San Udika
Bank terus berevolusi dari bits and bytes menjadi perusahaan bisnis digital yakni manufaktur produk, prosesor transaksi-transaksi dan retailer jasa-jasa. Bank tidak lagi berpikir bahwa dirinya sebagai saluran kanal, tetapi bahwa bank sudah berdaya digital. Tidak ada jalan mundur atau berputar, karena Generasi D (Digital) terus bertumbuh dan semakin matang.
Sebuah survei memperkirakan kekuatan beli global kelompok ini di App dapat menjadi 4,4 triliun triliun. Kelompok ini menilai bank berdasarkan kapabilitas digitalnya dan tidak ragu untuk segera berpindah akun ke penyedia digital lain yang memiliki layanan lebih baik. Meskipun inovasi produk dan layanan dikembangkan untuk semua lapisan umur, tetapi kelompok Generasi D inilah yang mendorong dan memaksa penyedia jasa keluar dari limit dan selalu mengembangkan katalis untuk disrupsi.
BERITA TERKAIT
Saat ini, jumlah bank digital berkembang signifikan dalam transaksi atau sistem pembayaran, dan tampaknya perannya semakin besar dan menarik Generasi D hingga generasi lainnya untuk “mengkonsumsinya” sebagai kebutuhan utama. Hal ini tentunya dapat menciptakan konsekuensi dalam kebijakan sistem pembayaran, perlindungan konsumen, pengembangan produk, sekuriti dan manajemen risiko serta yang jauh lebih besar adalah penerapan tata kelolanya.
Otoritas keuangan dan moneter menyadari bahwa transformasi digital telah dan akan terus berlangsung di setiap industri, sehingga industri jasa keuangan juga perlu membangun arsitekturnya. Sebab kemajuan teknologi informasi telah menciptakan peluang-peluang baru, seperti uang digital yang dapat mempengaruhi stance kebijakan moneter.
Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah yang dibutuhkan oleh Generasi D apakah Bank Digital atau Perbankan Digital. Apakah euphoria Bank Digital ini akan seperti kasus kejatuhan dotcom pada tahun 1990-an, yang memaksa hukum alam bekerja dan fallacy of compositions?
Mengubah Lanskap Industri
Mengutip data Bank Indonesia (BI), kinerja transaksi ekonomi dan keuangan digital pada triwulan I 2025 tetap tumbuh didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal. Dari sisi transaksi, pembayaran digital pada triwulan I 2025 mencapai 10,76 miliar transaksi atau tumbuh 33,50% (yoy) didukung peningkatan seluruh komponen.
Gubernur BI, Perry Warjiro dalam siaran pers RDG BI, Rabu (23/4), menegaskan volume transaksi aplikasi mobile dan internet terus tumbuh masing-masing sebesar 34,51% (yoy) dan 18,89% (yoy). Demikian pula, volume transaksi pembayaran digital melalui QRIS tetap tumbuh tinggi sebesar 169,15% (yoy) didukung peningkatan jumlah pengguna dan merchant.
Dari sisi infrastruktur, volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST mencapai 1,07 miliar transaksi atau tumbuh 57,68% (yoy), dengan nilai mencapai Rp2.741,81 triliun. Volume transaksi nilai besar yang diproses melalui BI-RTGS tumbuh sebesar 0,69% (yoy) menjadi 2,47 juta transaksi dengan nilai Rp46.281,21 triliun.
BI juga mencatat transaksi digital melalui QRIS selama periode Ramadhan dan Idulfitri (RAFI) 2025 juga meningkat, dengan rata-rata pertumbuhan volume transaksi per pengguna mencapai 111% (yoy), lebih tinggi dibandingkan periode RAFI 2024 sebesar 76%. Sementara itu, pertumbuhan UYD selama periode RAFI 2025 mencapai 8,63% (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan 8,44% (yoy) pada periode RAFI 2024.
Dari sisi struktur industri, interkoneksi antarpelaku dalam sistem pembayaran terus menguat diikuti oleh ekosistem Ekonomi Keuangan Digital (EKD) yang meluas. Transaksi pembayaran berbasis Standar Nasional Open API Pembayaran (SNAP) juga meningkat sejalan dengan perluasan tingkat adopsi.
