Jakarta – Produk premier nonmigas akan menjadi perhatian utama pemerintah dalam mengatasi defisit neraca perdagangan selama satu tahun kedepan. “Kita akan kejar produk premier yang selama ini mendominasi dari produk nonmigas,” ujar Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel, di Jakarta, Jumat (2/1).
Selain itu, pemerintah mengusahakan produk manufaktur yang akan dinaikkan untuk mendorong investasi. Rachmat juga mengatakan pihaknya akan membantu industri-industri kecil menengah (IKM) untuk menghasilkan produk tersebut.
Seperti yang telah diketahui Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2014 defisit sebesar US$425,7 juta. Jumlah itu berbanding terbalik dengan neraca perdagangan pada bulan sebelumnya yang surplus sebesar US$0,02 miliar.
Menurut Rachmat neraca perdagangan yang defisit tersebut dipicu oleh penurunan harga minyak dunia. Penurunan harga itulah yang mempengaruhi kinerja ekspor Tanah Air. Sementara itu, Bank Indonesia mengemukakan neraca perdagangan Desember 2014 bisa mengalami defisit kembali. “Ini harus ditangani secara struktural,” tandas Gubernur BI, Agus Martowardojo
Kepala BPS Suryamin dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta Pusat, Jum’at (2/1) mengatakan defisit neraca perdagangan dipicu oleh defisit di sektor migas sebesar USD1,36 miliar. Meskipun, neraca perdagangan sektor nonmigas surplus USD0,94 miliar.
Hal ini pun dikarenakan impor November lebih besar dari ekspor yakni USD14,04 miliar, meskipun nilai impor turun 8,39 persen atau USD1,28 miliar. Ekspor Indonesia November tercatat sebesar USD13,61 miliar atau menurun 1,29 persen dibanding Oktober 2014 sebesar USD 15,34 miliar.
Sementara dari sisi volume perdegangan, pada November mengalami surplus 33,92 juta ton. Hal tersebut didorong oleh surplusnya neraca sektor nonmigas 35,17 juta ton meski sektor migas alami defisit 1,25 juta ton.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Sasmito Hadi Wibowo menilai untuk bulan berikutnya neraca dagang Indonesia akan mengalami perbaikan. Dirinya mengatakan, umumnya Desember akan terjadi perbaikan pada ekspor dan juga impor. “Mungkin seimbang naiknya ekspor dan impor sehingga mudah-mudahan harapannya gak terjadi defisit juga di Desember,” jelas Sasmito.





.jpg)










