IHSG dibuka menguat 0,33% ke level 6.297 di tengah penantian pasar terhadap keputusan suku bunga BI perdana di bawah kepemimpinan Destry Damayanti.
Stabilitas.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan ketahanannya pada pembukaan perdagangan Rabu (23/9/2026). Indeks pasar modal ini merangkak naik 20,91 poin atau 0,33 persen menuju level 6.297,95. Penguatan awal ini menjadi sinyal kehati-hatian investor dalam memitigasi risiko volatilitas global di lantai bursa.
Manuver para pemodal sukses mengerek IHSG melaju lebih tinggi hingga 0,61 persen beberapa menit paska-pembukaan. Nilai transaksi pada sesi awal tercatat menyentuh angka Rp94,34 miliar. Sebanyak 175,62 juta lembar saham telah berpindah tangan melalui 22.137 kali transaksi.
Fokus utama pelaku pasar kini bermuara pada pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Rapat Dewan Gubernur (RDG) kali ini menjadi momen krusial dan ujian tata kelola moneter perdana bagi Destry Damayanti. Gubernur BI definitif yang baru dilantik pada 2 September lalu ini memikul beban berat untuk menakhodai stabilitas makroekonomi nasional.
BERITA TERKAIT
Ancaman lonjakan inflasi dan ketidakpastian global membuat tren suku bunga tinggi (higher for longer) kembali membayangi pasar. Jajak pendapat pasar merekam delapan dari 11 institusi memproyeksikan BI Rate akan tetap bertahan di level 5,75 persen. Tiga responden lainnya justru mengantisipasi langkah agresif berupa kenaikan 25 basis poin (bps) menuju 6,00 persen.
Pucuk pimpinan otoritas moneter tersebut sejatinya telah memegang cetak biru mitigasi risiko sejak RDG bulan lalu. “Keputusan menahan bunga sejalan dengan upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global akibat perang di Timur Tengah,” tegas Destry memberikan pandangan strategisnya. Regulator moneter wajib meredam tekanan terhadap rupiah yang sempat terperosok ke posisi Rp17.850 per dolar AS pada penutupan Selasa kemarin.
Stabilitas pasar juga terus diuji oleh anjloknya harga minyak mentah dunia selama lima hari berturut-turut. Harga minyak jenis Brent ambles 1,09 persen menjadi US$99,25 per barel, sementara WTI terkoreksi 1,3 persen ke US$94,5 per barel. Penurunan biaya energi ini sayangnya gagal meredam keperkasaan indeks dolar AS yang justru menanjak ke level 100,601.
Kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (US Treasury) menuju 4,967 persen kian mempertebal risiko penarikan modal asing (capital outflow). Regulator moneter dan pelaku pasar dituntut menerapkan manajemen risiko investasi yang sangat presisi. Ketahanan fundamental domestik akan menjadi benteng utama agar ekonomi nasional tidak terseret ke dalam pusaran krisis global. ***
