“Ke depan, Bank Indonesia akan terus memastikan ketersediaan, keandalan, dan keamanan SPBI serta sistem pembayaran industri. Bank Indonesia terus menjaga ketersediaan uang Rupiah dalam jumlah yang cukup dengan kualitas yang layak edar di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), termasuk daerah Terdepan, Terluar, dan Terpencil (3T),” tegas Perry.
Pertumbuhan transaksi digital tak lepas dari peran pemain bank digital semakin banyak, terhitung sudah mencapai sekitar 15 bank di Indonesia. Teranyar adalah PT Krom Bank Indonesia Tbk. (BBSI) besutan Kredivo Group, yang resmi meluncurkan layanan perbankan digitalnya, Krom, sejak akhir Februari 2024 silam. Kehadiran Krom akan mengubah lanskap industri bank digital dengan berbagai strategi dan inovasi yang dimainkan.
Menurut data Bank Indonesia yang terbaru, masih ada sekitar 48% dari penduduk Indonesia yang belum memiliki akses kepada perbankan atau unbanked. Hal ini memberikan potensi untuk digarap oleh para pemain bank digital. Namun, faktanya, banyak tantangan yang dihadapi oleh perbankan digital. Salah satunya, persaingan, terutama dengan bank-bank konvensional besar yang menguasai pasar.
Namun menurut Krom menyadari eksistensi bank digital kini bukan sekadar fenomena teknologi, melainkan kekuatan transformasional dalam lanskap perbankan nasional. Meningkatnya adopsi masyarakat terhadap layanan digital, didorong oleh efisiensi dan kemudahan akses, menjadikan bank digital sebagai aktor utama dalam inklusi keuangan.
Di tengah tren ini, Krom tampil sebagai pionir. Dengan kombinasi kinerja keuangan yang impresif, manajemen risiko yang prudent, dan inovasi teknologi berkelanjutan, Krom menegaskan posisinya sebagai bank digital yang bukan hanya tumbuh cepat, tetapi juga dikelola secara strategis dan berkelanjutan.
Bisa dilihat dari kinerja tahun 2024 sebagai tonggak penting. Didukung oleh peluncuran layanan QRIS dan BI Fast oleh Krom Bank, langkah ini menjawab tren transaksi digital yang meningkat 40,1% (YoY) pada November 2024 menurut data Bank Indonesia, dan menegaskan kesiapan Krom menghadirkan pengalaman finansial yang seamless dan relevan bagi pengguna digital-first.
Alhasil Krom Bank mencatatkan pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 125% yoy menjadi Rp965 miliar, didorong oleh ekspansi kredit yang naik 131% menjadi Rp4,25 triliun dan total aset yang melonjak 83% menjadi Rp6,65 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh hampir 9 kali lipat menjadi Rp3,16 triliun, menjadi motor likuiditas dan ekspansi bank.
Efisiensi operasional pun sangat kuat, dengan Cost to Income Ratio (CIR) hanya 18,07% dan Net Interest Margin (NIM) mencapai 20,01%. Ini menunjukkan model bisnis yang menguntungkan dan scalable, sangat penting di industri yang semakin kompetitif.
Krom pun mempertahankan NPL gross sebesar 3,12% meski terjadi ekspansi kredit, menunjukkan pengelolaan risiko kredit yang hati-hati. Rasio pencadangan naik menjadi 6,46%, dan KPMM sebesar 82,63%, jauh di atas ketentuan minimum regulator. Ini menegaskan posisi modal yang solid dan kesiapan menghadapi gejolak ekonomi.
Alhasil, Krom pun meraup laba bersih Rp120,21 miliar per Oktober 2024, tumbuh 4,18% dari tahun sebelumnya. Ke depan, industri ini masih menjanjikan. OJK dan BI memproyeksikan Pendapatan Bunga Bersih (NII) bank digital mencapai US\$3,63 miliar pada 2025, mengindikasikan potensi pertumbuhan yang sangat besar.
Dari kinerja tersebut, benar saja jika Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital di Center of Economic and Law Studies (Celios) menegaskan bahwa bank digital masih sangat relevan. “Kemudahan bank digital ditunjang dengan adaptasi teknologi yang cepat, membuat bank digital bisa menjadi primadona bagi kaum muda. Apalagi jika bank digital mulai masuk ke industri payroll. Ke depan, bisa lho gaji karyawan diberikan via bank digital atau bahkan dompet digital,” pungkas dia dalam sebuah kesempatan.
Ia menambahkan bahwa pangsa pasar bank digital masih sangat luas, karena persentase masyarakat yang menggunakan layanan perbankan secara digital masih rendah. Persaingan akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan membangun ekosistem digital, bukan hanya aset besar.
Seperti ditegaskan Arianto Muditomo, pengamat perbankan dan praktisi sistem pembayaran, bahwa “Bank digital memiliki keunggulan dalam melayani kebutuhan kapan saja dan di mana saja. Mereka juga punya keleluasaan dalam pengembangan produk dan fitur.” Namun, ia mengingatkan bahwa bank konvensional yang menyediakan layanan digital juga tetap memiliki kekuatan signifikan, terutama karena basis nasabah yang loyal dan skala yang besar.
Jurus Adaptif
Maka dari itu, menghadapi tantangan 2025, Krom menyusun strategi adaptif untuk tetap relevan dan tangguh. Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan, menegaskan bahwa persaingan semakin tajam, ditambah tekanan eksternal seperti ketegangan geopolitik dan pelemahan daya beli domestik. “Dengan pendekatan yang tepat, ketidakpastian dapat diubah menjadi peluang pertumbuhan,” ujar Anton Hermawan dalam siaran pers, 10 Februari 2025.
Anton menyoroti potensi pengetatan likuiditas sebagai dampak dari inflasi harga barang yang menekan simpanan nasabah, sehingga menyebabkan penurunan DPK dan perlambatan pertumbuhan kredit. Untuk menjawab tantangan ini, Krom menawarkan deposito fleksibel yang menyesuaikan kebutuhan nasabah—strategi yang mencerminkan kepekaan terhadap dinamika pasar.
Jika Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,75%, seperti yang diperkirakan, Krom siap memanfaatkan momen ini untuk mendorong pertumbuhan kredit dan membantu pemulihan daya beli masyarakat.
Anton juga mengingatkan, persaingan suku bunga simpanan yang tinggi bisa menjadi pedang bermata dua: efektif menarik dana, tetapi membebani margin jika tidak dibarengi strategi jangka panjang. Oleh karena itu, diversifikasi produk menjadi pilar utama: menciptakan layanan keuangan bernilai tambah agar bank tetap kompetitif tanpa mengorbankan stabilitas finansial.
Di sisi lain, ketidakpastian global akibat geopolitik, proteksionisme, dan fluktuasi harga komoditas menciptakan volatilitas yang dapat memengaruhi industri keuangan nasional. Anton menegaskan pentingnya manajemen risiko yang proaktif dan diversifikasi aset agar Krom tetap tangguh menghadapi guncangan eksternal. “Strategi kami tidak hanya reaktif terhadap pasar, tetapi juga proaktif dalam memperkuat ketahanan dan menjaga momentum pertumbuhan,” demikian Anton.
Seperti yang telah dilakukan sejak pada 2024, ketika Krom meluncurkan layanan QRIS dan BI Fast, sebagai upaya memperluas akses transaksi digital dan memperkuat kepercayaan nasabah. Di tengah tren transaksi digital yang naik 40,1% (YoY) pada November 2024 (data Bank Indonesia), langkah ini mengukuhkan posisi Krom sebagai platform keuangan digital terpercaya dan responsif terhadap kebutuhan pasar.
Nah, tahun 2025 adalah babak baru. Krom menyadari bahwa tahun 2025 bukan sekadar mempertahankan pertumbuhan. Ini adalah tahun perluasan pengaruh, inovasi, dan inklusi. Dengan fondasi yang kokoh, strategi adaptif, dan eksekusi yang presisi, Krom Bank bersiap menjadi pelopor bank digital masa depan Indonesia.
Dengan semua pencapaian dan strategi tersebut, Krom Bank tampak siap memimpin dalam ekspansi ke segmen ritel dan UMKM, pengembangan layanan digital yang makin personal, peningkatan efisiensi dan daya saing berkelanjutan, serta kemitraan strategis untuk memperkuat ekosistem digital. “Kami tidak hanya bertahan, kami ingin memimpin. Kami siap menjawab tantangan dengan inovasi dan menjadikan Krom sebagai bank digital pilihan utama di Indonesia.” Tegas Anton Hermawan. ***






.jpg)










